Gejolak Emerging Market Menjadi Alasan Penundaan Sejumlah IPO

Para pebisnis, mulai dari miliarder pemilik perusahaan telekonomunikasi di India hingga direktur produsen mesin pijat di Singapura, menunda penawaran umum saham perdana (IPO) karena gejolak di pasar saham negara berkembang (emerging market) semakin mendalam.
Dwi Nicken Tari | 30 Oktober 2018 18:40 WIB
ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Para pebisnis, mulai dari miliarder pemilik perusahaan telekonomunikasi di India hingga direktur produsen mesin pijat di Singapura, menunda penawaran umum saham perdana (IPO) karena gejolak di pasar saham negara berkembang (emerging market) semakin mendalam.

Bloomberg melaporkan, Bhart Airtel Ltd. milik Sunil Mittal di India akan menunda rencana pencatatan saham (listing) untuk unit wireless-nya di Afrika yang senilai US$8 miliar hingga hampir setengah tahun.

Hal itu disampaikan oleh sumber yang mengerti jalannya diskusi. Sumber itu menjelaskan bahwa awalnya perusahaan ingin mencatatkan saham unit usahanya tersebut di London pada Maret tahun depan.

Akan tetapi, perwakilan dari Bharti tetap menegaskan bahwa persiapan dan kemajuan rencana IPO tetap sesuai jadwal dan tidak ada perubahan.
Selain itu, pekan lalu, pengusaha Singapura Ron Sim mengonfirmasi telah menunda rencana pencatatan kembali (relist) saham produsen mesin bangku pijat terbesar di Asia, Osim, di bursa Hong Kong.

Begitu pula STX Entertainment, studio film milik AS yang disokong oleh Tencent Holdings Ltd. STX menyebutkan akan menunda rencana penerbitan saham perdananya di Hong Kong.

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, volatilitas di pasar keuangan telah mengancam predikat tahun ini sebagai tahun listing di Asia, di mana perusahaan berhasil meraup dana segar dalam laju tercepat selama 8 tahun terakhir.

Adapun, data tersebut menunjukkan, perusahaan Asia telah berhasil meraup hingga US$81,3 miliar dalam penjualan saham pertama tahun ini, atau naik dari US$71,6 miliar dalam periode yang sama pada tahun lalu.

Di sisi lain, data tersebut juga menunjukkan bahwa kendati Asia berkontribusi sebagai penawar ekuitas terbesar pada tahun ini, di saat yang sama Benua Kuning juga mendapatkan kerugian terbesar. Dari lima IPO terburuk secara global pada tahun ini, tiga di antaranya berasal dari Asia.

Adapun, saham pengembang perumahan mewah asal Vietnam, Vinhomes JSC, telah turun 33% pada Senin (29/10) sejak IPO yang meraup dana segar senilai US$1,4 miliar pada Mei.

Produsen ponsel pintar Xiaomi Corp. yang saat IPO berhasil meraup dana sebesar US$5,4 miliar juga telah merugi hingga 29% sejak sahamnya mulai diperdagangkan pada Juli.

Adapun, kesepakatan lain juga terganggu akibat gejolak di emerging market pada bulan ini. Di antaranya, anak usaha Tencet yang bergerak di bidang musik daring, telah menunda IPO-nya di AS.

Selain itu, perusahaan real estate dari India Lodha Developers Ltd. juga menyampaikan telah menunda IPO, yang awalnya ingin menghimpun dana hingga 55 miliar rupee atau setara dengan US$749 miliar.

Tag : indeks msci emerging market
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top