IMF Nilai Indonesia Perlu Cerdas Kelola Stabilitas Keuangan

International Monetary Fund (IMF) meluncurkan laporan stabilitas finansial global pada Annual Meeting IMF-World Bank Group (WBG) 2018. Dalam laporannya, Indonesia dinilai mesti cerdas dalam menghadapi tekanan harga minyak guna menyelamatkan stabilitas finansial.
Rinaldi Mohammad Azka | 10 Oktober 2018 19:03 WIB
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, NUSA DUA -- International Monetary Fund (IMF) meluncurkan laporan stabilitas finansial global pada Annual Meeting IMF-World Bank Group (WBG) 2018. Dalam laporannya, Indonesia dinilai mesti cerdas dalam menghadapi tekanan harga minyak guna menyelamatkan stabilitas finansial.
 
Direktur Moneter dan Pasar Modal IMF Tobias Adrian menilai Indonesia memiliki kinerja makroekonomi yang kuat. IMF telah memproyeksi tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,1% untuk 2018 dan 2019. 
 
"Sekarang, tingkat pertumbuhan itu telah diturunkan sedikit karena kenaikan harga minyak. Tentu saja, karena Indonesia adalah pengimpor minyak dan itu juga salah satu alasan mengapa mata uang mengalami depresiasi [cukup dalam] tahun ini," jelasnya dalam konferensi pers di Annual Meetings IMF-WBG 2018 di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).

Dengan defisit neraca transaksi berjalan lebih tinggi dari 2%, maka kombinasi harga minyak yang lebih tinggi dan defisit transaksi berjalan menjadi penyebab pelemahan mata uang Garuda. 
 
Adrian menyarankan pasar negara berkembang seperti Indonesia untuk melakukan penyesuaian nilai tukar terhadap dolar AS. Depresiasi nilai tukar pin dapat menjadi shock abrsorber.
 
"Ketika sebuah negara dilanda guncangan yang merugikan seperti kenaikan harga minyak, membiarkan nilai tukar terdepresiasi dapat menjadi penyerap syok (shock absorber). Mengapa demikian? Pikirkanlah dari perspektif investor internasional, karena mata uang telah terdepresiasi, investasi ke Indonesia seperti utang pemerintah dalam mata uang rupiah kini menjadi lebih menarik karena mata uang telah terdepresiasi begitu banyak," tuturnya.

Adrian melanjutkan intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing untuk memastikan kondisi likuiditas tetap terjaga juga konsisten dengan nasihat IMF mengenai bagaimana menstabilkan kondisi makrofinansial.

Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah sukses rebound dari pelemahannya terhadap dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 38 poin atau 0,25% di level Rp15.200 per dolar AS.

Rupiah mulai rebound saat dibuka terapresiasi 25 poin atau 0,16% di Rp15.213 per dolar AS, pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp15.197-Rp15.227 per dolar AS.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top