Tensi Dagang Hambat Prospek Ekonomi Global, IMF Pangkas Proyeksi

Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan bahwa laju stabil yang dinikmati oleh ekonomi global sejak pertengahan 2016 memang masih berlanjut, tapi kini ekspansinya telah menjadi kurang seimbang dan bahkan telah mencapai puncaknya di beberapa ekonomi utama dunia.
Dwi Nicken Tari | 09 Oktober 2018 08:40 WIB
Kepala Ekonom IMF, Maurice Obstfeld (tengah) saat menyampaikan Economic Outlook 2018 dan 2019, di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018). IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global dari 3,9% April lalau menjadi 3,7%. (Rinaldi M. Azka - Bisnis).

Bisnis.com, JAKARTA - Risiko negatif (downside risk) untuk pertumbuhan ekonomi global telah mencuat sejak enam bulan terakhir, menenggelamkan prospek cerah ekonomi ke depannya.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan bahwa laju stabil yang dinikmati oleh ekonomi global sejak pertengahan 2016 memang masih berlanjut, tapi kini ekspansinya telah menjadi kurang seimbang dan bahkan telah mencapai puncaknya di beberapa ekonomi utama dunia.

IMF memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% menjadi 3,7% untuk tahun ini dan tahun depan, atau sama dengan laju ekspansi pada 2017, dalam Laporan World Economic Outlook (WEO) October 2018: Challenges to Steady Growth yang dirilis pada Selasa (9/10/2018) di Nusa Dua, Bali, dalam perhelatan Annual Meeting IMF-WBG 2018.

“Risiko untuk pertumbuhan ekonomi global telah condong ke arah negatif,” tulis IMF, seperti dikutip, Selasa (9/10/2018).

Adapun IMF menyebutkan bahwa risiko yang telah disebutkannya dalam WEO edisi April 2018, di antaranya risiko dari peningkatan hambatan dagang serta arus modal keluar dari negara berkembang (emerging market) yang memiliki fundamental lemah, kini telah semakin nyata.

IMF menegaskan, eskalasi tensi dagang serta pergeseran arah kebijakan menjauhi multilateral dan sistem perdagangan berbasis aturan merupakan ancaman utama untuk prospek ekonomi global ke depan.

“Ketidakpuasan atas praktik perdagangan dan sistem perdagangan berbasis aturan telah mengiring [ekonomi global] ke sejumlah aksi dagang sejak Januari,” tulis IMF.

IMF menyayangkan bahwa pendekatan kerja sama untuk mengurangi biaya perdagangan dan menyelesaikan perselisihan tanpa mengunakan hambatan tarif dan nontarif pun sejauh ini semakin sulit ditakar.

Pasalnya, Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar di dunia telah memberlakukan sejumlah tarif impor kepada negara mitra dagangnya yang menimbulkan sejumlah aksi balasan, terbaru dengan melemparkan tarif impor sebesar 10% untuk produk impor asal China.

Lembaga keuangan global itu mengkhawatirkan perkembangan aksi dan ancaman dagang yang dipadukan dengan renegosiasi sejumlah kesepakatan dagang bebas (Free Trade Agreement/FTA) seperti NAFTA dan kesepakatan antara Inggris dan Uni Eropa telah memberikan ketidakpastian untuk biaya perdagangan di masa depan.

IMF mengingatkan bahwa intensivitas tensi dagang dan ketidakpastian kebijakan dapat memukul sentimen bisnis dan pasar keuangan, memicu volatilitas pasar, serta memperlambat investasi dan perdagangan.

“Meningkatnya hambatan dagang dan merusak rantai penawaran global, yang telah menjadi bagian integral dari proses produksi dalam sedekade terakhir dan memperlambat penyebaran teknologi baru, yang akhirnya menurunkan produktivitas dan upah global,” terang IMF.

Selanjutnya, IMF memperkirakan dampak hambatan dagang akan mulai membebani aktivitas ekonomi, khususnya Amerika Serikat, pada 2019. IMF pun memangkas outlook ekonomi Negeri Paman Sam pada tahun depan sebesar 0,2% menjadi 2,5%.

Adapun pada tahun ini, ekonomi AS masih akan memetik manfaat dari stimulus fiskal yang dialirkan oleh pemerintah sejak tahun lalu.

Berbeda dengan AS, kawasan negara maju lainnya mulai memperlihatkan laju moderat pada awal tahun ini. IMF mencatat, data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan pada paruh pertama tahun ini telah membuat outlook ekonomi pada 2018 untuk Zona Euro dan Inggris diturunkan, masing-masing menjadi 2,0% dan 1,4%.

Di sisi lain, IMF menunjukkan, prospek jangka menengah secara umum masih kuat di negara berkembang Asia kendati laju pertumbuhan di beberapa negara mulai tertekan, khususnya untuk pertumbuhan per kapita yang terdiri dari negara eksportir komoditas.

“Negara berkembang Asia terus mencatatkan pertumbuhan kuat, ditopang oleh naiknya permintaan domestik di India, dari laju terendah selama 4 tahun pada 2017, meskipun aktivitas ekonomi di China melaju moderat sebagai respons dari pengetatan regulator untuk sektor properti dan keuangan nonbank,” tulis IMF.

Namun, prospek ekonomi emerging market juga dipangkas oleh IMF sebesar 0,2% menjadi 4,7% pada tahun ini dan diturunkan sebesar 0,4% menjadi 4,7% pada tahun depan karena ancaman risiko dari tensi dagang.

PENGETATAN LIKUIDITAS

Adapun setelah bertahun-tahun didukung oleh lingkungan keuangan yang suportif, IMF mengingatkan bahwa perekonomian global tetap rentan terhadap kondisi keuangan yang tiba-tiba mengetat dipicu oleh pengetatan kebijakan moneter yang agresif di negara maju maupun dari risiko lain yang dapat menggeser sentimen di pasar.

"Hal itu dapat menguak kerentanan yang telah terakumulasi sepanjang tahun, merusak keyakinan dan investas [kunci utama untuk perkiraan dasar pertumbuhan]," tulis IMF.

Adapun sekarang ini, pengukuran nilai ekuitas pun telah semakin meregang di pasar, dengan investor beramai-ramai memindahkan kelas asetnya ke yang lebih berisiko dalam upaya mencari yield dan jumlah perusahaan dengan peringkat investasi rendah di negara maju naik signifikan.

“Di beberapa negara berkembang, ada pula kekhawatiran mengenai meningkatnya liabilitas kawasan dan meningkatnya ketidakseimbangan neraca berjalan,” tulis IMF.

Oleh karena itu, pengetatan kondisi keuangan global dikhawatirkan IMF dapat menekan negara-negara berkembang yang rentan dan menghambat laju pertumbuhan.

Adapun data inflasi yang kuat dari yang diperkirakan di AS, misalnya, dapat membuat pasar berekspektasi atas kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS. IMF mengingatkan dampak negatifnya nanti adalah hal itu dapat memicu gejolak selera risiko.

“Gejolak baru-baru ini di Turki, paduan dari tensi politik dengan AS dan latar belakang fundamental yang lemah memberikan contoh dari risiko yang disebutkan ini kepada negara berkembang lainnya,” tulis IMF.

Dengan beberapa ancaman risiko di atas, IMF menyarankan agar negara-negara berkembang perlu bersiap untuk lingkungan dengan volatilitas tinggi ke depannya.

Negara-negara berembang perlu memperkuat ketahanan lewat kolaborasi kebijakan fiskal, moneter, nilai tukar dan kebijakan prudensial untuk melonggarkan kerentanan negara terhadap kondisi keuangan global yang mulai mengetat, pergerakan nilai tukar yang tajam, dan arus modal keluar.

"Semua negara harus mengambil kesempatan untuk mengadopsi reformasi struktural dan kebijakan yang dapat menaikkan produktivitas, dengan mendorong inovasi teknologi dan difusi, menaikkan partisipasi pekerja (khususnya perempuan dan anak muda), dan berinvestasi untuk perndidikan dan pelatihan untuk membuka kesempatan kerja," tulis IMF.

Selain itu, menghindari reaksi proteksionisme dan mencari solusi bersama untuk melanjutkan pertumbuhan perdagangan barang dan jasa juga dapat menjadi esensial untuk dunia dapat melanjutkan ekspansinya.

“Kerja sama global tetap vital untuk menghadapi tantangan yang melampaui batas negara dan menyelesaikan perselisihan yang mengancam integrasi ekonomi global,” tulis IMF.

“Tanpa kebijakan inklusif, multilateralisme tidak akan selamat. Tanpa multilateralisme, dunia hanya akan menjadi tempat yang lebih miskin dan berbahaya,” tulis Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Maurice Obstfeld dalam kata pengantar terakhirnya untuk Laporan WEO.

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top