Perang Dagang Dorong Peningkatan Arus FDI di Sejumlah Negara Asean

Arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment) kian intensif memasuki Asia Tenggara di tengah-tengah perang dagang antara AS dan China.
Dwi Nicken Tari | 23 Oktober 2018 13:15 WIB
Ilustrasi. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment) kian intensif memasuki Asia Tenggara di tengah-tengah perang dagang antara AS dan China. Pasalnya, sengketa dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia itu telah memicu beberapa perusahaan mengalihkan produksinya ke kawasan Asean.

Berdasarkan Maybank Kim Eng Research Pte., arus modal masuk untuk manufaktur di Vietnam telah melonjak 18% untuk pertama kalinya pada periode Januari—September 2018.

Kenaikan itu didorong oleh inbestasi sebesar US$1,2 miliar dari proyek produksi polypropylene oleh Hyosung Corp. milik Korea Selatan.

Sementara pada periode Januari—Juli 2018, menurut data Bank Sentral Thailand, FDI di Thailand tumbuh 53% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya menjadi US$7,6 miliar ditopang oleh inflow manufaktur yang melonjak hampir lima kali lipat.

Begitu pula di Filipina, FDI bersih untuk manufaktur menanjak hingga US$861 juta pada periode Januari—Juli, dibandingkan US$144 juta pada periode tahun sebelumnya.

“Perang dagang AS—China dapat menarik lebih banyak perusahaan untuk pindah ke Asean untuk menghindari tarif,” kata ekonom Maybank Chua Hak Bin dan Lee Ju Ye dalam catatan, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (23/10/2018).

Keduanya mencatat, sektor seperti produk konsumen, industri, teknologi dan perangkat keras komunikasi, otomotif, serta bahan kimia telah menjadi penarik minat perusahaan asing terhadap Asia Tenggara

Berdasarkan survei Bloomberg yang dilaksanakan pada 29 Agustus—5 September 2018, kawasan Asia Tenggara memang tampil sebagai kawasan yang dapat mengambil untung dari perang dagang. 

Pasalnya, kawasan tersebut menjadi tempat alternatif bagi perusahaan yang ingin merelokasi produksinya dari China untuk menghindari tarif. Sekitar sepertiga dari lebih dari 430 perusahaan AS di China telah atau tengah mempertimbangkan untuk memindahkan situs produksinya ke luar negeri akibat tensi dagang tersebut.

“Eskalasi tensi dagang hanya akan mempercepat tren berjalan. Asia Tenggara melayani keduanya, sebagai pasar dengan pertumbuhan yang besar—tempat yang menawarkan harga produksi yang murah dan liberalisasi perdagangan—dan sumber mitigasi dari risiko geopolitik,” kata Trinh Nguyen, Ekonom Senior di Natixis Asia Ltd., Hong Kong.

Namun, tentu saja kawasan Asia Tenggara tidak imun terhadap setiap risiko yang ada. Misalnya di Thailand, perang dagang tercatat sebagai salah satu faktor yang menyebabkan ekspornya tertekan pada September.

Tag : investasi langsung, perang dagang AS vs China
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top