Saat AS dan China 'Tebar Pesona' di Pertemuan Tahunan IMF-WB Bali 2018

Amerika Serikat dan China dinilai akan memanfaatkan kesempatan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bali pekan ini untuk mengumpulkan dukungan terkait perselisihan perdagangan di antara mereka.
Renat Sofie Andriani | 11 Oktober 2018 10:59 WIB
Presiden AS Donald Trump berinteraksi dengan Presiden China Xi Jinping di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, AS, 6 April 2017. - .Reuters/Carlos Barria TPX

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat dan China dinilai akan memanfaatkan kesempatan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bali pekan ini untuk mengumpulkan dukungan terkait perselisihan perdagangan di antara mereka.

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 189 negara anggota Dana Moneter Internasional (IMF) berkumpul di Bali pekan ini untuk pertemuan tersebut.

Selain berisikan diskusi-diskusi tentang kesehatan ekonomi global, pertemuan itu juga menjadi kesempatan bagi para pejabat pemerintahan AS dan China untuk menghimpun aliansi.

Di satu sisi ada pihak Presiden AS Donald Trump. Ia berpendapat bahwa tarif yang ditetapkannya adalah harga yang harus dibayar China. Trump ngin memaksa China menghentikan apa yang disebutnya sebagai praktik perdagangan yang tidak adil dan pencurian kekayaan intelektual.

Di sisi lain ada pihak Presiden Xi Jinping, yang telah memosisikan China sebagai pendukung globalisasi dan tatanan perdagangan yang ada.

Dalam serangkaian pidato, Xi Jinping dan sejumlah pejabat tingginya memperingatkan tentang bahaya merobek sistem itu, serta berjanji untuk secara bertahap membuka perekonomian China.

“Ini bukan perselisihan perdagangan biasa, seperti yang kita lihat dengan Jepang pada 1980-an. Ini eksistensial,” kata George Magnus, seorang ekonom di China Centre Oxford University, seperti dikutip Bloomberg.

China akan melawan tekanan AS sama seperti halnya mengatasi 'perundungan' oleh kekuatan asing lainnya di masa lalu, menurut Menteri Perdagangan China Zhong Shan kepada Bloomberg pekan ini.

Perbandingan dengan invasi terhadap China yang selama ini sering disebut sebagai "Century of Humiliation" menunjukkan bahwa pemerintah China tidak mungkin mundur dengan mudah.

Bulan lalu, pemerintah AS memberlakukan tarif pada barang-barang China senilai US$200 miliar. Langkah ini dibalas pemerintah China dengan mengenakan tarif terhadap produk-produk AS senilai US$60 miliar.

Pekan lalu, penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan bahwa Trump dan Xi Jinping bisa jadi melakukan pembicaraan dalam pertemuan G-20 pada akhir November.

“Lebih baik berbicara daripada tidak, tetapi pembicaraan itu harus serius,” kata Kudlow.

Hingga adanya terobosan diplomatik, kedua belah pihak berupaya untuk menggalang dukungan. Namun sejumlah pengamat melihat bahwa keuntungan, setidaknya untuk saat ini, terletak pada China.

“AS kalah dalam perjuangan untuk mengisolasi China dalam G-20. AS telah kehilangan kepercayaan dan menjauhkan mitra-mitra utamanya,” kata Thomas Bernes, seorang tokoh terkemuka di Pusat Inovasi Tata Kelola Internasional di Waterloo, Ontario, dan mantan Direktur Eksekutif IMF.

“Ironisnya adalah banyak negara mendukung kekhawatiran AS tetapi tindakan kebijakan AS telah menjauhkan mereka,” lanjutnya.

China menggapai Eropa dengan janji untuk meningkatkan akses pasar. Dalam pertemuan bulan Juli antara para pemimpin China dan Eropa serta para pebisnis China mendapat pujian. Cecilia Malmstrom, komisaris perdagangan Eropa, memuji janji kuat China untuk menjaga pasar tetap terbuka dan memerangi proteksionisme.

Namun Malmstrom juga menambahkan ingin melihat janji tersebut direalisasikan ke dalam tindakan yang lebih nyata.

China tentunya telah membuat beberapa langkah untuk membuka ekonominya tahun ini. China telah mengumumkan bahwa perusahaan asing dapat meningkatkan porsi kepemilikan mereka di perusahaan keuangan dan otomotif. China juga memangkas tarif impor pada berbagai barang demi menurunkan biaya bagi konsumen.

Perubahan ini juga akan mengurangi biaya bagi perusahaan asing yang ingin memproduksi atau melakukan penjualan di China.

Upaya AS

Di lain pihak, AS berupaya membangun koalisi yang lebih tradisional di antara negara-negara demokrasi pasar bebas. Bulan lalu, menteri perdagangan dari AS, Uni Eropa dan Jepang menyatakan keprihatinan bersama.

Mereka menyoroti kebijakan berorientasi nonpasar yang merugikan pekerja dan bisnis mereka serta menggerogoti perdagangan global.

Mereka juga setuju untuk membahas peraturan baru demi mengatasi pengaruh pasar yang mendistorsi perusahaan milik negara dan subsidi industri.

Ini adalah suatu kemajuan dibandingkan dengan kondisi awal tahun ketika Trump membuat lebih banyak musuh daripada teman.

Pada pertemuan G-20 dan NATO, Trump membuat jengkel sekutu-sekutu tradisional Amerika dengan tarifnya untuk baja dan aluminium serta ketidaksukaan terhadap lembaga-lembaga global.

Sejak itu, Trump telah melancarkan diskusi perdagangan formal dengan Eropa, menyetujui perjanjian perdagangan yang direvisi dengan Korea Selatan, dan memulai pembicaraan dengan Jepang.

Dia juga telah mencapai kesepakatan dengan Kanada dan Meksiko sehubungan dengan pembaharuan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

NAFTA baru, yang akan disebut Perjanjian AS-Meksiko-Kanada, berisi klausul yang memungkinkan salah satu negara untuk mengakhiri perjanjian jika salah satu dari mereka menandatangani kesepakatan perdagangan dengan negara ekonomi nonpasar.

Meski tidak menunjuk negara tertentu, klausul itu jelas bertujuan menghentikan Kanada atau Meksiko melakukan kesepakatan dengan China.

“AS sedang berusaha untuk mengisolasi China dalam perdagangan,” kata Stephen Jen, CEO Eurizon Slj Capital Ltd, sebuah perusahaan manajemen aset yang berbasis di London.

Sumber : Bloomberg

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top