Brexit Bisa Jadi Ancaman Normalisasi Kebijakan ECB

Prospek Bank Sentral Eropa (ECB) untuk menarik stimulus moneter secara gradual dari perekonomian Zona Euro akan menghadapi tantangan dari Brexit.
Dwi Nicken Tari | 22 Oktober 2018 14:40 WIB
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek Bank Sentral Eropa (ECB) untuk menarik stimulus moneter secara gradual dari perekonomian Zona Euro akan menghadapi tantangan dari Brexit.

Sejauh ini, para pembuat kebijakan masih belum terlalu memerhatikan risiko keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang tanpa kesepakatan (disorderly Brexit) terhadap kebijakan yang akan diambil bank sentral.

Pembicaraan mengenai Brexit pun telah acap kali terhenti padahal waktu Inggris untuk resmi keluar dari Uni Eropa tinggal enam bulan lagi.

Sementara dalam analisis ekonomi, Gubernur ECB Mario Draghi yang sempat membacakan setiap keputusan yang akan diambil pada 2016 masih belum angkat bicara terkait risiko Brexit.

Adaoun sikap diam dari para pembuat kebijakan bank sentral tersebut pun diperkirakan semakin sulit untuk dilanjutkan karena kebuntuan politik dapat memicu spekulasi terkait outlook kawasan Benua Biru.

“Brexit adalah gajah besar dalam ruangan ekonomi Zona Euro. Banyak pihak yang mencoba menebak seluk-beluk kenaikan suku bunga yang masih setahun lagi tapi malah menyepelekan risiko utama untuk perekonomian kawasan [UE],” kata Karsten Junius, Kepala Ekonom di Bank J Safra Sarasin di Zurich, Swiss, seperti dikutip Bloomberg, Senin (22/10/2018).

Namun demikian, ECB bisa saja tidak setuju dengan pendapat tersebut. Pasalnya, risiko yang membayangi pertumbuhan saat ini masih berasal dari meningkatnya proteksionisme, kerentanan negara berkembang, dan volatilitas pasar keuanga.

Sebelumnya, Draghi menyampaikan bahwa Brexit tanpa kejelasan akan memberikan risiko negatif yang signifikan terhadap stabilitas keuangan dengan risiko secara keseluruhannya akan terbatas.

Anggora Dewan Eksekutif ECB yang juga Gubernur Bank Sentral Belanda Yves Mersch sebelumnya juga menilai Brexit memang ancaman bagi pertumbuhan. Dia mengungkapkan bahwa pejabat bank sentral akan lebih dipandu dan bersiap terhadap sejumlah ancaman eksternal yang dapat memengaruhi perekonomian UE.

“Hal itu [Brexit] adalah risiko negatif, tapi mungkin tidak akan terjadi, atau terjadi dalam skala yang lebih kecil dari yang kami perkirakan,” ujarnya.

Adapun kesempatan berikutnya bagi bank sentral untuk mendiskusikan masalah Brexit adalah pada Rapat Kebijakan yang diselenggarakan pekan ini.

Dalam rapat pada 24—25 Oktober 2018 tersebut, ECB akan meninjau kembali rencana pembelian obligasi yang dijadwalkan untuk berhenti pada akhir tahun ini dan prospek kenaikan suku bunga pada akhir 2019.

Tag : ecb, Brexit
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top