Ekonomi Eropa: Draghi Tekankan Independensi dan Kredibilitas ECB

Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi menekankan pentingnya independensi bank sentral.
Dwi Nicken Tari | 28 Oktober 2018 15:26 WIB
Gubernur ECB Mario Draghi - Reuters/Francois Lenoir

Bisnis.com,  JAKARTA—Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi menekankan pentingnya independensi bank sentral.

Hal itu diungkapkan setelah populis Italia menuduhnya menambah tensi ke dalam pasar yang dapat mengancam kesehatan perbankan Negeri Pisa.

“Kredibilitas bergantung pada kemerdekaan. Bank sentral seharusnya tidak dijadikan subjek untuk dominasi fiskal dan politik, dan harus bebas memilih instrumen apapun yang pantas untuk menyampaikan mandatnya. Untuk itu, legislator harus melindungi independensi bank sentral,” kata Draghi dalam pidatonya di Brussels pada akhir pekan lalu, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (28/10).

Adapun, Draghi telah terseret ke dalam ‘perselisihan publik’ bersama pemerintahan negara asalnya, setelah dia menggarisbawahi risiko meningkatnya yield obligasi akibat perselisihan anggaran Italia dengan Uni Eropa.

Draghi menggunakan konferensi pers setelah Rapat Kebijakan ECB pada Kamis (25/10) untuk mengimbau kepada Italia supaya pemerintah ‘mengurangi suara’ dan menyarankan kepada Pemerintah Italia untuk mengambil kebijakan yang dapat mengendalikan biaya pinjaman.

Wakil PM Italia Luigi Di Maio pun langsung merespons imbauan Draghi keesokan harinya. Dia menuduh Draghi ‘meracuni iklim’ dan Kepala Komite Keuangan Senat Italia Alberto Bagnai menilai bahwa peringatan Gubernur ECB tersebut tidak jelas.

Aksi saling balas retorika tersebut pun memperlihatkan bahwa independensi bank sentral berada di bawah serangan negara-negara yang memiliki kekuatan kelompok populis.

Sejauh ini, Bank Sentral Inggris (BoE) juga selalu mendapat tekanan dari para pembuat kebijakan yang pro-Brexit terkait peringatan risiko ekonomi yang dapat dilanda Inggris setelah berpisah dengan UE.

Selain itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang memiliki kepercayaan anortodoks, yaitu kepercayaan bahwa suku bunga tinggi dapat mengekang inflasi, telah berulang kali menyerang bank sentral Turki karena menaikkan suku bunga.

Di negara ekonomi utama dunia, Presiden AS Donald Trump, bahkan telah acap kali menuduh bank sentral AS (Federal Reserve) menghalangi pertumbuhan ekonomi dan menyebabkan aksi jual di pasar saham akibat kenaikan suku bunganya.

“Hari ini ada di dalam yurisdiksi lain, bagian lain di dunia, kami melihat kekhawatiran diekspresikan secara publik terkait pilihan bank sentral yang harus berjalan ke arah normalisasi dengan bantuan kenaikan inflasi,” ujar Draghi.

Dia mengingatkan bahwa keluarnya bank sentral dari program stimulus longgar sejauh ini memberikan konsekuensi yang terbatas karena independensi dan kredibilitas yang dimiliki bank sentral.

Adapun, Italia telah menggandakan target defisit anggaran pemerintah menjadi 2,4% dari output pada 2019, kendati memiliki jumlah beban utang yang setara dengan 130% dari PDB, setelah Komisi Eropa menolak proposal anggarannya.

Kendati Draghi dengan yakin menyampaikan bahwa kedua belah pihak akan mencapai kesepakatan, dia tetap menekankan bahwa ECB dilarang oleh hukum untuk mendanai (memberikan pinjaman) suatu pemerintahan.

Pada perkembangan terpisah, S&P Global Ratings mengikuti jejak Moody’s untuk memangkas outlook peringkat utang Italia menjadi ‘negatif’, atau ke level BBB, dua level di atas junk, pada akhir pekan lalu.

Walaupun hal itu dipandang sebagai keberhasilan Italia menghindari pemangkasan tingkat utang yang terlalu dalam, posisi Italia tetap masih berisiko. Sebelumnya Moody’s Investor Sevice memangkas outlook Italia ke satu level di atas junk.

Tag : ecb
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top