Sri Mulyani Bercerita Pengalaman Indonesia Gunakan Instrumen Keuangan Syariah ke Dunia

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memaparkan pengalaman Indonesia dalam mengoptimalkan peran instrumen keuangan Islam pada Annual Meetings IMF-World Bank Group (WBG) 2018.
Rinaldi Mohammad Azka | 14 Oktober 2018 10:36 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) mendapat ucapan selamat dari Managing Director Majalah Global Markets Toby Fildes (kanan) pada sesi Global Market Award Ceremony di Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10). Sri Mulyani Indrawati mendapatkan penghargaan Finance Minister of the Year for East Asia Pacific Awards dari majalah ekonomi Global Markets. - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, NUSA DUA -- Pemerintah Indonesia bercerita mengenai pengalaman menggunakan instrumen keuangan Islam dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memaparkan pengalaman Indonesia dalam mengoptimalkan peran instrumen keuangan Islam saat menyampaikan keynote speech pada seminar "Mainstreaming Islamic Finance into Global Initiatives" pada Annual Meetings IMF-World Bank Group (WBG) 2018 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, Minggu (14/10/2018).

Menurutnya, instrumen keuangan Islam telah menjadi bagian penting dari pembangunan nasional di Indonesia. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel atau sukuk misalnya, sudah menjadi instrumen terpenting pemerintah.

“Untuk menjawab tantangan global, industri keuangan Islam menawarkan peluang besar dalam mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan. Hal ini tentu relevan dengan program yang tiga tahun lalu dicanangkan Bank Dunia, yakni Sustainable Development Goals atau SDGs” jelasnya.

Menkeu melanjutkan Indonesia tidak hanya fokus pada pengembangan industri keuangan Islam yang bersifat komersial, tapi juga pada keuangan Islam yang bersifat sosial.

“Ini adalah instrumen efektif untuk mengurangi kemiskian dan mengatasi ketidaksetaraan, dengan cara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, memberdayakan masyarakat berpendapatan rendah, dan tentu membuka akses pada dunia bisnis," tuturnya.

Oleh karena itu, Indonesia melalui Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan Islamic Development Bank (IDB) untuk mengembangkan Zakat Core Principles dan Waqf Core Principles.

“Integrasi antara sukuk dan wakaf adalah inovasi yang menarik dalam keuangan Islam,” ujar Menkeu.

Sukuk berpotensi menjadi instrumen untuk memobilisasi dana, sedangkan wakaf memiliki kapasitas untuk mendapatkan income dan aktivitas keuangan yang produktif. Kolaborasi antara sukuk dan wakaf dinilai dapat menjadi inovasi dalam pembiayaan berbiaya rendah untuk menjalankan keberlanjutan ekonomi.

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan perlunya upaya mengoptimalkan keuangan sosial syariah untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif. Prinsip keuangan Islam dipandang cocok dalam aktivitas SDGs dan inklusi keuangan, serta pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

“Kami di BI bersama IDB, Baznas, telah membuat Zakat Core Initiative pada Mei 2016. Ini perlu regulasi yang terintegrasi. Inisiatifnya dikenalkan di seluruh dunia, termasuk Indonesia," ungkapnya.

Dalam seminar tingkat tinggi ini, tampil pula Wakil Presiden IDB Mohammed Nouri Jouini yang menekankan pentingnya upaya pengembangan keuangan Islam secara global.

Tag : keuangan syariah, annual meetings IMF-World Bank
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top