IMF Soroti Perlindungan Perempuan dari Risiko Disrupsi Digital

International Monetary Fund (IMF) menyoroti pentingnya menjaga tenaga kerja perempuan terhadap risiko disrupsi teknologi.
Rinaldi Mohammad Azka | 09 Oktober 2018 18:19 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) bersama Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde kiri), dan Executive Secretary United Nation (UN) Economic Commision untuk Afrika Vera Songwe (kanan) saat diskusi tentang Pemberdayaan Wanita di Dunia Kerja pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, NUSADUA – International Monetary Fund (IMF) menyoroti pentingnya menjaga tenaga kerja perempuan terhadap risiko disrupsi teknologi.

Managing Director IMF, Christine Lagarde menyoroti bahwa saat ini sedang menghadapi era teknologi tinggi (high-tech) yang tentu akan berpengaruh cukup besar terhadap keberadaan perempuan dalam angkatan kerja. 

Menurutnya, efek ini bukan karena perempuan bersifat minoritas, akan tetapi karena mereka bekerja dalam bidang pekerjaan yang dapat diotomatisasi. Sehingga teknologi mampu menimbulkan resiko besar terhadap jumlah pekerjaan yang diisi oleh perempuan.

Hal ini disampaikan dalam diskusi panel Empowering Women in the Workplace yang diselenggarakan IMF dalam rangkaian acara Annual Meetings IMF--World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018).

Diskusi panel ini diselenggarakan untuk menyoroti, ketidakadilan gender, yang telah mengakibatkan terhambatnya potensi pembangunan negara, ekonomi dan bahkan perusahaan-perusahaan, dalam menghadapi tantangan dewasa ini. 

Sementara, Executive Secretary UN Economic Commission for Africa, Vera Songwe, mengatakan bahwa sangat penting untuk melindungi wanita dan apa yang mereka lakukan dengan ide mereka dan dengan siapa mereka ingin melakukannya, sehingga wanita dapat berkembang dan lebih meningkatkan peran ide intelektual mereka. 

Vera menceritakan bahwa mereka meningkatkan akses wanita di Tanzania terhadap listrik dan membuat tingkat tenaga kerja wanita menjadi naik. Menurutnya wanita membutuhkan akses terhadap pembiayaan, teknologi dan jasa.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawari menyatakan bahwa tanpa adanya bantuan dari kebijakan yang dapat meringankan beban para wanita, maka menggaungkan kesetaraan gender dalam angkatan kerja akan menjadi sangat sulit.   

Sri Mulyani memaparkan, kontribusi perempuan memberi manfaat baik untuk keluarga, untuk ekonomi dan untuk masyarakat. Di Indonesia, tidak ada larangan bagi perempuan untuk bekerja, tetapi masih ada pandangan patrialisme di masyarakat. Wanita masih dinilai sebagai sumber kedua pencari sumber penghasilan bagi keluarga.

Banyak perempuan muda yang sangat semangat saat mulai bekerja. Tetapi kemudian harus berhenti bekerja saat mulai menikah, hamil dan melahirkan. Mengurus rumah tangga dipandang sebagai tugas utama perempuan. Mereka harus membawa peran sebagai seorang Ibu, dan pekerjaan domestik rumah tangga dibebankan kepada perempuan.

“Di institusi kami, Kementerian Keuangan, kami telah menjadi best practice dan mendapatkan penghargaan, karena kami telah menyediakan berbagai fasilitas untuk pekerja perempuan, misalnya ruang menyusui dan tempat penitipan anak. Dengan demikian kita membantu mengurangi perasaan beban pada pekerja perempuan,” ujar Sri Mulyani. 

Sri Mulyani menuturkan terdapat stereotip perempuan lemah di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam. Padahal dia mendapati bahwa nilai akademisnya saat kuliah tinggi, tetapi tantangannya adalah bagaimana perempuan dapat bertahan saat masuk dunia kerja.\

Dia menceritakan bahwa, pada saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games baru-baru ini. Sri Mulyani menemukan bahwa cabang olah raga yang dipandang didominasi oleh atlet laki-laki ternyata banyak mendapat sumbangan medali emas dari atlet perempuan.

Sehingga menurut Sri Mulyani, Alangkah baiknya jika suatu institusi menjadikan lingkungan kantornya ramah bagi wanita. Agar para wanita dapat bekerja dengan nyaman dan dapat menunjukan seluruh potensi yang dimiliki. 

“Tanpa adanya bantuan dari kebijakan yang dapat meringankan beban para wanita, maka menggaungkan kesetaraan gender dalam angkatan kerja akan menjadi sangat sulit,” kata Sri Mulyani.

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top