China Kaji Pemangkasan Pajak, Saham Produsen Mobil di Eropa Meningkat

Badan perencanaan ekonomi utama China mengajukan proposal untuk memangkas pemberlakuan pajak untuk pembelian mobil hingga 50%.
Dwi Nicken Tari | 29 Oktober 2018 19:18 WIB
ilustrasi - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Badan perencanaan ekonomi utama China mengajukan proposal untuk memangkas pemberlakuan pajak untuk pembelian mobil hingga 50%.

Hal itu seiring dengan dampak perang dagang dan perlambatan ekonomi  telah menyebabkan berkurangnya permintaan di pasar otomotif terbesar di dunia tersebut.

Saham produsen mobil asal Eropa, seperti BMW, Volkswagen, dan Daimler  langsung menguat setelah pengumuman tersebut. Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Senin (29/10), saham BMW naik 5,09%, saham Volkswagen meningkat 4,53%, dan Daimler menguat 4,79%.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi China telah semakin melambat pada Oktober, ketika konflik perdagangan dengan AS semakin intensif dan para pembuat kebijakan di Negeri Panda mulai mengalihkan fokus untuk memberikan dukungan terhadap pebisnis.

Hal itu disampaikan oleh Bloomberg Economics yang menghitung indikator awal yang tersedia untuk kondisi bisnis dan sentimen pasar. Namun, upaya dari Pemerintah China untuk menstabilkan selera eksekutif dan investor juga masih belum efektif sejauh ini.

Kondisi ekonomi China pada kuartal IV/2018 pun akan semakin dicermati, dengan perhatian tertuju pada cara pemerintah menopang laju pertumbuhan di level stabil tanpa menambah tumpukan utang.

Dengan performa ekonomi China yang memburuk pada kuartal III/2018, diperkirakan sebagian besar dampak dari perang dagang dan perlambatan ekonomi masih akan terasa hingga akhir tahun.

“Indikator awal menunjukkan bahwa kondisi akan terus melemah, baik di domestik maupun dari eksternal,” kata Kepala Ekonom Asia di Bloomberg Chang Shu, Senin (29/10/2018).

Dia memaparkan bahwa sentimen ekonomi sangat lemah, khususnya bagi perusahaan swasta yang kecil di China. Shu berharap, dukungan kebijakan dari pemerintah dapat menopang perekonomian untuk segala aspek pertumbuhan, termasuk di bidang ekspor, konsumsi, dan investasi.

Pada bulan ini, Pemerintah China telah mengenalkan sejumlah langkah yang diambil untuk menjaga stabilitas sentimen, misalnya dengan menambahkan likuiditas ke dalam sistem keuangan, mengurangi pajak untuk rumah tangga, dan menargetkan langkah-langkah yang dapat membantu eksportir.

Para pejabat level tinggi, termasuk Presiden China Xi Jinping pun berjanji untuk menjaga keyakinan investor, memberikan komentar terkait kekuatan fundamental ekonomi China, dan berusaha berbicara mengenai kinerja pasar saham yang pada bulan ini telah anjlok hampir 8%.

Sementara itu, dalam perkembangan terpisah, rencana China untuk mendominasi teknologi di masa depan dipercaya menjadi salah satu batu sandungan untuk prospek resolusi perang dagang dengan AS.

Bloomberg melaporkan, pejabat di kedua belah pihak kian pesimistis akan adanya peluang untuk terobosan yang dapat diambil ketika Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di sela-sela KTT negara kelompok 20 (G20) di Buenos Aires, Argentina, pada 30 November—1 Desember 2018.

Sejauh ini, Trump masih melanjutkan ancamannya untuk menambah tarif atas produk impor asal China sementara Xi berjuang menahan dampaknya di dalam negeri tanpa memperlihatkan tanda-tanda untuk kompromi dalam mengurangi kekuatan teknologi Negeri Panda.

Tag : bursa eropa, ekonomi china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top