China Tertekan Dari Segala Sisi

Gejolak pasar saham dan perlambatan ekonomi dikombinasikan dengan tekanan dari Presiden AS Donald Trump telah semakin membebani para pemimpin China.
Dwi Nicken Tari | 21 Oktober 2018 19:00 WIB
ILUSTRASI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Gejolak pasar saham dan perlambatan ekonomi dikombinasikan dengan tekanan dari Presiden AS Donald Trump telah semakin membebani para pemimpin China.

Seakan sudah jatuh tertimpa tangga, rilis data PDB China menunjukkan laju terlambatnya sejak krisis keuangan global 2009 sehari setelah indeks Shanghai Composite anjlok ke level terendahnya dalam empat tahun dan setelah Trump kembali menaikkan tensi dagang dengan Beijing.

Berdasarkan data yang dirilis Biro Statistik Nasional (NBS), pertumbuhan ekonomi China tumbuh sebesar 6,5% pada kuartal III/2018 secara tahunan (YoY), atau lebih rendah daripada perkiraan analis yang disurvei Reuters sebesar 6,6%.

Adapun laju tersebut merupakan yang terlemah sejak kuartal I/2009 ketika terjadi krisis keuangan global.

Pekan lalu, Trump juga kembali menaikkan tensi perselisihan dengan China, yaitu dengan rencananya bakal menarik AS dari traktat 192 negara yang selama ini memberikan diskon kepada perusahaan China yang mengirimkan paket kecil untuk konsumen di AS.

The National Association of Manufacturers menyampaikan bahwa diskon berupa subsidi untuk pengirim dari China itu telah membenai layanan pos AS sebesar US$170 juta pada 2017.

Hal itu pun membuat pasar saham China terguncang. Menghadapi kepanikan di pasar saham tersebut, para pemimpin dari regulator pasar, bank sentral, dan pengamat keuangan China pun menerbitkan pernyataan agar investor tenang.

Pembuat kebijakan ekonomi, termasuk Wakil PM China Liu He, pun kini seolah berjalan di atas tali tipis. Pasalnya, untuk membentengi posisi negosiasi China di dalam perundingan dagang dengan Pemerintahan Trump, China perlu membendung gejolak pasar saham senilai US$3 triliun dan menopang pertumbuhan domestik tanpa meninggalkan upaya pemerintah untuk menahan lonjakan tingkat utang.

“China tertekan dari berbagai sisi. Logikanya, segala tekanan ini mendorong China untuk membuat kesepakatan, tapi saya tidak yakin apa ada kesepakatan yang harus dibuat,” kata Michael Every, Head of Asia Financial Markets Research di Rabobank, Hong Kong, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (21/10/2018).

Adapun sementara Shanghai Composite dibuka melemah pada perdagangan Jumat (19/10/2018) pagi, setelah pernyataan dari pejabat China, indeks tersebut reli pada siang harinya dan ditutup menguat 2,6%.

Beberapa investor berspekulasi bahwa “Tim Nasional” China yang terdiri dari pendanaan yang didukung oleh negara (state-backed funds) telah turun tangan untuk menopang intervensi verbal dari para pembuat kebijakan.

Namun demikian, pasar saham China tetap memiliki performa terburuk sejak Januari, atau telah kehilangan hampir dari setengah kapitalisasi pasar gabungan Brazil, India, dan Rusia.

Kerugian yang diderita China tersebut sebagian besar akibat kekhawatiran terkait  dampak selisih dagang dan pertumbuhan ekonomi. Adapun guncangan di pasar keuangan China semakin parah pada bulan ini akibat investor terpaksa melakukan aksi jual.

“Sementara ekonomi China masih tahan dari dampak perang dagang, ditopang oleh kuatnya pertumbuhan konsumsi domestik, tapi risiko utama untuk outlook-nya adalah kemungkinan Presiden Trump memberlakukan tarif berikutnya untuk China. Sektor ekspor China masih bergantung dengan pasar AS,” kata Rajiv Biswas, Kepala Ekonom Asia Pasifik di IHS Markit, Singapura.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top