Sri Mulyani Waspadai Sejumlah Tantangan Ekonomi Global Ini

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan tantangan nyata pada tahun mendatang adalah perekonomian dunia masih dibayangi oleh ketidakpastian.
Rinaldi Mohammad Azka | 31 Oktober 2018 18:09 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan keterangan kepada para wartawan seusai Rapat Paripurna Pengesahan APBN 2019 di Gedung DPR RI, Jakarta pada Rabu (31/10/2018). (Rinaldi M. Azka - Bisnis)

Bisnis.com, JAKARTA - Perekonomian Indonesia pada 2019 masih dibayangi tantangan ketidakpastian yang bersumber dari faktor global. Pemerintah pun mengaku terus berhati-hati menghadapi tantangan tersebut.

Tantangan tersebut berupa normalisasi kebijakan moneter AS, kebijakan fiskalnya yang pro-cyclical, perang dagang AS dan Tiongkok, ketidakpastian di zona Eropa, serta ketegangan geopolitik yang berdampak pada harga minyak.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan tantangan nyata pada tahun mendatang adalah perekonomian dunia masih dibayangi oleh ketidakpastian.

"Bersumber dari Amerika Serikat (AS) yang melakukan normalisasi kebijakan moneter, kebijakan fiskal yang pro-cyclical, yang menyebabkan kenaikan suku bunga dan imbal hasil (yield) surat berharga AS yang berimbas ke seluruh dunia," ungkapnya dalam Rapat Paripurna DPR, Rabu (31/10/2018).

Dia melanjutkan penguatan dolar AS dan pengetatan likuiditas menyebabkan arus modal keluar dari negara-negara emerging yang menyebabkan tekanan pada nilai tukar mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia.

Selain itu, Menkeu memerinci perang dagang AS dan Tiongkok, ketidakpastian skenario Brexit dan di berbagai negara Eropa, serta ketegangan geopolitik di beberapa kawasan dunia masih menyebabkan meningkatnya risiko negatif bagi ekonomi global.

International Monetary Fund (IMF) telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,7% dari sebelumnya sebesar 3,9%. Demikian pula tingkat perdagangan dunia yang turun menjadi sebesar 4,0% dari sebelumnya 4,5%. 

"Dengan meningkatnya risiko negatif dari perekonomian global, kita harus meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian dalam menjaga perekonomian nasional," jelasnya.

Dengan demikian, klaimnya pemerintah menetapkan target-target perekonomian secara lebih realistis, menyesuaikan dengan kondisi perekonomian global. Artinya, kebijakan fiskal melalui APBN 2019 menjadi kredibel dan efektif untuk mendukung peningkatan kesejahteraan yang merata dan penurunan tingkat kemiskinan. 

Sri Mulyani menunjukkan kehati-hatian ini tercermin dari defisit APBN 2019 yang ditargetkan mencapai 1,84% dari PDB, sementara defisit keseimbangan primer terus diupayakan mendekati nol dengan proyeksi sebesar Rp21 triliun.

Menurutnya, ketidakpastian perekonomian global tersebut sebagai konsekuensi dari perekonomian Indonesia yang terbuka dan hubungan antar negara yang saling terkait.

"Hal ini tidak berarti bahwa perekonomian dan APBN dalam kondisi rentan, justru dengan strategi dan kebijakan yang tepat, kita dapat memanfaatkan hubungan antar negara dan keterbukaan ekonomi untuk memacu kemajuan ekonomi dan sosial kita," tuturnya.

Dia mengklaim akan menggunakan APBN sebagai instrumen pembangunan menjadi sarana strategis memperkuat Indonesia dalam mengatasi tantangan dan sekaligus memanfaatkan dinamika perekonomian global.

"Dengan kebijakan fiskal yang tepat dan konsisten disertai kebijakan struktural dari kementerian dan lembaga lainnya, kita dapat memperkuat fondasi ekonomi Indonesia," katanya.

Tag : sri mulyani, ekonomi indonesia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top