IMF: Resesi Argentina & Perlambatan Brasil Bebani Ekonomi Amerika Latin

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan bahwa resesi yang lebih dalam dari yang diperkirakan di Argentina serta pertumbuhan yang lebih lambat di Brasil akan membebani kinerja ekonomi Amerika Latin tahun ini dan tahun depan.
Renat Sofie Andriani | 09 Oktober 2018 10:54 WIB
Bendera Brasil - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan bahwa resesi yang lebih dalam dari yang diperkirakan di Argentina serta pertumbuhan yang lebih lambat di Brasil akan membebani kinerja ekonomi Amerika Latin tahun ini dan tahun depan.

Dalam laporan World Economic Outlook IMF yang dirilis pagi ini, Selasa (9/10/2018), di Bali, lokasi berlangsungnya Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018, kawasan Amerika Latin diproyeksikan akan tumbuh 1,2% pada 2018 dan 2,2% pada 2019.

Kedua perkiraan itu 0,4 poin persentase lebih rendah dari perkiraan sebelumnya pada bulan Juli. Produk domestik bruto (PDB) Amerika Latin berekspansi 1,3% pada tahun 2017.

Kondisi keuangan global yang lebih ketat membebani ekonomi Amerika Latin dan diproyeksikan menjadi yang terlemah di antara pasar negara berkembang tahun ini.

Menambah beban pada kawasan ini adalah kinerja Argentina, yang pertumbuhannya direvisi oleh IMF menjadi berkontraksi 2,6% tahun ini dan 1,6% pada 2019.

Proyeksi ini lebih buruk daripada proyeksi resmi pemerintah Argentina dengan penurunan PDB sebesar 2,4% dan 0,5% untuk masing-masing tahun ini dan berikutnya.

“Ekonomi Argentina mendapat beban dari kekeringan yang mengurangi produksi pertanian, skandal korupsi, biaya pinjaman yang lebih tinggi, dan ketidakpastian terus-menerus atas keberhasilan rencana stabilisasi yang mendasari bailout IMF,” papar IMF.

Sementara itu di Brasil, aksi mogok massal oleh para supir truk di seantero negara yang menghambat perekonomian Brasil pada bulan Mei menjadi alasan utama untuk revisi PDB negatif oleh IMF untuk tahun ini.

IMF juga memperingatkan bahwa meskipun suku bunga acuan Brasil tetap pada level terendah, kondisi pembiayaan eksternal yang lebih ketat menimbulkan risiko.

“Kebijakan moneter harus tetap akomodatif mengingat tingkat pengangguran yang tinggi,” tambah lembaga itu, seperti dikutip Bloomberg.

Tag : imf
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top