Keputusan Angela Merkel Jadi Sentimen Tekanan Tambahan bagi UE

 Setelah sentimen negatif dari Italia, pergerakan Euro kembali tertekan seiring dengan adanya keputusan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk tidak melanjutkan kepemimpinannya setelah 2021.
Dwi Nicken Tari | 30 Oktober 2018 18:50 WIB
Kanselir Jerman Angela Merkel. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah sentimen negatif dari Italia, pergerakan Euro kembali tertekan seiring dengan adanya keputusan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk tidak melanjutkan kepemimpinannya setelah 2021.

Investor khawatir mengenai risiko politik di kawasan Uni Eropa, yang sebelumnya terguncang akibat penolakan proposal anggaran pemerintah Italia dan ketidakpastian Brexit.

Inverstor juga khawatir, ketiadaan Merkel di bangku pemerintahan Jerman dapat mengganggu disiplin anggaran fiskal yang menjadi corak pemerintah Jerman.

Tidak lama setelah pengumuman dari Merkel untuk mundur dari posisi pemimpin yang berhasil menjaga stabilitas Benua Biru tersebut, euro tergerus ke level terlemahnya secara bulanan sejak Mei. 

Hal itu pun menjadikan pelemahan euro mencapai lebih dari 5% di sepanjang tahun berjalan, dan mengganggu ekspektasi analis untuk penilaian reli euro.

Yield obligasi Jerman (bund) ikut melonjak akibat spekulasi berkurangnya kekuatan politik Merkel dapat membuka peluang bagi pengeluaran besar-besaran dari pemerintah Jerman.

Adapun disiplin anggaran dan pengurangan tingkat utang (debt-aversion) telah menjadi ciri khas Pemerintah Jerman, bahkan menjadi semacam obsesi pemerintah selama krisis euro pada akhir 2009.

Hal itu pun menjadikan Jerman sebagai percontohan bagi negara-negara lain karena berhasil mencatatkan surplus anggaran dan mengurangi beban utang pemerintah selama sedekade terakhir.

“Nasib baik atau penilaian baik? Tidak mungkin mengetahui bagaimana ekonomi Jerman tanpa Angela Merkel,” kata Jamie Murray, Ekonom di Bloomberg Economics, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (30/10/2018).

Adapun sejauh ini, sentimen ekonomi di Zona Euro juga telah terganggu akibat ketidakjelasan stabilitas keuangan di Italia, ketidakpastian proses keluarnya Inggris dari UE (Brexit), dan ancaman munculnya partai populis yang berkonspirasi untuk mengubah pola politik UE dalam Pemilu Parlemen UE pada tahun depan.

Tidak hanya itu, persatuan UE juga mendapat tantangan dari pemberian sanksi terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dan upaya menjaga perdamaian di Balkan yang justru muncul di saat Merkel berada di posisi terlemahnya.

“Bagi Uni Eropa dan Zona Euro, satu-satunya yang terburuk dari Jerman yang kuat adalah Jerman yang lemah,” kata Manish Singh, Chief Investment Officer di Crossbridge Capital di London, Inggris.

Dia memaparkan, mundurnya Merkel akan membuat UE kehilangan pemimpin politik yang memiliki kualitas tinggi dan berpengalaman untuk mengeratkan persatuan Benua Biru dalam menghadapi krisis yang satu dan yang lainnya.

Adapun kini, perhatian akan tertuju ke Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk melanjutkan upaya dan kekuatan Merkel dalam menjaga kepentingang Eropa sambil menjaga hubungan dengan Rusia, Turki, dan China.

Macron sendiri menyampaikan bahwa keputusan Merkel tersebut patut dihargai dan keputusan yang sangat terhormat. 

“Dia [Merkel] selalu berjuang untuk nilai-nilai Eropa dengan keyakinan,” ujar Macron dalam konferensi pers bersama PM Ethiopia Abiy Ahmed di Paris.

Tag : uni eropa, Angela Merkel
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top