Laba Bank Papan Atas Terjaga, Sahamnya masih Oke

Bank-bank papan atas bisa mempertahankan pertumbuhan laba di tengah tekanan biaya dana yang meningkat. Perbaikan kualitas aset dan langkah efisiensi menjadi kunci dalam menjaga kinerja keuangan.
Tim Bisnis Indonesia
Tim Bisnis Indonesia - Bisnis.com 26 Oktober 2018  |  13:42 WIB
Laba Bank Papan Atas Terjaga, Sahamnya masih Oke
Kinerja emiten bank papan atas kuartal III/2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Bank-bank papan atas bisa mempertahankan pertumbuhan laba di tengah tekanan biaya dana yang meningkat. Perbaikan kualitas aset dan langkah efisiensi menjadi kunci dalam menjaga kinerja keuangan.

Kinerja emiten bank papan atas menjadi sorotan headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Jumat (26/10/2018). Berikut laporannya.

Selain itu, bank papan atas diuntungkan oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee based income. Oleh sebab itu, laba bank besar rata-rata tumbuh di atas industri yang pada kuartal III/2018 tumbuh 8,36% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Salah satunya, PT Bank Central Asia Tbk., yang per kuartal III/2018 menorehkan laba bersih setelah pajak sebesar Rp18,5 triliun, naik 9,9% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bank milik grup Djarum tercatat turun tipis 30 bps menjadi 6,1%.

Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan, sejak awal tahun margin bunga bersih terus mengalami tekanan karena ke­­naik­­­an bunga dana. Padahal, pada awal tahun NIM masih sempat tumbuh sebagai dampak dari penurunan suku bunga tahun lalu.

“Kami proyeksikan angka sekarang akan stabil sampai akhir tahun,” katanya dalam paparan publik kinerja BCA kuartal III, Kamis (25/10).

Perolehan laba BCA juga diikuti oleh kenaikan penyaluran kredit sebesar 17,3%, menjadi Rp516 triliun. Kredit korporasi melesat 23,3% menjadi Rp199,2 triliun, terutama berasal dari sektor jasa keuangan, telekomunikasi, serta minyak nabati dan hewani.

Pada saat yang sama, kredit komersial dan usaha kecil menengah (UKM) tumbuh 17,6% menjadi Rp176,4 triliun. Kredit konsumer yang terbilang sensitif terhadap suku bunga meningkat 9,0%, menjadi Rp139,9 triliun.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. pada kuartal III/2018 mencatat laba Rp2,2 triliun atau naik 11,51%. Meskipun laba tumbuh, NIM menyusut sebesar 14 basis poin menjadi 4,35%.

“Ini memang akibat kondisi ekonomi yang relatif lebih berat dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Direktur Keuangan dan Tresuri BTN Iman Nugroho Soeko, kemarin.

Menurut Direktur Utama BTN, Maryono, pendapatan perseroan juga disokong oleh fungsi intermediasi. Pada kuartal III/2018, BTN menyalurkan pendanaan sebesar Rp220,07 triliun atau naik 19,28% yoy.

BTN dalam hal itu diuntungkan oleh Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Hal senada juga dirasakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang mencatat penurunan margin bunga bersih per September 2018 sebesar 52 bps dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 7,61%.

Merosotnya NIM diikuti oleh biaya dana (cost of fund) ke level 3,41% dibandingkan dengan 3,47% pada September 2017.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengungkapkan penurunan NIM ini disebabkan biaya dana yang naik. “Salah satu penyebab biaya dana meningkat karena setelah kuartal II-2018 lalu adanya waktunya untuk membayar dividen,” kata Haru.

Haru mengatakan bahwa pendapatan berbasis komisi dan efisiensi operasional juga memiliki peran penting. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) BRI per September 2018 tercatat 70,6%, lebih rendah dibandingkan dengan September 2017 sebesar 73,2%.

“Ini tak lepas dari strategi perusahaan yang terus berinovasi melakukan digitalisasi baik dalam produk maupun layanannya,” katanya.

Menurut Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Panji Irawan, kenaikan suku bunga acuan hingga volatilitas ekonomi global memengaruhi bisnis perseroan. Mandiri mencatat NIM sebesar 5,76% pada kuartal III/2018, dari 5,86% pada periode yang sama tahun lalu.

Di tengah kondisi tersebut, Mandiri membukukan laba bersih setelah pajak Rp18,1 triliun, naik 20% yoy. Sampai dengan akhir tahun ini Mandiri memiliki target optimistis untuk pencapaian pendapatan bersih sekitar Rp22 triliun—Rp24 triliun.

Direktur dan Operasional PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Bob Tyasika Ananta mengatakan NIM perbankan secara industri memang mengalami tekanan yang dipicu dari kondisi ekonomi global dengan indikator kenaikan suku bunga The Fed yang berimbas pada kenaikan BI Rate.

KURANG BERUNTUNG

Sementara itu, masih ada bank yang kurang beruntung pada kuartal ketiga tahun ini. Salah satunya PT Bank Pan Indonesia Tbk yang mencatatkan penurunan laba bersih konsolidasi 1,46% menjadi Rp2,15 triliun dari periode sebelummnya Rp2,18 triliun.

Namun, secara individu, bank milik taipan Mukmin Ali Gunawan itu tumbuh 7,6% yoy menjadi Rp2,2 triliun. Penurunan laba konsolidasi Bank Panin menyusut dibandingkan dengan kuartal II/2018 yang turun 3,4%.

Sementara itu, pertumbuhan laba bersih PT Bank Maybank Indonesia Tbk. diperkirakan berada di bawah rata-rata industri hingga akhir tahun ini.

Presiden Direktur Bank Maybank Taswin Zakaria mengatakan hal itu merupakan imbas dari one-off income hasil kerja sama bancassurance antara perseroan dengan Allianz Life Indonesia. Kemitraan tersebut berbentuk pemasaran yang dilakukan oleh perseroan.

Adapun, Dirut PT Bank Permata Tbk Ridha D.M. Wirakusumah mengatakan penurunan laba terjadi karena perseroan tengah memperbaiki dana talangan untuk mengantisipasi tren kenaikan kredit bermasalah. (Muhammad Khadafi /Ipak Ayu H. Nurcaya/Andi M. Arief/Nirmala Aninda)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top