Sambut Industri 4.0, Pemerintah Tingkatkan SDM Lewat Pendidikan Vokasi

Menyambut era industri 4.0, pemerintah fokus pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan dan pelatihan vokasi.
Muhammad Ridwan | 27 Oktober 2018 15:57 WIB
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Rudy Salahuddin (kedua kanan) dalam talkshow Vokasi untuk Menciptakan Tenaga Kerja Berkualitas di Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (27/10). - Bisnis/Muhammad Ridwan

Bisnis.com, MANADO -- Menyambut era industri 4.0, pemerintah fokus pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan dan pelatihan vokasi.

Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Rudy Salahuddin dalam talkshow “Vokasi untuk Menciptakan Tenaga Kerja Berkualitas di Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (27/10/2018).

“Saat ini, kita tengah memasuki industri 4.0 dan membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan andal sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Industri (DUDI). Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan vokasi penting untuk dilaksanakan,” ujarnya.

Untuk itu, pemerintah menyusun peta jalan atau road map untuk pendidikan dan pelatihan vokasi 2017-2025. Terdapat empat fokus kebijakan dalam peta jalan yang disusun.

Pertama, dengan mendorong pemenuhan tenaga kerja untuk enam sektor prioritas.

“Dalam upaya menyiapkan tenaga kerja untuk produk-produk unggulan yang mempunyai nilai tambah tinggi dan kebutuhan permintaan global, pengembangan kerja sama pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia dapat difokuskan pada enam sektor motor ekonomi Indonesia yaitu agribisnis, pariwisata, e-commerce, manufaktur, healthcare, dan ekspor tenaga kerja,” sebut Rudy.

Kedua, mendorong pemenuhan tenaga kerja untuk program prioritas pemerintah. Ketiga, fokus pada lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi.

Terakhir, perbaikan fundamental pendidikan dan pelatihan vokasi yang terdiri dari memperbaiki lembaga pendidikan, meningkatkan standar kompetensi, meningkatkan kualitas pemagangan, meningkatkan sarana dan prasarana, meningkatkan pendanaan, serta meningkatkan koordinasi.

Dalam seminar tersebut, yang menjadi fokus bahasan adalah percontohan atau pilot project yang dilakukan Kemenko Perekonomian.

SMK PPN Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat dijadikan sekolah percontohan untuk pengembangan kualitas pendidikan. Sekolah ini difokuskan pada pengembangan kurikulum jurusan kopi.

Siswa SMK PPN Tanjungsari diajari mengenai pembibitan kopi, proses menanam, serta mengolah, sehingga saat lulus para siswa sudah siap terjun ke dunia industri.

“Indonesia salah satu negara terbesar penghasil kopi, tapi tidak memiliki pendidikan khusus terkait kopi. Pengembangan kurikulum kopi bertujuan untuk mengembangkan komoditas dan industri kopi di Indonesia, termasuk penyiapan dukungan SDM mulai dari hulu hingga ke hilir,” lanjut Rudy.

SMK PPN Tanjungsari dipilih karena sudah memiliki kejuruan di bidang agribisnis dan perkebunan, sehingga penyesuaian kurikulum dapat dilakukan dengan mudah. Sekolah ini juga dipilih karena sudah memiliki kesiapan terkait guru serta sarana dan prasarana, sehingga lebih tepat sebagai pilot project.

“Nantinya, siswa SMK yang masuk pada jurusan kopi akan menyelesaikan masa belajarnya selama 3 tahun dan akan mendapatkan 6 sertifikasi kompetensi di bidang perkopian. Dengan pilot project ini, akan semakin terbuka kesempatan bekerja di perusahaan perkebunan kopi, coffee and roastery chain store, serta membuka kebun atau coffee and roastery store,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenko perekonomian, Revolusi Industri 4.0

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top