Industri Dinilai Sedang Mainkan Inventory, Ini Alasannya 

Geliat performa manufaktur dalam negeri seperti tercermin dalam pertumbuhan Prompt Manufacturing Index (PMI) berada di atas 50% dalam tiga kuartal terakhir. Hal itu mengindikasikan upaya industri bersiap menghadapi tekanan biaya produksi ke depannya.
Hadijah Alaydrus | 26 Oktober 2018 20:59 WIB
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA--Geliat performa manufaktur dalam negeri seperti tercermin dalam pertumbuhan Prompt Manufacturing Index (PMI) berada di atas 50% dalam tiga kuartal terakhir. Hal itu mengindikasikan upaya industri bersiap menghadapi tekanan biaya produksi ke depannya. 

Ekonom PT Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan kemungkinan besar industri manufaktur melakukan produksi lebih banyak pada saat ini karena pengusaha melihat potensi gejolak nilai tukar yang masih berlanjut.

"Jadi mereka percepat produksi walaupun pesanan tidak sebanyak sebelumnya. Mereka punya inventory cukup besar, karena volume barang jadi itu naik 54,10%," ujar Lana, Jumat (26/10/2018).

PMI Bank Indonesia mencatat volume persediaan barang jadi tercatat meningkat sebesar 54,10%, dibandingkan 53,15% pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, volume pesanan tumbuh 53,37% pada kuartal III/2018, atau sedikit melambat jika dibandingkan 54,57% pada kuartal kedua.

Gejolak nilai tukar dinilai dapat mendorong harga bahan baku yang berbasis impor semakin mahal. Lana juga melihat pengusaha memiliki kekhawatiran terkait isu kenaikan harga BBM jenis premium yang sempat ditunda.

"Jadi mumpung biaya produksi masih murah karena upah tenaga kerja dan tarif dasar listrik belum nai, jadi kenapa mereka tidak produksi sekarang. Ketika nanti semua naik, mereka bisa jual barangnya dengan harga yang lebih tinggi," kata Lana. 

Jika ke depan biaya produksi meningkat, Lana mengungkapkan industri pada akhirnya akan membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.

Ekonom LPEM UI Fithra Faisal menuturkan data PMI ini menunjukkan adanya permainan inventory dari industri pengolahan. Itu terjadi karena industri mengejar biaya produksi yang masih sesuai budget

"Mereka kejar produksi karena ada kenaikan ongkos produksi yang cukup signifikan tahun depan. Pada 2019 ada ancaman dari sisi eksternal, isu trade war yang bisa menganggu mitra dagang kita dan ada tekanan dari rupiah yang bisa semakin kencang," ujar Fithra. 

Fithra mengkhawatirkan ketika gejolak nilai tukar semakin kuat, melihat normalisasi suku bunga AS yang masih terus hawkish ke depannya, pengusaha tidak hanya akan membebankan harga kepada konsumen, melainkan juga memperlambat produksinya. Dengan demikian, ekspansi PMI dapat turun di bawah 50% ke depannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur, industri, stok

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top