KESAN DARI PERTEMUAN TAHUNAN IMF-BANK DUNIA 2018: Kesederhanaan yang Memikat Hati Dunia

Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 telah usai. Hotel di kawasan Nusa Dua kembali normal seperti sedia kala. Namun kesan yang tersisa begitu mendalam.
Feri Kristianto & M. Nurhadi Pratomo | 17 Oktober 2018 12:26 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani belajar membatik di Paviliun Indonesia di arena Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018, Nusa Dua, Bali, Minggu (14/10/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 telah usai. Hotel di kawasan Nusa Dua kembali normal seperti sedia kala. Tidak ada lagi kesibukan hilir mudik orang-orang berjas dan batik di sekitar kawasan.

Penjagaan kembali normal tidak ada lagi puluhan aparat bersenjata berjaga-jaga. ITDC kini menyisakan pemandangan wisatawan hilir mudik mengenakan pakaian liburan.

Meski telah usai dan tersisa kepingan kenangan. Penjelasan sederhana Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde saat memberikan sambutan penutup pada Minggu (14/10) memberi kesan mendalam.

“Ini mengingatkan saya tentang pesta pernikahan. Kini setelah semuanya berakhir, saya jadi sedih dan meskipun lelah tapi ingin melakukannya lagi,” ujarnya saat itu.

Ungkapan tersebut seakan memberikan pujian tentang kemampuan Indonesia menyelenggarakan Pertemuan Tahunan IMF-WBG 2018 yang dianalogikan bak pesta pernikahan.

Penegasan wanita dengan balutan blazer motif tenun endek Bali itu sontak disambut tawa hadirin yang memenuhi di ruang Nusantara, BICC Nusa Dua. Duduk mendengarkan sambutannya adalah Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan, Menkeu Sri Mulyani, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Pesta pernikahan bisa disebut pesta paling rumit karena harus mempertemukan keinginan pasangan. Adapun, ‘Pasangan’ di Pertemuan Tahunan IMF-WBG 2018 adalah negara-negara peserta. Ada negara miskin, maju, dan berkembang dengan berbagai motif dan keinginan dengan perekonomian.

SIMPLIFIKASI PERTEMUAN

Perhelatan internasional ini menggunakan dua venue utama, yakni di Bali Nusa Dua Covention Center (BNDCC), dan Bali International Covention Center (BICC). Lokasinya berseberangan di kawasan ITDC Nusa Dua. Tidak seperti di Washington, Amerika Serikat, atau di negara lain. Di dua venue tersebut, Indonesia menyampaikan pesan simplifikasi pertemuan.

Alih-alih membuat suasa tegang di dalam, Indonesia membuat event tiga tahunan ini menjadi terkesan santai sehingga delegasi yang hadir pun tidak setegang ketika mengikuti acara sejenis di negara lain.

Kehadiran sejumlah stan UMKM untuk memamerkan produknya serta adanya area Indonesia Pavilion membuat suasana menjadi lebih hangat dan akrab.

Selain itu ada pula penampilan seniman dari petikan alat musik hingga tarian-tarian tradisional. Hal ini membuat delegasi tak hanya fokus pada pembahasan ekonomi tetapi bisa refreshing dikelilingi suasana seperti itu.

Jurnalis koran El Economista berbasis di Meksiko Yolanda Morales memuji kemampuan Indonesia memadukan budaya dan kerajinan dengan pertemuan serius. Menurutnya, keberadaan paviliun ini seakan menjadi oase, menghadirkan kesan nonformal, tidak kaku seperti pertemuan ekonomi tingkat dunia.

“Saya pikir luar biasa sekali, kalian membuat pertemuan menjadi lebih menarik dan hangat,” jelasnya.

Sementara itu, puncak simplifikasi pertemuan adalah ketika Presiden RI Joko Widodo menganalogikan kondisi global dengan serial film Game of Thrones. Alih-alih memberi penjelasan dengan bahasa rumit dan teknis, Jokowi menyampaikan persoalan ekonomi dengan bahasa yang lebih mudah dicerna.

Ekonom dari Universitas Atmajaya Agustinus Prasetyantoko menilai Indonesia bisa menyampaikan pesan sangat lugas tanpa harus menyakiti satu negara pun menghadapi kondisi perekonomian global.

Positioning penting. ini memposisikan Indonesia secara notable, sangat diekspresikan dengan baik. Masalah global dituturkan sangat lugas tanpa menunjuk satu negara pun," kata Prasetyantoko.

PROMOSI INDONESIA

Selain soal simplifikasi, pesan yang tak kalah penting tetapi luput disadari adalah kemampuan Tanah Air mempromosikan diri.

Dari pantauan Bisnis, dalam setiap kesempatan Lagarde selalu menggunakan blazer bermotif tenun Endek dari Bali. Tenun itu dia gunakan mulai saat membuka Plennary Session, wawancara dengan televisi nasional, hingga menyampaikan pesan penutupan.

Di sisi lain, perhelatan akbar Internasional itu juga membawa berkah kepada perusahaan transportasi, PT Blue Bird Tbk., khusunya yang beroperasi di wilayah tersebut.

Vice President of Central Operations Division Blue Bird Maria Lihawa mengatakan pihaknya menyiapkan dua jenis armada sedan dengan total 430 unit. Sebagian besar, mobil yang digunakan untuk mendukung Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, diangkut dari Jakarta.

Dia mengklaim pesanan rental mobil yang masuk akan mengerek kinerja keuangan perseroan. Dengan kata lain, Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group juga menambah tebal pundi-pundi pendapatan perseroan.

“Pasti meningkatkan pendapatan dan masuk ke laporan kuartal III/2018,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.

Michael Tene, Head of Investor Relation Blue Bird menambahkan perseroan tidak membeli mobil baru untuk menangani permintaan pertemuan tahunan tersebut.  “Semuanya dari armada mobil rental bukan armada taksi,” jelasnya. 

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : News Editor

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top