Kerugian Gempa Bumi & Tsunami di Sulawesi Tengah Diperkirakan Mencapai Rp13,82 Triliun

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa hasil kajian dan perhitungan sementara terhadap kerugian dan kerusakan akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah, per Sabtu (20/10/2018), mencapai lebih dari Rp13,82 triliun.
Puput Ady Sukarno | 21 Oktober 2018 21:24 WIB
Sejumlah personel Tim SAR menggali reruntuhan bangunan dan rumah untuk menemukan korban di lokasi likuifaksi Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10). Memasuki hari ke-14 pascagempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, pemerintah menghentikan proses evakuasi korban, sedangkan tanggap darurat diperpanjang hingga dua pekan kedepan - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa hasil kajian dan perhitungan sementara terhadap kerugian dan kerusakan akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah, per Sabtu (20/10/2018), mencapai lebih dari Rp13,82 triliun.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, mengatakan bahwa angka tersebut berpeluang meningkat karena hingga saat ini Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB masih terus melakukan pendataan dan penghitungan.

"Hasil perhitungan sementara terhadap kerugian dan kerusakan akibat bencana per Sabtu (20/10/2018), mencapai lebih dari Rp13,82 triliun. Diperkirakan dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini akan bertambah, mengingat data yang digunakan adalah data sementara," ujarnya, melalui keterangan resmi, Minggu (21/10/2018).

Sutopo menerangkan bahwa dari Rp13,82 triliun dampak ekonomi akibat bencana tersebut, kerugian mencapai Rp1,99 triliun dan kerusakan mencapai Rp11,83 triliun.

Menurutnya, dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini meliputi 5 sektor pembangunan yaitu kerugian dan kerusakan di sektor permukiman mencapai Rp7,95 triliun, sektor infrastruktur Rp701,8 miliar, sektor ekonomi produktif Rp1,66 triliun, sektor sosial Rp3,13 tiliun, dan lintas sektor mencapai Rp378 miliar.

Adapun dampak kerugian dan kerusakan di sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana.

Hampir sepanjang pantai di Teluk Palu bangunan rata tanah dan rusak berat. Terjangan tsunami dengan ketinggian antara 2,2 hingga 11,3 meter dengan landaan terjauh mencapai hampir 0,5 km telah menghancurkan permukiman di sana.

Begitu juga adanya amblesan dan pengangkatan permukiman di Balaroa. Likuifaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge dan Sibalaya telah menyebabkan ribuan rumah hilang.

Jika berdasarkan sebaran wilayah, kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp7,63 triliun, Kabupaten Sigi Rp4,29 triliun, Donggala Rp1,61 triliun dan Parigi Moutong mencapai Rp393 miliar.

"Perhitungan kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana belum dilakukan perhitungan," ujarnya.

Sutopo memperkirakan bahwa untuk membangun kembali daerah terdampak bencana, nantinya pada saat periode rehabilitasi dan rekonstruksi akan memerlukan anggaran lebih dari Rp10 triliun.

"Tentu ini bukan tugas yang mudah dan ringan, tetapi pemerintah dan pemda akan siap membangun kembali nantinya. Tentu membangun yang lebih baik dan aman sesuai prinsip build back better and safer," ujarnya.

Sementara itu, dampak bencana gempabumi, tsunami dan likuifaksi yang melanda 4 daerah di Sulawesi Tengah yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, hingga Minggu (21/10/2018) pukul 13.00 WIB, tercatat 2.256 orang meninggal dunia.

Sebarannya di Kota Palu 1.703 orang meninggal dunia, Donggala 171 orang, Sigi 366 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban sudah dimakamkan. Sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Menurutnya, banyak bangunan dan infrastruktur yang hancur akibat bencana. Kerusakan meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan sebagainya.

"Data tersebut adalah data sementara, yang akan bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan," ujarnya.

Tag : gempa bumi
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top