PENDATAAN PRODUKSI BERAS: BPS Gelontorkan Rp64 Miliar untuk KSA

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengelontorkan Rp64 miliar untuk implementasi pendataan produksi beras nasional dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA).
Hadijah Alaydrus | 31 Oktober 2018 15:33 WIB
Aktivitas pedagang beras lokal di Pasar Sentral Antasari Banjarmasin, Kamis (20/9/2018). - Bisnis/Arief Rahman

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengelontorkan Rp64 miliar untuk implementasi pendataan produksi beras nasional dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA).

KSA adalah teknik pendekatan penyampelan yang menggunakan area lahan sebagai unit enumerasi. 

Sistem ini berbasis teknologi sistem informasi geografi (SIG), pengideraan jauh, teknologi informasi, dan statistika yang saat ini sedang diimplementasikan untuk mendapatkan data dan informasi pertanian tanaman pangan. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto menuturkan dana tersebut akan dipakai untuk pelatihan petugas dan kunjungan ke 217.000 titik persawahan. 

"Dana ini dari APBN, dana BPS, bagian dari efisiensi yang kami gunakan. Jadi tidak ada permintaan khusus tambahan," ujar Kecuk, Rabu (31/10).

Dalam pendataan KSA, BPS setiap bulannya akan melakukan kunjungan ke 217.000 sawah seluruh Indonesia setiap tanggal 23-30.

KSA sendiri sudah berjalan sejak Januari 2018. Ini merupakan bagian dari mandat Wakil Presiden RI sejak pertengahan 2015, yang merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dalam negeri. 

Terkait dengan publikasi data, Kecuk mengatakan pihaknya belum menentukan tata caranya. 

"Apakah 3 bulanan atau 6 bulanan, nanti kami diskusikan," ujar Kecuk. 

Ketua Forum Masyarakat Statistik (FMS) Bustanul Arifin menilai BPS tidak perlu melakukan publikasi per bulan. 

"Sepertinya minimal dua kali setahun, tidak perlu tiap bulan kaya inflasi," tegasnya. 

Dia menambahkan data KSA sangat baik dirilis sebelum musim tanam untuk memberikan sinyal kepada petani, serta sebagai landasan kebijakan pemerintah. 

Di samping hal tersebut, Ekonom Indef ini juga menekankan pentingnya untuk menjelaskan lampiran dari hasil KSA, terutama interpretasi makna dari surplus dan stok. 

Dengan demikian, kesalahan persepsi dapat dihindari. Misalnya, data beras menunjukkan surplus, tetapi pemerintah tetap menjalankan impor. 

"Kami bicara kumulatif dan siklus beras itu seperti kurva Sin. Tinggi pada Maret dan April, kemudian rendah sekarang ini," tegas Bustanul. 

Ke depannya, dia berharap BPS dapat memperluas KSA ini untuk tanaman pangan lain yang penting seperti kedelai dan jagung. 

Namun, FMS memahami kesulitan dari pendataan terhadap dua komoditas pangan tersebut. Pasalnya, keduanya tidak memiliki lahan baku seperti padi. 

"Jadi perlu putar otak lagi," katanya. 

Tag : bps, produksi beras
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top