Pidato Lengkap Christine Lagarde: Lanskap Perekonomian Baru, Multilateralisme Baru

Lagarde mengangkat judul pidatonya: "Lanskap Perekonomian Baru, Multilateralisme Baru" yang memberikan pandangan komprehensif terhadap situasi dan kondisi perekonomian dunia saat ini, serta prospek dan tantangannya.
Rinaldi Mohammad Azka | 12 Oktober 2018 10:54 WIB
Managing Director IMF Christine Lagarde (kedua kiri), President World Bank Group Jim Yong Kim (tengah), Director-General World Trade Organization Roberto Azevedo (kedua kanan), Director Strategy Policy and Review Department IMF Martin Muhleisen (kiri) dan Secretary-General Organisation for Economic Co-Operation and Development Angel Gurria (kanan) berfoto bersama sebelum memulai Trade Conference Session 1: Introductory Remarks di Laguna, Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018). - ANTARA/Jefri Tarigan

Bisnis.com,NUSA DUA, Bali - Christine Lagarde, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional memberikan sambutan pada acara Pertemuan Gubernur Bank Sentral, dalam rangkaian kegiatan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali pada 11 Oktober 2018.

Lagarde mengangkat judul pidatonya: "Lanskap Perekonomian Baru, Multilateralisme Baru" yang memberikan pandangan komprehensif terhadap situasi dan kondisi perekonomian dunia saat ini, serta prospek dan tantangannya.

Untuk memberikan pelayanan kepada pembaca, Bisnis menyajikan secara utuh naskah pidatonya sebagai berikut:

Selamat pagi. Yang Mulia, para Gubernur Bank Sentral yang terhormat, Rekan-Rekan dan para Sahabat: atas nama IMF, izinkan saya menyambut dengan hangat Anda semua yang hadir pada Pertemuan Tahunan 2018 kita.

Izinkan saya untuk menyambut Petteri Orpo, Ketua Dewan Gubernur IMF yang baru; dan teman baik saya Jim Kim, yang telah berhasil memimpin lembaga kembar (sister institution) kami.

Saya ingin menyampaikan penghargaan khusus kepada tuan rumah Indonesia kita—terutama Bapak Presiden Jokowi, Bapak Menteri Luhut, Ibu Menteri Keuangan Sri Mulyani, Bapak Gubernur Warjiyo, dan kepada pemimpin negara-negara ASEAN yang bersama kita pada pagi ini.

Kita semua menyadari kinerja Indonesia yang sangat mengesankan pada generasi terakhir— dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan pendapatan, dan integrasi ke dalam perekonomian global yang cepat.

Dalam beberapa hari terakhir ini, saya menjadi semakin terkesan dengan semangat dan ketangguhan Indonesia dalam menghadapi bencana-bencana alam di Lombok dan Sulawesi. Atas nama IMF, izinkan saya menyampaikan duka cita dan belasungkawa kepada semua yang telah kehilangan orang-orang yang mereka sayangi.

Para pemimpin Indonesia telah bekerja siang dan malam untuk mengurangi penderitaan para korban musibah-musibah tersebut. Dan meski demikian, mereka masih terus menunjukkan kebaikan, keramahtamahan, dan semangat kemurahan hati mereka.

Ini adalah semangat yang saya lihat tercermin pada wajah masyarakat Lombok yang saya kunjungi beberapa hari yang lalu. Ini adalah semangat Indonesia.

Dari lubuk hati yang terdalam, saya menyampaikan terima kasih. Kami semua berterima kasih.

Ada satu tradisi yang indah di Bali, yaitu canang sari, di mana masyarakat mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada para dewa untuk bersyukur dan berdoa untuk mendapatkan lebih banyak berkah. Menurut saya kita sedang melakukan suatu hal yang serupa di sini.

Kita telah datang ke Bali dari seluruh penjuru dunia untuk “memberikan persembahan” upaya kita bersama—189 negara-negara anggota lembaga-lembaga Bretton Woods. Dan waktunya sangat tepat untuk itu.

Memang, perekonomian global terus mengalami pertumbuhan yang kuat. Namun pertumbuhan ini tidak tersebar merata antar kawasan dan antar masyarakat—dan pertumbuhan itu kini sedang melandai. Beberapa risiko mulai mewujud—risiko-risiko terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan. Risiko-risiko terhadap prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga yang menjadi tumpuan kerja sama internasional, yang telah membawa begitu banyak manfaat bagi begitu banyak orang selama bertahun-tahun.

Bahkan baru-baru ini, kerja sama ini pula yang telah membantu membawa dunia kembali dari tepi krisis keuangan global yang hebat. Dan kerja sama ini terus mendorong keberhasilan kawasan ASEAN yang luar biasa.

Tentu saja, pendekatan kerja sama yang diambil ASEAN menawarkan pelajaran yang penting bagi kita semua sekarang. Mengapa? Karena ketika kita melihat dunia saat ini, kita menghadapi tantangan lanskap perekonomian baru—dalam dua dimensi.

Dimensi pertama, yang lebih kita kenal, mencakup lapisan moneter, fiskal, dan keuangan dari interaksi-interaksi ekonomi kita. Dimensi kedua, yang lebih menantang, terdiri dari ketimpangan (inequality), teknologi (technology), dan keberlanjutan (sustainability). Kedua dimensi ini bersifat makro-kritis.

Dalam menghadapi masalah-masalah ini, kebijakan-kebijakan domestik yang baik, tentu saja, adalah penting. Namun mengarungi lanskap baru ini memerlukan kerja sama internasional—suatu kerja sama yang berbeda dari sebelumnya.

Saya menyebutnya “multilateralisme baru”. Multilateralisme ini lebih inklusif, lebih berorientasi pada masyarakat, dan lebih berorientasi pada hasil.

Izinkan saya menjelaskan maksud saya.

1. Tantangan-Tantangan Makroekonomi dan Multilateralisme Baru

Pertama, tantangan-tantangan makroekonomi yang sudah lebih kita kenal. Seperti perdagangan, yang menjadi darah kehidupan perekonomian kita.

Meski kerja sama perdagangan telah mendorong periode pertumbuhan dan kesejahteraan yang belum pernah ada padanan historisnya selama lebih dari 70 tahun terakhir, belakangan ini perdagangan menghadapi serangan balik—sebagian karena terlalu banyak orang tidak ikut menikmati manfaatnya. Kami memperkirakan eskalasi ketegangan perdagangan pada saat ini dapat menurunkan PDB global sebanyak hampir satu persen pada dua tahun ke depan.

Sudah jelas bahwa kita perlu mende-eskalasi sengketa-sengketa tersebut. Namun selain itu, kita tentu perlu melakukan reformasi terhadap sistem perdagangan global untuk menjadikannya lebih baik, lebih adil, dan lebih kuat bagi semua bangsa dan semua orang.

Ini artinya kita memperbaiki sistem, bersama-sama, bukan merusaknya.

Hal yang sama juga berlaku untuk ketidakseimbangan global. Kita tahu bahwa defisit neraca transaksi berjalan yang besar adalah sisi lain dari surplus neraca transaksi berjalan. Maka melindungi stabilitas perekonomian mengharuskan bahwa negara-negara dengan defisit dan surplus yang berlebihan untuk bekerja melalui cara yang kooperatif. Laporan Sektor Eksternal ( External Sector Report) IMF yang terbaru telah menggarisbawahi hal ini.

Tantangan yang terkait adalah meningkatnya kerentanan terhadap utang. Kami mencatat baru-baru ini bahwa utang pemerintah dan swasta telah mencapai rekor $182 trilyun—224 persen dari PDB global, sekitar 60 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2007. Saat kondisi keuangan semakin ketat, angin dapat berputar haluan—terutama bagi negara-negara kekuatan ekonomi baru ( emerging markets)—mendorong terjadinya arus balik aliran modal. Dan dengan mudahnya arus balik ini dapat meningkat cepat dan bergulir melintasi batas negara—dengan dampak yang nyata bagi masyarakat.

Untuk mencegah hal ini, kebijakan-kebijakan domestik berbagai negara perlu dilengkapi dengan jaring pengaman keuangan global. Sebagian sumber daya untuk hal ini dapat datang dari pengaturan pembiayaan regional ( regional financing arrangement)—Inisiatif Chiang Mai, contohnya. Dan ini dapat dilakukan dengan diiringi lembaga yang sering diminta untuk membantu—IMF. Memastikan bahwa IMF memiliki sumber daya yang dibutuhkan memerlukan adanya kerja sama internasional.

Prinsip kerja sama ini hadir dalam semua upaya IMF—pemberian pinjaman ( lending), pemantauan (surveillance) dan pengembangan kapasitas (capacity development). Prinsip ini hadir melalui semua saran kebijakan dan dukungan yang kami berikan kepada Anda, anggota-anggota kami—dari reformasi regulasi keuangan hingga transparansi utang pemerintah; dari pengelolaan aliran modal hingga anti pencucian uang.

Di dunia yang hiper-terhubung hari ini, tidak ada negara yang dapat mengelola permasalahan-permasalahan ini sendiri. Kita perlu bekerja sama.

Dan kerja sama ada dalam DNA IMF.

2. Tantangan-Tantangan Abad 21 dan Multilateralisme Baru

Izinkan saya beralih ke dimensi kedua dari lanskap ekonomi yang berubah—ketimpangan (inequality), teknologi (technology), dan keberlanjutan (sustainability). Ketiganya bukanlah hal yang baru, namun semuanya saling terkait dan bergerak cepat lebih daripada sebelumnya.

Merespons dimensi ini sangat penting bagi stabilitas dan kemakmuran perekonomian. Namun sekali lagi, menanggapi dimensi ini secara efektif hanya dapat dilakukan melalui kerja sama.

Sebagai contoh, ketimpangan (inequality): penelitian IMF mengungkap kepada kita bahwa ketimpangan yang lebih rendah berhubungan dengan pertumbuhan yang lebih kuat, lebih berkelanjutan. Pada saat yang sama, ketimpangan yang berlebihan berhubungan dengan masyarakat yang terpinggirkan, masyarakat yang terkoyak, dan kepercayaan yang tergerus. Tidak heran mengapa banyak yang merasa marah dan frustrasi.

Mengatasi ketimpangan memerlukan kemitraan. Upaya ini mengharuskan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk bekerja bersama: untuk menumpas diskriminasi terhadap perempuan; merancang reformasi pasar tenaga kerja yang tepat; dan memperkuat reformasi sistem pendidikan, pelatihan, dan perlindungan sosialuntuk menjangkau masyarakat, bukan mengucilkan mereka, dan menyiapkan mereka menghadapi transformasi teknologi yang akan datang.

Selanjutnya teknologi: Kita tahu bahwa revolusi digital membawa harapan sekaligus bahaya yang besar. Bioteknologi, robotika, dan kecerdasan buatan akan menciptakan industri-industri dan pekerjaan-pekerjaan baru. Namun transisi ini juga akan menimbulkan gangguan dan ketidakpuasan.

Kita harus memerhatikan dampaknya bagi masyarakat.

Tekfin (fintech) tentu memiliki potensi untuk membuka dinamisme perekonomian dan mengurangi kemiskinan, terutama dengan menyediakan jasa keuangan kepada 1,7 milyar orang yang saat ini belum memiliki akses ke perbankan. [1] Namun, sekali lagi, hal ini perlu dikelola dengan hati-hatiuntuk menjaga stabilitas dan keamanan keuangan.

Dan karena digital berarti global, hal ini akan memerlukan upaya multilateral. Saya merasa yakin karena pada Pertemuan Tahunan inibersama Bank Dunia dan mitra-mitra lainkami telah meluncurkan Agenda Tekfin Bali ( Bali Fintech Agenda) untuk memandu upaya bersama kita.

Terkait keberlanjutan (sustainability): mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin negatif adalah prioritas bersama yang hanya dapat diwujudkan melalui tindakan bersama.

Hal yang sama berlaku untuk agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ( Sustainable Development Goals–SDGs), cita-cita kita bersama untuk mewujudkan dunia yang lebih baik bagi semua. Kami baru-baru ini memperkirakan bahwa pengeluaran tambahan yang diperlukan oleh negara-negara berkembang berpendapatan rendahpada sektor-sektor utama seperti kesehatan, pendidikan, air bersih, dan infrastrukturadalah sekitar $520 milyar per tahun pada tahun 2030.

Kesenjangan ini tidak dapat dijembatani tanpa kemitraanoleh negara-negara sendiri, sektor swasta, lembaga-lembaga internasional, dan lembaga-lembaga filantropi. Dan kemitraan ini harus diperluas ke pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien; memperkuat pengumpulan pendapatan; termasuk melalui upaya membendung penghindaran dan penggelapan pajak; dan pemberantasan korupsi.

Jenis kemitraan ini adalah bagian tak terpisahkan dari multilateralisme barubukan hanya karena ketegangan yang muncul dari eksklusi dan perubahan iklim yang tidak mengenal batas negara. Dalam hal ini, solidaritas justru menjadi kepentingan diri.

Multilateralisme baru juga harus bersifat lebih inklusifterbuka terhadap beragam pandangan dan pendapat. Multilateralisme baru ini harus lebih berorientasi manusia mengedepankan kebutuhan manusia. Dan harus lebih efektif dan akuntabelmewujudkan hasil bagi semua.

IMF berada di jantung multilateralisme baru ini.

Saya ingin memanfaatkan peluang ini untuk menyampaikan terima kasih kepada rekan Manajemen saya yang luar biasa; para Direktur Eksekutif yang terhormat; staf kami yang luar biasa, yang telah bekerja tanpa lelah atas nama Anda semua.

Secara khusus saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Penasihat Ekonomi kami yang akan pensiun, Maury Obstfeld. Beliau telah menjadi pemimpin intelektual, penasihat yang bijaksana, dan teman yang baik. Tak seorang pun memiliki komitmen pada multilateralisme lebih daripada beliau. Terima kasih, Maury.

Kesimpulan: Pertimbangkan Manfaat Bersama

Izinkan saya menyimpulkan:

Saya telah berbicara hari ini mengenai lanskap ekonomi baru dan perlunya multilateralisme baru. Namun saya ingin menyimpulkan dengan sebagian pepatah kuno yang ditemukan di Bhagavad-Gita.


Pepatah ini berbunyi: “Untuk semua tindakan, pertimbangkan manfaat bersama.” [2]

Jika kita melakukannya, jika kita berkomitmen untuk melakukan kebaikan bersama ini, berkah dari upaya kita bersamadari “persembahan kita” —akan kembali untuk memberi manfaat tidak hanya oleh generasi kita, namun generasi-generasi mendatang.

Bicara tentang generasi mendatang, saya ingin memberikan penghargaan khusus kepada beberapa orang. Anda sudah melihat beberapa gambar yang indah saat saya berbicara. Gambar-gambar tersebut merupakan foto pemenang pada lomba di Instagram yang diselenggarakan untuk pemuda ASEAN. Setiap foto menceritakan suatu kisahdari kegelisahan dan harapan generasi kawasan ini yang tengah bangkit.

Jadi mari kita berikan penghargaan kepada anak-anak muda dan berbakat ini. Hira, Kevin, Muhammad, Rexor—dipersilahkan berdiri....

Dan mari kita ingat bahwa multilateralisme baru ini adalah tentang masa depan mereka.

Terima kasihThank you.

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top