IMF Pangkas Prospek Pertumbuhan Turki, Serukan Kebijakan Komprehensif

Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas prospek pertumbuhannya untuk Turki dan menyerukan berbagai langkah untuk melindungi ekonomi negara tersebut setelah terpukul gejolak pasar dan pelemahan mata uangnya.
Renat Sofie Andriani | 09 Oktober 2018 11:36 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berdiri di hadapan para pendukungnya di Istanbul, Turki pada Minggu (24/6). - Reuters/Osman Orsal

Bisnis.com, JAKARTA – Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas prospek pertumbuhannya untuk Turki dan menyerukan berbagai langkah untuk melindungi ekonomi negara tersebut setelah terpukul gejolak pasar dan pelemahan mata uangnya.

Tekanan terhadap mata uang lira yang telah memaksa bank sentral Turki untuk menaikkan suku bunganya sekaligus membawa lonjakan inflasi, membuat IMF mengambil pandangan yang semakin suram tentang prospek pertumbuhan Turki.

Setelah ekonomi berekspansi 7,4% tahun lalu, Produk Domestik Bruto (PDB) Turki diprediksi akan bertambah 3,5% tahun ini dan hanya 0,4% pada 2019, jauh lebih rendah dari proyeksi oleh IMF pada April sebesar 4,2% dan 4% masing-masing untuk tahun ini dan tahun depan.

“Tantangan yang dihadapi Turki akan membutuhkan paket kebijakan komprehensif yang terdiri dari kebijakan moneter, fiskal, kuasi-fiskal, dan sektor keuangan,” jelas IMF dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis pagi ini, Selasa (9/10/2018).

Pelemahan terbaru pada lira dipicu oleh sanksi AS yang dijatuhkan karena penahanan seorang pendeta asal AS di Turki selama hampir dua tahun atas tuduhan spionase dan keterlibatan dalam aksi terorisme.

“Kondisi keuangan yang lebih ketat, ketegangan geopolitik, dan tagihan impor minyak yang lebih tinggi juga berkontribusi pada penurunan untuk Turki dan sejumlah negara termasuk Brasil dan Iran,” tambah IMF yang pekan ini menggelar Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018 di Bali.

Di sisi fiskal, IMF mendesak Turki untuk mengadopsi pendekatan yang lebih hati-hati terhadap kemitraan pemerintah swasta (PPP) yang digunakan untuk proyek-proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar.

“Jika perlu, jaminan pemerintah untuk membayar utang sektor swasta harus dikurangi secara bertahap dan terbatas terhadap kasus-kasus kegagalan pasar yang jelas,” jelas IMF.

Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak telah mengakui perlunya keseimbangan dalam ekonomi Turki, yang berekspansi lebih cepat dibandingkan dengan sejumlah negara lain tahun lalu.

Pertumbuhan bertenaga ekstra (supercharged) menyebabkan kemerosotan tiba-tiba dalam ketidakseimbangan seperti defisit transaksi berjalan saat ini serta memperkuat aksi jual pada pasar awal tahun ini.

Tag : turki, imf
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top