Bank Dunia Umumkan Hibah US$5 Juta untuk Korban Bencana NTB dan Sulteng

Bank Dunia mengumumkan penyaluran dana hibah sebesar US$5 juta kepada Pemerintah Indonesia untuk mempercepat rencana pemulihan dan rekonstruksi daerah yang terkena bencana di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah.
Dwi Nicken Tari | 14 Oktober 2018 13:52 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) bersama CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva (kanan) saat memberikan keterangan pers dalam Annual Meetings IMF--World BankGroup 2018, Minggu (14/10/2018). Sri Mulyani berterima kasih atas semua simpati yang disampaikan delegasi terkait bencana yang terjadi di Indonesia. - Bisnis/Rinaldi Mohammad Azka

Bisnis.com, NUSA DUA — Bank Dunia mengumumkan penyaluran dana hibah sebesar US$5 juta kepada Pemerintah Indonesia untuk mempercepat rencana pemulihan dan rekonstruksi daerah yang terkena bencana di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah.

Selain itu, Bank Dunia juga sudah mempersiapkan bantuan lain berbentuk pinjaman jangka panjang yang nilainya mencapai US$1 miliar untuk Pemerintah Indonesia.

“Saya menyebutnya mencapai US$1 miliar karena pemerintah [Indonesia] perlu memerinci kebutuhannya dan kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk menentukan berapa yang dibutuhkan dan untuk apa,” tutur CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva, dalam konferensi pers bersama Menkeu Sri Mulyani Indrawati di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, Bali, Minggu (14/10/2018).

Dia menjelaskan dana hibah yang diberikan sebelumnya—yang sebesar US$5 juta—akan diprioritaskan untuk upaya pemerintah merencanakan rekonstruksi dan pembangunan ketahanan bencana.

Sementara itu, bagian dari pendanaan yang mencapai US$1 miliar bakal digunakan juga untuk membiayai program pemerintah yang ingin memberikan bantuan langsung tunai kepada 150.000 keluarga yang terkena bencana dalam rentang 6 bulan hingga 1 tahun.

“Tambahan untuk sistem keamanan sosial ini didesain untuk mendukung perekonomian lokal dan ketenagakerjaan selama masa pemulihan dan untuk menghindari kerusakan jangka panjang untuk human capital,” tulis Bank Dunia dalam siaran pers yang diterima Bisnis.

Selain itu, dana pinjaman tersebut juga dapat digunakan untuk program pemulihan darurat mandiri, yaitu pendanaan pembangunan fasilitas publik dan aset infrastruktur, seperti rumah sakit, sekolah, jembatan, jalan, tol, dan ketersediaan air bersih.

Bank Dunia mencatat kerugian awal dari bencana di Sulawesi Tengah (Sulteng) sekitar US$531 juta atau Rp8,07 triliun. Data tersebut hanyalah estimasi kerugian ekonomi berdasarkan analusis saintik, ekonomi, dan teknik.

“Dengan bekerja sama bersama pemerintah dalam hal ketahanan, pemulihan bencana, dan persiapan [menghadapi bencana di masa depan], kami ingin membantu Indonesia untuk terus meningkatkan perekonomiannya,” ujar Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A. Chaves melalui pernyataan resmi.

Tag : bank dunia, bencana alam
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top