BTPN Bukukan Laba Rp1,62 Triliun

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) per kuartal III/2018 mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,62 triliun, naik 19% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nirmala Aninda | 19 Oktober 2018 14:31 WIB
Pejalan kaki melintas di dekat logo PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. di Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) per kuartal III/2018 mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,62 triliun, naik 19% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan laba dipicu oleh pertumbuhan penyaluran kredit, penurunan biaya dana, dan beban operasional. Penyaluran kredit sampai September 2018 tercatat naik tipis 3% menjadi Rp67,8 triliun dari periode sebelumnya Rp65,8 triliun. 

Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) turut tumbuh 3% dari Rp74,9 triliun menjadi Rp77,6 triliun. Perseroan tercatat mampu menurunkan beban bunga sebesar 4% menjadi Rp3,3 triliun. 

Direktur Utama BTPN Jerry Ng mengatakan, meskipun pendapatan bunga dari penyaluran kredit tidak mengalami perubahan, pendapatan bunga bersih (net interest income) tetap meningkat 2% menjadi Rp7,3 triliun. 

Menurutnya, pada tahun ini merupakan periode yang menantang bagi bisnis perseroan. Dinamika ekonomi akibat berbagai faktor eksternal dan internal ikut mempengaruhi bisnis bank.

"Selain itu, sejak awal tahun, kami fokus berkonsolidasi dalam rangka menuntaskan agenda penggabungan usaha [merger] dengan SMBCI [Bank Sumitomo Mitsui Indonesia]. Kami bersyukur dapat melewati semua ini dengan tetap mencetak kinerja yang positif,” ujarnya melalui siaran pers, Kamis (18/10/2018).

Kendati pertumbuhan dana pihak ketiga selaras dengan fungsi penyaluran kredit, Jerry mengungkapkan bahwa likuiditas BTPN tetap terjaga baik. 

Rasio pinjaman terhadap pendanaan (loan to funding ratio/LFR) tercatat sebesar 87%. Bahkan, jika memperhitungkan modal, rasio likuiditas sebesar 71%.

Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BTPN mencapai 25% dan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 1,22%.

“Berbagai indikator keuangan ini menunjukkan kami bukan sekadar sehat dan kuat, juga ke depan mampu bertumbuh dengan sangat baik,” tambahnya.

Sementara itu, biaya operasional tercatat lebih rendah berkat optimalisasi platform digital. 

Transformasi dan inovasi teknologi digital yang dikembangkan sejak 2015 ini menjadikan BTPN lebih efisien dan lebih kompetitif. 

BTPN tidak hanya menciptakan produk dan layanan baru berbasis digital, tetapi juga melakukan digitalisasi di existing business, mengubah konsep pelayanan nasabah dari bank-centric, menjadi customer-centric. 

Transformasi dan inovasi digital diklaim menekan biaya operasional rutin perusahaan (business as usual) sebesar 16% secara tahunan dari Rp3,03 triliun menjadi Rp2,55 triliun. 

Biaya operasional dan biaya dana yang lebih rendah ini berimbas positif kepada pendapatan operasional bersih (net operating income) yang tumbuh 18% secara tahunan menjadi Rp4 triliun.  

Tag : btpn
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top