Prospek Ekonomi Global Tak Secerah Dulu

"Waktu yang tepat untuk memperbaiki atap adalah saat matahari sedang bersinar."
Dwi Nicken Tari | 07 Oktober 2018 20:39 WIB
Kantor pusat International Monetary Fund (IMF) di Washington, AS. - Reuters/Yuri Gripas

Bisnis.com, JAKARTA - "Waktu yang tepat untuk memperbaiki atap adalah saat matahari sedang bersinar."

Acap kali kalimat tersebut diucapkan oleh Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) di sepanjang tahun ini. 

Kembali dia menyampaikannya dalam kata sambutan dalam Laporan Tahunan IMF 2018 Tinjauan Umum: Membangun Masa Depan Bersama menjelang perhelatan IMF-WBG Annual Meetings pada 8—14 Oktober 2018 di Bali, Indonesia, bahwa dunia harus memanfaatkan peluang di mana ekspansi ekonomi tengah melaju untuk menjaga momentum.

“Peluang saat ini masih terbuka. Untuk menjaga momentum, negara-negara perlu mengurangi risiko keuangan dan fiskal dengan memperkuat ketahanan sektor keuangan dan membangun kembali ruang kebijakan,” tulis Lagarde, seperti dikutip, Minggu (7/10/2018).

Pekan lalu, IMF telah memberikan sinyal bakal memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dan tahun depan. 

Tiga bulan setelah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia dapat mencapai level 3,9% pada 2018 dan 2019, Lagarde memberikan sinyal di Washington bahwa dia tidak lagi begitu optimistis.

The Fund selanjutnya dijadwalkan merilis World Economic Outlook versi terbaru pada 9 Oktober 2018 saat pembukaan IMF Annual Meeting di Bali, Indonesia.

“Enam bulan lalu, saya menunjukkan ada awan hitam risiko di atas cakrawala. Hari ini, beberapa dari risiko itu mulai menjadi nyata,” kata Lagarde, berdasarkan persiapan kata sambutannya, seperti dikutip Bloomberg,.

Adapun Lagarde menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi global selama beberapa tahun terakhir memang telah memberikan banyak harapan, di antaranya memberikan prospek peningkatan lapangan kerja dan standar kehidupan yang lebih baik di sebagian besar negara-negara anggota IMF.

Namun demikian, kini beberapa risiko mulai mengancam, seperti eskalasi tensi dagang, gundukan utang pemerintah dan swasta, gejolak pasar keuangan, dan kondisi geopolitik.

Untuk itu, Lagarde mengimbau agar negara-negara harus terus mendorong jalannya sistem perdagangan multilateral yang terbuka dan berbasis aturan, mengupayakan teknologi baru yang dapat memberikan manfaat bagi semua, pertumbuhan inklusif dan stabilitas keuangan. 

Adapun untuk jangka panjang, Lagarde menyebutkan bahwa momentum ekonomi global saat ini telah berada di bawah tekanan akibat terkikisnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga.

“Padahal kepercayaan sungguh merupakan urat. nadi dari perekonomian mana pun,” tulis Lagarde.

Adapun penyebab dari turunnya tingkat kepercayaan itu berasal dari dampak krisis keuangan global yang masih membayangi, persepsi bahwa manfaat dari pertumbuhan ekonomi dan globalisasi tidak tersebar merata, kecemasan tentang pekerjaa di masa depan, peluang ekonomi, dan lemahnya tata kelola yang justru dapat memfasilitasi tindak korupsi.

Selain itu, meningkatnya populasi tua dan pendanaan skema pensiun yang lemah serta kesenjangan pendapatan yang melebat juga dapat menahan momentum ekonomi saat ini. 

Serta yang tidak kalah pentingnya adalah isu perubahan iklim yang dapat sangat merusak kesejahteraan ekonomi dalam beberapa dekade ke depan jika tidak ditangani.

“Negara- negara juga perlu tetap fokus pada berbagai tantangan tersebut yang dampaknya tidak langsung kentara karena berlangsung lama,” tulis Lagarde. 

Tag : imf
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top