PERSPEKTIF: Inilah Delapan 8 Capaian Sekaligus Tantangan Kinerja Jokowi

Dalam situasi seperti ini, lebih penting lagi apabila kita menghadapinya secara terkoordinasi bersama-sama dan bukan sendiri-sendiri. Hilangkan ego dan kepentingan pribadi di belakang, dahulukan kepentingan bersama.
Raden Pardede, Pendiri CReco Research Institute | 22 Oktober 2018 11:37 WIB
5 aspek pembangunan manusia Jokowi. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA - Pidato Presiden Jokowi, “Winter is coming”, di pertemuan IMF-WB di Bali minggu lalu masih menggema di benak peserta konferensi.

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral seluruh dunia serta pimpinan IMF dan World Bank yang hadir memuji pidato yang secara halus mengkritisi negara besar yang mementingkan diri sendiri. Pesan itu bukan hanya bagi peserta dan ekonomi besar dunia yang kebetulan sedang berselisih dan bertarung, melainkan juga buat kita di dalam negeri, para pembuat kebijakan, politisi, dunia usaha dan pelaku ekonomi.

Persiapkan diri agar berdaya tahan menghadapi musim dingin dan bahkan badai. Persiapkan diri juga agar setelah musim dingin selesai, dan musim semi tiba, badan kuat dan pikiran kita jernih serta punya rencana yang matang, sehingga kita bisa segera bekerja giat, berlari mengejar target pembangunan, sebelum musim dingin tiba lagi.

Ada delapan capaian ekonomi penting pada 4 tahun terakhir.

Pertama, pembangunan infrastruktur secara luas dan intensif. Sejak 2014—2018, terjadi kenaikan belanja infrastruktur pemerintah hampir 3 kali lipat, di samping belanja infrastruktur BUMN yang juga meningkat secara pesat.

Terjadi peningkatan konektivitas secara pesat, berupa penambahan jalan tol, jalan nasional, provinsi, kabupaten, pelabuhan laut, pelabuhan udara, kereta api dan LRT, demikian pula telekomunikasi Palapa Ring, broadband. Pada saat yang sama dilakukan pemba­ngunan irigasi, waduk dan embung di berbagai wilayah perta­nian.

Dampak ekonominya belum sepenuhnya kita nikmati sekarang karena memang infrastruktur akan butuh jangka waktu sebelum kita bisa menikmati keuntungan total.

Kedua, penambahan prioritas 10 destinasi pariwisata, di luar Bali, dengan menyediakan infrastruktur dan fasilitas konektivitas. Dalam 3 tahun terakhir, sudah ada penambahan wisatawan mancanegara hampir 3 juta lebih.

Ketiga, pengembangan pesat digitalisasi, online, dan e-commerce. Kemajuan teknologi adalah sesuatu keniscayaan yang tidak bisa dibendung. Keterbukaan untuk mengadopsi teknologi digital, melakukan adaptasi dan penyesuaian dengan cepat, didukung aturan regulasi yang kondusif menjadi kunci.

Keempat, reformasi agraria, sertifikasi tanah dan pembagian tanah-hutan sosial. Sertifikasi mencapai 9,5 juta bidang, hutan sosial mencapai 2 juta ha tanah yang bisa diusahakan secara legal. Sertifikasi tanah mengubah aset tidur menjadi aset bergerak dan produktif serta dan dapat dipakai memobilisasi dana untuk investasi produktif.

Kelima, program dana desa dan padat karya tunai, kartu pintar, dan kartu sehat. Sangat efektif untuk mengiatkan aktivitas ekonomi secara merata di seluruh wilayah Indonesia (lebih dari 80 000 desa/kelurahan).

Keenam, inflasi dan disiplin moneter yang terjaga baik di kisaran yang cukup rendah sekitar 3% dengan tren menurun. Hal ini dicapai karena koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah disertai disiplin Bank Indonesia untuk secara dini menjaga agar inflasi tetap rendah. Gejolak harga sudah jauh berkurang sehingga daya beli masyarakat, utamanya kalangan terbawah, tidak tergerus. Inflasi dalam beberapa tahun terakhir ini berada pada level terendah dalam sejarah perekonomian Indonesia.

Ketujuh, defisit dan pencapaian penerimaan pajak yang mengembirakan. Defisit keseimbangan primer menurun terus, bahkan akan diusahakan agar positif pada tahun depan, sementara defisit anggaran keseluruhan tetap dijaga sekitar 2,5%. Kinerja penerimaan 2018 bahkan lebih baik dari perkiraan semula, ditandai dengan keberhasilan pajak bertumbuh jauh di atas pertumbuhan nominal PDB. Hal ini didukung oleh perbaikan kolektivitas pajak setelah adanya perbaikan data kekayaan dan pendapatan semenjak tax amnesty dilakukan 2 tahun lalu.

Kedelapan, kemampuan mengor­ganisir event internasional (Asian Games dan konferensi IMF-WB) dengan baik, bahkan di tengah bencana yang kita hadapi. Hal ini menaik­kan gengsi Indonesia di mata dunia dan menjadi kebanggaan bahwa kita mampu memenuhi komitmen kita, menjadi bangsa yang dianggap sejajar dengan bangsa besar lainnya di dunia.

Namun, musim dingin tiba lebih awal. Bahkan, berpotensi berkepanjangan dengan kemungkinan badai. Ada 8 tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia dalam 2 tahun ke depan: 3 tantangan jangka pendek dan 5 tantangan jangka menengah panjang.

Ada tiga tantangan jangka pendek untuk mengatasi musim dingin atau badai musim dingin yang harus segera dipersiapkan solusinya.

Pertama, perbaiki atap rumah yang bocor dan tutup semua bolong pada dinding. Sektor keuangan, bank, perusahaan keuangan, asuransi bermasalah harus cepat diselesaikan. Sektor dunia usaha, BUMN ataupun swasta yang sedang mengalami persoalan modal atau likuiditas perlu segera dikonsolidasi.

Kedua, pastikan pemanas dapat berfungsi baik dan pakai energi secara efisien. Perlu diramu resep yang pas untuk menghadapi kurs yang cenderung bergejolak, suku bunga, dan harga minyak yang cenderung naik. Pastikan transmisi kebijakan dan instrumen moneter dapat berfungsi dengan efektif. Juga perlu dipastikan sumber pembiayaan sektor fiskal yang memadai bahkan ada cadangan yang bisa dipakai sewaktu-waktu. Pada saat yang sama, sumber daya harus dipakai secara efisien, sehingga mampu menghadapi musim dingin yang berkepanjangan.

Ketiga, siapkan semua peralatan darurat dan bersiap menghadapi badai, terutama faktor tekanan eksternal yang mungkin berkepanjangan dan di luar kontrol. Fungsikan fasilitas swap dari berbagai negara dan multilateral. Aktifkan sistem peringatan dini dan fungsi koordinasi yang baik antarinstansi agar siap menghadapi badai ekonomi. Perlu diingatkan dan diantisipasi kepentingan politik sempit yang memanfaatkan situasi pada saat kita menghadapi musuh musuh bersama.

Selain itu, ada lima tantangan jangka menengah panjang. Kebijakan moneter menjaga kurs dan menaikkan suku bunga, tidak akan pernah cukup untuk menopang pembangunan ekonomi yang berkesinambungan. Demikian pula kebijakan kosmetik, mempermak wajah agar kelihatan mulus. Itu hanya bersifat sementara dan tidak mengakar.

Kebijakan yang besifat struktural memperkuat fundamental ekonomi, sering kali kurang menarik apalagi menjelang perhelatan politik, karena ongkos dibayar sekarang, hasilnya nanti. Kita justru harus menghindari kebijakan yang kelihatannya memberikan hasil cepat, cenderung populis dan proteksionis, tetapi ongkos jangka panjang mahal dan tidak menopang pertumbuhan yang sehat dan berkesinambungan.

Pertama, tiang dan fondasi rumah harus diperkuat. Kita ingin tumbuh optimal di atas 6%, sehingga pada saat Indonesia tidak lagi menikmati bonus demografi, kita sudah cukup kaya untuk membiayai masa tua. Pertumbuhan 5% tidaklah cukup bagi Indonesia. Kita harus menggiatkan investasi, teknologi, dan inovasi.

Kedua, dinding perlu diperkuat, yang lapuk diganti dan di cat, sehingga pada saat angin dingin dan badai berembus, barang di dalam rumah tidak rusak. Metafora ini sangat tepat mengambarkan perlunya penguatan neraca pembayaran dan pengurangan defisit transaksi berjalan, sehingga mengurangi tingkat ketergantungan terhadap arus modal jangka pendek. Faktor inilah yang mengakibatkan volatilitas kurs yang selanjutnya menjadi sumber ketidakpastian dalam berinvestasi dan berusaha.

Usaha secara struktural untuk meningkatkan daya saing dan ekspor, menarik reinvestasi keuntungan di dalam negeri, memperbaiki produksi dan eksplorasi minyak dan gas serta energi baru terbarukan.

Usaha struktural lainnya adalah memupuk tabungan dalam negeri serta perbaikan penerimaan pemerintah. Pada akhirnya mobilisasi penerimaan ini akan mengurangi ketergantungan kepada arus modal masuk portfolio jangka pendek dan hutang luar negeri.

Ketiga, kesiapan sumber daya manusia menjadi kunci untuk kita mampu bekerja dan berlari mengejar tujuan kita. Keterlenaan kita untuk tidak memperbaiki diri akan sangat mahal ongkosnya nanti.

Keempat, perencanaan dan tata kelola menghadapi musim semi dan panas ataupun musim dingin. Tata kelola dan modernisasi dunia usaha dan BUMN agar menjadi aset yang berdaya guna masih perlu diperbaiki. Kita juga harus mampu membuat perencanaan yang baik dengan prioritas kebijakan jangka menengah secara tajam.

Kelima, penguatan kelembagaan dan koordinasi yang efektif sehingga kebijakan pembangunan berdaya guna dan tepat sasaran. Efektivitas kebijakan sangat tergantung kepada kualitas lembaga pemerintah di pusat dan daerah. Perbaikan kualitas kelembagaan pemerintah sangat mendesak sehingga kebijakan dan implementasi kebijakan lebih efektif. Dari pengalaman beberapa tahun terakhir ini, inisiatif kebijakan sudah baik, tetapi dalam tingkat implementasi masih belum memadai. Koordinasi antarlembaga pemerintah pusat dan koordinasi antara lembaga pusat dan daerah juga masih perlu dibenahi.

***

Sudah diingatkan bahwa “musim dingin segera tiba”. kita sudah juga tahu apa yang harus dilakukan dalam jangka pendek dan jangka menengah panjang. Kita harus siap berlari mencapai tujuan sesudah musim dingin selesai. Dalam situasi seperti ini, lebih penting lagi apabila kita menghadapinya secara terkoordinasi bersama-sama dan bukan sendiri-sendiri. Hilangkan ego dan kepentingan pribadi di belakang, dahulukan kepentingan bersama.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (22/10/2018)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jokowi

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top