Bahan Pokok Mahal, Gizi Buruk Anak Indonesia Terus Meningkat

Stunting atau gizi buruk di Indonesia menempati peringkat kelima dunia. Ini diyakini bisa semakin parah jika ekonomi Indonesia terus memburuk misalnya harga bahan pokok tinggi, lapangan pekerjaan susah, dan pengangguran semakin banyak.
Jaffry Prabu Prakoso | 25 Oktober 2018 04:03 WIB
Ilustrasi gizi buruk - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Stunting atau gizi buruk di Indonesia menempati peringkat kelima dunia. Ini diyakini bisa semakin parah jika ekonomi Indonesia terus memburuk misalnya harga bahan pokok tinggi, lapangan pekerjaan susah, dan pengangguran semakin banyak.

Masalahnya, untuk makan sehari-hari saja masyarakat Indonesia terlebih yang berada di daerah-daerah masih susah terpenuhi dengan baik.

Dokter muda dari Indonesian Islamic Youth Economic Forum Dhienda Nasrul mengatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sangat memengaruhi terjadinya gizi buruk.

"Jadi memang jika harga bahan makanan tinggi, bagi masyarakat yang tidak mampu akan berpengaruh terhadap gizi buruk kepada anak-anaknya," kata Dhienda dalam acara diskusi Rabu Biru bertema Generasi Emas Menuju Indonesia 2030 di Prabowo-Sandi Media Center di Jakarta pada Rabu (24/10/2018).

Suasana diskusi Generasi Emas Menuju Indonesia 2030 di Prabowo-Sandi Media Center, Jakarta, Rabu (24/10/2018). - Jaffry Prabu Prakoso

Dhienda menjelaskan bahwa kondisi ekonomi yang baik akan berjalan beriringan dengan menurunnya tingkat gizi buruk di Indonesia. Angka gizi buruk di Indonesia bisa terus bertambah jika kondisi ekonomi terus merosot, yang membuat harga bahan pokok susah dijangkau masyarakat kelas bawah.

"Memang masalah sosial ekonomi ini ujungnya bisa mengakibatkan pertumbuhan yang kurang," tutur Dhienda.

Senior Analyst Sandinomics Arie Mufti menyampaikan bahwa saat ini 9 juta anak Indonesia menderita gizi buruk. Hal ini akan semakin menjadi ancaman besar karena Indonesia akan mengalami bonus demografi.

"Masih ada banyak anak-anak kita yang tertinggal. Ini kegagalan besar yang mengancam optimalisasi bonus demografi," ujarnya.

Generasi milenial, menurutnya, sangat bisa diandalkan untuk terlibat dalam program penyuluhan bahaya stunting tersebut yang sejalan dengan visi Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Prabowo-Sandi sangat concern pada isu stunting karena menyangkut generasi emas bangsa Indonesia.

"Sangat relevan milenial untuk menjadi agenda masalah stunting sebagai the fight of the generations. Bukan hanya urusan jaringan puskesmas, BPJS, it’s the fight of our generations, the meillenial generations. Jangan sampai kita kehilangan bonus demografi kita. Jangan jadi tua sebelum bangsa kita makmur," papar Arie.

Pengurus Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Reza Indragiri Amriel, mengajak semua elemen masyarakat untuk terus memberikan pemahaman bahaya stunting bagi anak-anak generasi penerus bangsa.

Kesehatan fisik, ucapnya, bisa memengaruhi kesehatan berpikir anak-anak generasi milenial. Untuk itu, tidak ada alasan bagi Indonesia tidak membenahi perekonomian yang berdampak kepada harga bahan pokok mahal dan terjadinya gizi buruk.

"Saya sepakat kesehatan fisik merupakan hal yang penting kemampuan berpikir juga hal yang penting 80 banding 20. 20% terletak pada kecerdasan kognitifnya, 80% adalah letak pada kepribadian," jelasnya.

Ket foto:Pengurus Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Reza Indragiri Amriel, Senior Analyst Sandinomics Arie Mufti, danDokter muda dari Indonesian Islamic Youth Ekconomic Forum Dhienda Nasrul saat acara diskusi Rabu Biru bertema Generasi Emas Menuju Indonesia 2030 di Prabowo-Sandi Media Center, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu (24/10/2018).

Tag : stunting, Gizi Buruk
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top