FII Terus Berjalan Kendati Tamu Banyak yang Batalkan Kehadiran

Kepala Investasi Milik Negara (Sovereign Wealth Fund/SWF) Arab Saudi tetap membuka KTT Future Investment Initiative (FII) pada Selasa (22/10) kendati telah diboikot oleh beberapa tokoh politik barat dan para eksekutif perbankan internasional.
Dwi Nicken Tari | 23 Oktober 2018 18:31 WIB
ilustrasi - reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Kepala Investasi Milik Negara (Sovereign Wealth Fund/SWF) Arab Saudi tetap membuka KTT Future Investment Initiative (FII) pada Selasa (22/10) kendati telah diboikot oleh beberapa tokoh politik barat dan para eksekutif perbankan internasional.

Direktur Pelaksana Public Investment Fund (PIF) Yasir Al-Rumayyan membuka konferensi yang akan berlangsung selama tiga hari di Riyadh bersama miliarder Arab Saudi Lubna Olayan, CEO Russian Direct Investment Fund Kirill Dmitriev, dan CEO Mubadala Investment Co. Khaldoon Al Mubarak. PM Pakistan Imran Khan juga dijadwalkan untuk menyampaikan sambutan pada pembukaan konferensi tersebut.

Al-Rumayyan menyampaikan bahwa Arab Saudi telah semakin transparan dan PIF milik Kerajaan Arab Saudi akan terus mengembangkan industri baru di bawah reformasi ekonomi yang diluncurkan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Mengutip Reuters, Selasa (23/10), Al-Rumayyan mengumumkan bahwa SWF milik Kerajaan Arab Saudi tersebut telah memberikan investasi untuk 50 atau 60 perusahaan lewat Vision Fund milik SoftBank Group dan ke depannya akan membawa bisnis tersebut ke dalam negeri.

Selanjutnya, Arab Saudi selaku eksportir minyak terbesar di dunia tersebut diharapkan bakal menandatangani sejumlah kesepakatan yang nilainya lebih dari US$50 miliar di sektor migas, industri, dan infrastruktur.

Adapun, perusahaan yang turut dalam hari pertama ini termasuk di antaranya Trafigura, Total, Hyundai, Norinco, Schlumberger, Halliburton dan Baker Hughes.

Namun, berbeda dengan KTT tahun lalu yang berhasil menarik para elit bisnis global, pertemuan kali ini telah terkena boikot dengan mundurnya beberapa pembicara level tinggi akibat kasus pembunuhan kritikus pemerintah Arab Saudi Jamal Khassoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada awal bulan ini.

Pasalnya, banyak investor asing yang menilai bahwa kasus tersebut dapat merusak hubungan Riyadh dengan pemerintah-pemerintah di barat.

Padahal,  ratusan bankir dan eksekutif perusahaan yang bergabung dalam FII tersebut telah dirancang untuk dapat mengalirkan miliaran dolar AS dalam bentuk modal asing untuk membantu mereformasi ekonomi Arab Saudi dari ketergantungan terhadap ekspor minyak.

Indeks saham Arab Saudi pun melemah 1,6% pada awal perdagangan Selasa (22/10/2018), sebelum kembali menguat.

Adapun dalam sesi pembukaan tersebut, Lubna Olayan menyampaikan bahwa pembunuhan atas kolumnis Washington Post adalah “alien” bagi budaya Arab. Dia juga menyerukan keyakinan bahwa Kerajaan Arab Saudi akan semakin kuat ke depannya.

Dalam kesempatan yang sama, Dmitriev menyampaikan bahwa diversifikasi ekonomi Arab Saudi sangat penting bagi dunia dan perusahaan Rusia, khususnya perusahaan minyak dan petrokimia. Dia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut ingin masuk ke dalam pasar Arab Saudi.

“Arab Saudi adalah mitra yang besar bagi kami, tidak hanya dalam kemitraan investasi atau minyak. Kami percaya modernisasi dan transformasi Arab Saudi benar-benar bersejarah,” ujarnya.

Tag : arab saudi
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top