Hary Tanoesoedibjo Nilai Indonesia Tak Konsisten di Implementasi Investasi

Banyak harapan dari penyelenggaraan Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali terhadap perekonomian Indonesia, di antaranya terkait investasi dan pengembangan pariwisata.
Hery Trianto & Arif Budisusilo | 13 Oktober 2018 12:57 WIB
Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo menyampaikan sambutan pada pembukaan perdagangan saham di Jakarta, Senin (8/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, menjadi salah satu perhelatan internasional yang mendapat sorotan pelaku pasar global. Banyak harapan dari penyelenggaraan agenda dunia itu terhadap perekonomian Indonesia, di antaranya terkait investasi dan pengembangan pariwisata.

Di sela-sela rangkaian tersebut, Bisnis mewawancarai pengusaha Hary Tanoesoedibjo. Salah satu hotel miliknya, Hotel Westin, juga turut menjadi tempat yang dipilih untuk penyelenggaraan acara tersebut.

Berikut petikannya:

Kami dengar untuk penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-WBG ini kamar sudah fully-booked sejak awal?

Ada sekitar 450 kamar dan semua dipakai. Restoran juga sudah di-booked. Sudah tidak ada tempat kosong sama sekali. Yang deal awal itu IMF, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan hanya eksekusi.

Dampaknya sangat bagus untuk industri pariwisata?

Saya rasa iya, Bali akan sangat positif untuk tourism. Untuk Indonesia secara umum juga positif. Dampak event ini di tourism dan investasi.

Seberapa besar dampaknya?

Seberapa jauh, itu tergantung kita. Follow up-follow up itu penting. Investasi langsung (FDI). Dengan mereka datang langsung, bisa menjadi lebih yakin dan percaya. Mudah-mudahan bisa menarik devisa. Selanjutnya investasi portofolio, obligasi, surat utang luar negeri, saham juga diharapkan memberikan dampak positif. Tapi kita harus follow up. Sering kali kita itu melihat kejadian seperti ini kita sudah senang dan berharap semua datang sendiri. Ini harus two way. Jadi harus jemput bola.

Banyak deal yang di­la­ku­kan, ada sejumlah BUMN signing berbagai hal. Bagaimana sektor swasta?

Saya dengar ada sektor swasta juga. Yang penting Indonesia harus proaktif mencari investasi. Dua-duanya, baik swasta maupun pemerintah karena kita perlu investasi langsung sebanyak banyaknya. Meningkatkan portfolio itu bagus tetapi kan itu jangka pendek. Bisa masuk dan keluar kapan saja. Kalau FDI menciptakan lapangan kerja dan jangkanya panjang, apalagi kalau export oriented, menghasilkan devisa, harus kita kejar.

Saya pernah usulkan, sekarang ini kan ada trade war antara China dan AS. Jadi kita sebetulnya kita bisa lobi untuk cari perusahaan yang terkena dampaknya untuk pindahkan perusahaannya ke Indonesia, itu kan nilainya [bisa] US$500 miliar lebih.

Kelemahan di forum seperti ini di mana? Di tingkat eksekusi atau kesiapan kita?

Eksekusi dan follow up-nya. Kita lihat saja, investasi turun, portofolio turun, FDI turun, ekspor turun, itulah kenapa kurs kita kena. Jadi antara kertas dan implementasi enggak konsisten. Ini harus diperbaiki.

Handicapped-nya ada dimana?

Ya masalah birokrasi. Saya kritik sedikit. Proyek infrastruktur banyak di pegang BUMN, enggak mungkin kuat menyangga. Untuk eksekusinya saja butuh resources yang besar, dana besar, makanya banyak yang mundur, itulah yang menyebabkan investasi turun. Apalagi terakhir oleh pemerintah beberapa disetop, karena impor barang modalnya besar. Jadi membuat investasi turun. Penurunan pengangguran tidak seperti yang kita harapkan artinya penciptaan lapangan kerja tidak seperti yang dinginkan. Itu terasa kok, iklan turun, mau di tv, cetak, online, jadi ini harus ditanggapi secara serius.

Tapi dari sisi pertumbuhan tidak terlalu buruk kan?

Makro sama mikro lain. Komponen pertumbuhan kan konsumsi, goverment spending, investment, plus ekspor. Jadi kita ini lebih banyak ditopang oleh government spending.

Kita harus ingat kalau di goverment spending itu salah satu unsurnya bukan dari pendapatan pajak dan non pajak saja tetapi juga ada utang di dalamnya. Jadi menurut saya enggak terlalu kuat. Sisi konsumsinya masih lemah, investasi masih lemah, ekspor kita juga masih lemah.

Apa terobosan yang perlu dilakukan?

Terobosannya, harus ada strategi jangka pendek, menengah, panjang. Pendek ini bagaimana devisa masuk investasi masuk dalam waktu yang singkat. Kalau saya, eksportir diwajibkan mengonversi dolar AS-nya ke rupiah sejumlah persentase lokal konten mereka. Kalau hanya diimbau, itu tidak akan dilakukan.

Terobosan kedua, proyek infrastruktur yang sudah jadi, jangan yang masih greenfield, karena greenfield itu bagi investor ada risiko eksekusi. Misalkan tol, masih bebaskan tanahnya, izinnya, dan sebagainya. Diganggu sana-sini, mungkin di business plan-nya 2 tahun tapi di pelaksanan bisa 5 tahun baru jadi. Banyak seperti ini.

Jadi, proyek tol yang sudah jadi, dijual saja. Toh yang dijual bukan perusahaannya tapi proyeknya. Kalau medium term, bisa buat special economic zones dengan special tax rules, special labor regulation, izin khusus. Lalu lobi perusahaan yang kena trade war untuk bawa ke Indonesia lah.

Negara mana yang sudah memanfaatkan itu dengan cepat?

Saya belum lihat, ini kan baru kejadian. Masih banyak lagi yang harus dilakukan, misalnya produktivitas nasional yang harus ditingkatkan. Jangka menengah lainnya yang harus dilakukan adalah tourism. Infrastrukturnya kan perlu disiapkan, kawasannya, tolnya, bandaranya.

Kalau hanya bicara laut bagus tapi ini saya pernah ke Raja Ampat, kalau suruh balik ke sana kayaknya enggak deh. Kenapa? Dari atas bagus, begitu sampai darat enggak ada hotel bagus. Kamar mandinya itu shower dan toilet jadi satu, dan hanya 1 meter x 1,5 meter. Enggak ada sandal, enggak ada selimut, promosi Raja Ampat luar biasa tapi kok begini, kalau turis pasti kecewa.

Makanya maksud saya, BUMN itu agent of development, jangan jadi profit center.

Pernah sampaikan ke Pak Jokowi?

Sudah. Sangat positif sambutannya.

Tag : hary tanoesoedibjo, annual meetings IMF-World Bank
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top