Bank Indonesia Dukung Langkah Pengusaha Pakai Mata Uang Lokal

Bank Indonesia menilai langkah pengusaha dalam negeri untuk mengurangi penggunaan dolar sebagai mata uang perdagangan bilateral sebagai hal yang sangat baik.
Hadijah Alaydrus | 09 Oktober 2018 18:14 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berbicara dalam Forum Investasi Indonesia di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018). (Bisnis - Abdullah Azzam).

Bisnis.com, NUSA DUA, Bali - Bank Indonesia menilai langkah pengusaha dalam negeri untuk mengurangi penggunaan dolar sebagai mata uang perdagangan bilateral sebagai hal yang sangat baik.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mulai mendorong agar perdagangan Indonesia dengan negara lain, terutama China, untuk mengunakan mata uang renminbi atau yuan. Hal ini dimaksud untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Seperti yang diketahui, normalisasi suku bunga Fed Fund Rate dan perang dagang telah mendorong likuiditas dolar AS di pasar global semakin ketat. 

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengungkapkan semangat penggunaan mata uang lokal sebagai alat pembayaran perdagangan sebenarnya sangat didorong oleh bank sentral. 

"Apapun mata uangnya, kita sudah punya bath dan ringgit sebagai local currency settlement," papar Dody di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 di Bali, Selasa (9/10).

Pasalnya, BI juga melihat hal ini sangat positif untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Itu adalah bagian dari program BI melakukan kerjasama perjanjian local currency settlement (LCS) dengan Thailand dan India. Adapun perjanjian LCS dengan China, BI belum memiliki perjanjian khusus. 

"Dengan China nanti kita lihat seberapa jauh. Tetapi dengan China, kita punya bilateral currency swap arrangement [BCSA] dengan China," ujar Dody. 

Perpanjangan perjanjian BCSA dengan China mungkin akan dilakukan dalam waktu dekat, setelah bulan Oktober 2018. Masa BCSA Indonesia dengan China ini akan habis pada 2019, sehingga harus segera diperbarui. 

BI telah melakukan kerjasama BCSA dengan China sejak 2009. Nilai kerjasama rupiah-renmimbi swap line tersebut mencapai Rp 175 triliun atau RMB100 miliar. Saat itu, penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Gubernur Bank Indonesia, Boediono dan Gubernur People's Bank of China (PBC)  Zhou Xiaochuan di China pada Maret 2009. 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top