Ekonomi China: Laba Industri Melambat untuk Bulan Kelima

Pertumbuhan laba korporasi industri di China melemah untuk bulan kelima berturut-turut. Hal itu disebabkan oleh dampak selisih dagang dengan AS dan perlambatan ekonomi China.
Dwi Nicken Tari | 28 Oktober 2018 15:45 WIB
Ekonomi China. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Pertumbuhan laba korporasi industri di China melemah untuk bulan kelima berturut-turut. Hal itu disebabkan oleh dampak selisih dagang dengan AS dan perlambatan ekonomi China.

Biro Statistik Nasional (NBS) China mencatat, laba industri tumbuh 4,1% menjadi 545,5 miliar yuan (US$76,6 miliar) pada September dibandingkan dengan tahun sebelumnya, atau turun dari 9,2% pada Agustus.

 Adapun, sepanjang Januari—September 2018, laba perusahaan industri di China tumbuh 14,7% menjadi 4,97 triliun yuan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu lebih renda dari kenaikan laba sepanjang Januari-Agustus 2018 yang sempat melaju 16,2%. Adapun, pertumbuhan laba itu ditopang oleh kinerja produsen baja, bahan bangunan, minyak, dan petrokimia.

“Dalam 9 bulan pertama, 34 dari 41 sektor industri merasakan kenaikan laba secara tahunan,” tulis He Ping dari NBS melalui pernyataan tertulis, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (28/10).

Dia menjelaskan, pendapatan korporasi industri pada September telah tertekan karena perlambatan di sektor produksi dan penjualan, berkurangnya pertumbuhan harga, dan meningkatnya basis statistikal dari tahun lalu.

Selain itu, He menambahkan, eskalasi perang dagang dengan AS juga menambah tekanan terhadap hasil produksi secara keseluruhan. Hal itu pun membawa ancaman terhadap ‘mendinginnya’ investasi bisnis dan pertumbuhan pendapatan untuk beberapa bulan ke depan.

Namun, perlambatan tersebut sebanding dengan data yang diterbitkan sebelumnya, yaitu data hasil industri (output) China pada September yang bergerak dalam laju terlemahnya sejak Februari 2016.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa ekonomi China pada kuartal III/2018 tumbuh dalam laju terlambatnya sejak krisis keuangan global.

Sektor manufaktur China juga sebelumnya telah mendapat tekanan dari berkurangnya sumber kredit karena kampanye pemerintah untuk memberantas praktik peminjaman berisiko.

Sementara itu, meskipun saat ini otoritas China telah mengambil langkah untuk melonggarkan tekanan likuiditas perusahaan, tetapi masih banyak korporasi yang menghadapi kesulitan untuk mendapatkan pendanaan. Suku bunga untuk pinjaman pun telah meningkat karena berkurangnya pasokan kredit.

Selain itu, berkurangnya laba industri juga disebabkan oleh mendinginnya pasar properti di China yang telah melemahkan permintaan untuk barang dan jasa yang berhubungan dengan konstruksi. Adapun, sektor properti merupakan salah satu mesin pertumbuhan Negeri Panda.

Selanjutnya, perlambatan laba korporasi akan menambah tekanan terhadap pasar pekerja dan menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang akhirnya memukul pertumbuhan ekonomi China secara keseluruhan.

Tag : ekonomi china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top