Annual Meeting IMF-WB: Perlu Upaya Global Atasi Risiko Teknologi Digital

Pemerintah menilai perlu upaya global dalam menghasilkan solusi atas risiko yang timbul atas berkembangnya teknologi digital dan mengubahnya menjadi kesempatan.
Rinaldi Mohammad Azka | 09 Oktober 2018 12:33 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan materi saat pembukaan Indonesia Investment Forum 2018 di Nusa Dua Bali, Selasa (9/10/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, NUSA DUA, Bali – Pemerintah menilai perlu upaya global dalam menghasilkan solusi atas risiko yang timbul atas berkembangnya teknologi digital dan mengubahnya menjadi kesempatan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa perlu upaya global untuk mencari solusi atas risiko yang timbul dari teknologi digital untuk menjadi keuntungan dan harus ada upaya oleh negara-negara untuk mengubah risiko menjadi kesempatan.

Hal ini disampaikan Menkeu dalam acara Pathway to Prosperity Rountable Breakfast dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank (WB) Group 2018, Acara ini membahas “Inclusive growth and international governance in the digital age.”

Menkeu mengemukakan bahwa perkembangan teknologi memiliki korelasi positif dengan perkembangan ekonomi. Namun, ada fakta bahwa teknologi tinggi menyebabkan ketimpangan antarnegara dan manfaatnya lebih banyak dirasakan negara-negara yang lebih makmur.

Perkembangan teknologi sering membawa tantangan dan kesempatan bagi perekonomian negara. Ini penting bagi negara-negara di dunia untuk memutar keadaan risiko menjadi kesempatan karena teknologi menyebabkan disrupsi atau menghambat beberapa hal seperti membuat beberapa pekerjaan menjadi tidak ada, sementara di sisi lain beberapa teknologi menghasilkan roadmap alternatif untuk perkembangan inklusif.

“Hari ini kita banyak membahas tentang kedaulatan data (data sovereignity), keamanan data dan pendidikan IT. Terkait dengan pendidikan IT, Presiden Indonesia Bapak Jokowi [Joko Widodo] membuat inisiatif mengundang Jack Ma untuk memberikan course. Sementara di Indonesia ada Gojek dan Tokopedia yang berkembang sangat cepat. Kita harus bisa catch up dengan policy,” kata Sri Mulyani, dikutip dari keterangan resmi pada Selasa (9/10/2018).

Dengan demikian, menurut Sri Mulyani, sangat penting untuk seluruh negara-negara di dunia untuk mengubah ancaman risiko terkait dengan teknologi digital menjadi keuntungan potensial dan memikirkan bagaimana langkah yang harus diambil setiap negara untuk mengambil kesempatan itu.

“Ada kebutuhan sosial di tingkat nasional maupun tingkat internasional untuk menghadapi revolusi industri baru ini yang akan menyebabkan pemerintah, warga negara dan swasta bekerjasama dan bersama-sama mempertimbangkan prinsip kerjasama kedepan dan lintas kebijakan,” ujar Sri Mulyani.

Dalam diskusi ini juga disampaikan oleh Stefan Dercon, Profesor Kebijakan Ekonomi dari Oxford, bahwa semua harus bekerja untuk meningkatkan istilah ekonomi untuk pertumbuhan inklusif dalam digital ekonomi dan langkah apa yang harus diambil.

Kemudian Nandan Nikelani, Chairman Infosys, mengatakan bahwa open source adalah solusi untuk seluruh pembangunan, tetapi penting ada upaya agar data tidak disalahgunakan oleh swasta.

Senior Fellow pada McKinsey Global Institute, Jeongmin Seong, juga mengatakan saat ini 30% hingga 40% pengeluaran masyarakat ada pada konsumsi Internet.

Hal ini menstimulasi sisi suplai dari usaha kecil dan menengah. Kondisi Indonesia adalah 35% belanja dipicu dari konsumsi oleh kaum wanita dan perkembangan teknologi telah menciptakan banyak pekerjaan, program baru, dan model baru. “E-commerce, digital finance, digital payment memerlukan investasi besar.”

Selain itu, menurut Jeongmin, pemerintah perlu membuat kebijakan terkait dengan apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam kompetisi di dunia digital.

Sri Mulyani adalah Co-Chair dari Pathway to Prosperity Commission bersama Melinda Gates, yang bertujuan menumbuhkan diskusi dan mendorong solusi antarnegara untuk membuat perkembangan teknologi semakin berguna untuk menguntungkan negara-negara miskin dan kaum marginal.

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top