Pemerintah Incar Defisit Keseimbangan Primer Rp0, Realistiskah?

Bisnis.com, JAKARTA - Menginjak tahun kelima, pemerintah memiliki target yang cukup ambisius untuk mengembalikan keseimbangan primer yang defisit mendekati ke titik Rp0 bahkan surplus.
Edi Suwiknyo | 23 Oktober 2018 14:34 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani/JIBI - BISNIS/Rinaldi Mohamad Azka

Bisnis.com, JAKARTA - Menginjak tahun kelima, pemerintah memiliki target yang cukup ambisius untuk mengembalikan keseimbangan primer yang defisit mendekati ke titik Rp0 bahkan surplus.

Data Kementerian Keuangan, keseimbangan primer mulai tercatat defisit sejak 2012, saat itu besaran defisit keseimbangan primer mencapai 0,16% dari PDB. Kondisi ini memuncak pada 2015, saat itu defisit keseimbangan primer mencapai 1,23% dari PDB.

Berdasarkan catatan Bisnis, salah satu penyebab membengkaknya defisit keseimbangan adalah shortfall penerimaan pajak yang cukup lebar, realisasi penerimaan pajak saat itu hanya 81,5% dari target APBN Perubahan 2015 senilai Rp1.294 triliun.

Shortfall penerimaan pajak kala itu, juga membuat defisit anggaran tembus pada angka 2,59%. Atau yang tertinggi sejak 2012.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa optimisme pemerintah soal defisit keseimbangan primer tersebut bisa didorong oleh kemampuan membayar bunga utang dari sumber pendapatan negara (pajak dan PNBP) meningkat.

"Tren penurunan tersebut terjadi sejak 2014 yaitu dari Rp93,3 triliun [0,92% terhadap PDB] menjadi Rp64,8 triliun [0,44% terhadap PDB]," jelasnya dikutip dari keterangan resmi, Selasa (23/10/2018).

Untuk tahun ini, pemerintah memproyeksikan keseimbangan primer mencapai 0,44% dari PDB dan akan terus mengecil pada angka 0,13% atau Rp21,7 triliun dari PDB. Namun demikian, tantantan dari aspek penerimaan, meskipun perlahan mulai mengalami perbaikan tetap menghadang, jika tren shortfall penerimaan pajak tak segera diakhiri.

Tag : apbn
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top