"Winter is Coming" versi Jokowi

Catelyn Stark menghampiri suaminya Eddard Stark atau Ned Stark, pemimpin dari House Stark. Dengan wajah resah, dia bertanya kepada suaminya, mengapa dia membawa anak bungsunya, Bran Stark, menyaksikan hukuman gantung bagi pembelot dalam Night’s Watch, pasukan penjaga The Wall.
Hadijah Alaydrus | 13 Oktober 2018 12:06 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, NUSA DUA -- Catelyn Stark menghampiri suaminya Eddard Stark atau Ned Stark, pemimpin dari House Stark. Dengan wajah resah, dia bertanya kepada suaminya, mengapa dia membawa anak bungsunya, Bran Stark, menyaksikan hukuman gantung bagi pembelot dalam Night’s Watch, pasukan penjaga The Wall.

Ned menjawab pertanyaan istrinya dengan suara berat dan pandangan dalam. Dia menegaskan Bran bukan anak kecil lagi.

“And winter is coming,” ujarnya sambil berpaling pergi.

'Winter is coming' adalah ungkapan dari House Stark yang tinggal di utara Westeros, wilayah yang termasuk dalam Seven Kingdoms, kerajaan imajinasi penulis George R.R. Martin dalam bukunya, Game of Thrones (GoT).

Ned menggunakan ungkapan ini karena dirinya merasakan adanya kemuraman besar dan panjang yang akan segera datang.

Ungkapan ini pun menjadi salah satu potongan dialog yang paling dikenang oleh banyak penggemar GoT, yang turut diangkat menjadi serial TV oleh HBO. 

Ned Stark dalam serial TV Game of Thrones (GoT)./IMDB

Dalam Rapat Pleno Annual Meeting IMF-World Bank Group (WBG) 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengadopsi kalimat tersebut di dalam pidatonya.

Jokowi menyerukan, “Winter is Coming!”

Seperti dalam serial GoT, seruan ini menggambarkan bahwa sesuatu yang besar akan datang dan ungkapan tersebut adalah peringatan dari Jokowi terhadap kondisi di pasar global saat ini.

Dia menuturkan AS menikmati pertumbuhan yang pesat ketika banyak negara mengalami pertumbuhan yang lemah atau tidak stabil.

Kondisi ini diikuti dengan fenomena perang dagang semakin marak dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang. Negara-negara yang tengah tumbuh sedang mengalami tekanan pasar yang besar.

“Dengan banyaknya masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa winter is coming,” ujarnya.

Pada layar dibelakangnya ditampilkan cuplikan gambar peperangan Battle of the Bastards yang diiringi senyum dari delegasi dan tamu negara yang hadir.

Ruang rapat pleno kembali hangat dengan tawa dan senyum ketika Jokowi kembali menekankan bahwa dirinya melihat hubungan antarnegara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti serial GoT. Aliansi antarnegara ekonomi maju yang diibaratkan seperti Balance of Power tengah mengalami keretakan.

Presiden melihat kondisi tampak jelas dengan adanya peningkatan drastis harga minyak mentah dan juga kekacauan pasar mata uang yang dialami negara-negara berkembang.

Kondisi ini digambarkan Presiden Joko Widodo seperti perang yang dialami Great Houses, Great Families dalam GoT.

Seperti diketahui, masing-masing Houses dan Families dalam serial itu saling bertarung untuk mengambil alih kendali the Iron Throne. Di sini jelas sekali, Iron Throne yang dimaksud Presiden Jokowi adalah kekuatan ekonomi dunia, superpower status.

Sambil menganggukkan kepala kepada Managing Director IMF Christine Lagarde, dia menjelaskan peran seorang Mother of Dragons yang digambarkan sebagai siklus kehidupan.

Lagi-lagi ungkapan Jokowi tersebut menuai senyum lebar dari sang madam dan tawa Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim serta ratusan tamu dan delegasi.

Bak perebutan kekuasaan antar Great Houses yang seperti roda besar berputar, Presiden menggambarkan situasi perebutan kue ekonomi dunia saat ini.

Satu Great House tengah berjaya, sedangkan House yang lain menghadapi kesulitan dan House yang lain berjaya, dengan menjatuhkan House yang lain.

“Saat para Great Houses sibuk bertarung satu sama lain, mereka tidak sadar adanya ancaman besar dari Utara. Seorang evil winter, yang ingin merusak dan menyelimuti seluruh dunia dengan es dan kehancuran,” paparnya, melanjutkan pidatonya dengan suara tenang dan tegas.

Untungnya, para Great House segera sadar akan satu bahaya yang datang.

Evil winter yang dimaksud Presiden adalah perubahan iklim serta sampah plastik. Presiden pun mengingatkan agar semua pihak bekerja sama menyelamatkan kehidupan. Sebesar 400% investasi tahunan untuk energi terbarukan harus digalang dunia.

Kepada forum, Jokowi bertanya apakah sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi? Tepuk tangan kembali menggema di seluruh ruangan.

Menutup pidatonya, dia memperkirakan musim terakhir serial itu akan diisi pesan moral bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan bukan hanya bagi yang kalah, melainkan juga untuk yang menang.

“Ketika kemenangan sudah dirayakan dan kekalahan sudah diratapi, barulah kemudian kedua-duanya sadar bahwa kemenangan maupun kekalahan dalam perang selalu hasilnya sama, yaitu dunia yang porak-poranda,” ungkap Presiden.

Seraya menyindir, Jokowi mengatakan tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi yang terbesar, di tengah dunia yang tenggelam.

***

Ini bukan kali pertama Jokowi mengutip serial TV atau film kekinian. Sebelumnya, dalam pertemuan World Economic Forum (WEF) di Hanoi, Vietnam, dia menggambarkan ketegangan perdagangan seperti layaknya film Avengers "Infinity War".

“Kita harus mencegah perang dagang menjadi Infinity War,” ujarnya.

Jokowi mengibaratkan dirinya bersama dengan teman-teman Avengers-nya siap untuk menghadapi Thanos, tokoh antagonis dalam Infinity War. Thanos, bagi Jokowi, adalah masing-masing ego di dalam diri manusia.

Lalu, dalam CEO Forum di ASEAN-Australia Special Summit Maret 2018, dia juga mengatakan politikus zaman sekarang harus bersaing dengan Netflix untuk merebut perhatian masyarakat. Menurutnya, politikus tidak punya pilihan selain harus mengubah politik menjadi reality show.

“Karena bila kita tidak melakukan hal itu, semua hanya akan menonton "House of Cards" dan "Stranger Things",” ungkapnya diikuti gelak tawa pemimpin dunia yang hadir dalam tersebut.

Gaya pidato Presiden Jokowi memang tampak berbeda dibandingkan dengan pemimpin dunia yang lain yang umumnya kaku, penuh angka, dan njelimet.

Pidato pengusaha furnitur asal Solo ini terasa ringan, dekat dengan pendengarnya dan mengandung unsur kekinian. Tak heran, standing applause diberikan untuk pidatonya.

Menurut Lagarde, Jokowi meningkatkan standar untuk keunggulan dan ketegasan dalam menyampaikan pidato. Bahkan, Presiden World Bank  mengutarakan rasa mindernya jika membandingkan pidatonya dengan pidato Presiden Jokowi.

“Ini saatnya kita pulang karena tidak bisa lebih baik dari ini,” kata Jim.

Tak hanya menuai apresiasi dari delegasi yang hadir, pidato Presiden juga menuai pujian di linimasa Twitter, dan menjadi trending topic di Twitter. Sampai dengan Jumat (12/10) pukul 17.00 WIB, #GameOfThrones sudah dicuit lebih dari 18.400 kali.

Selain masyarakat umum yang mengomentari pidato tersebut, sejumlah perwakilan negara-negara sahabat juga memberikan apresiasi. Apresiasi datang antara lain dari Duta Besar Denmark untuk Indonesia Rasmus A. Kristensen dan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol.

“Pidato yang sangat kuat oleh Presiden Indonesia Jokowi melawan perang dagang dan mengedepankan kerja sama internasional,” ujar Swartbol.

Bahkan, jaringan televisi kabel HBO Asia, yang menayangkan Game of Thrones, juga tidak mau ketinggalan.

“Yeah, kami juga tak sabar menanti season 8, Pak Presiden," demikian disampaikan HBO Asia di akun Twitter resminya.

Musim kedelapan akan menjadi musim terakhir serial ini, yang rencananya ditayangkan tahun depan. Beberapa aktor dan aktris ternama yang membintangi serial ini adalah Peter Dinklage, Kit Harrington, Emilia Clarke, dan Maisie Williams.

Tag : jokowi, annual meetings IMF-World Bank
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top