Pemerintah Siap Pacu Realisasi Investasi pada Sisa Tahun Ini

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi mencapai Rp173,8 triliun pada kuartal III/2018 atau lebih rendah 1,6% dibandingkan dengan Rp176,6 triliun pada periode yang sama 2017. Realisasi investasi sendiri dalam periode Januari-September 2018 naik 4,3%.
Yodie Hardiyan | 31 Oktober 2018 19:09 WIB
Kantor BKPM - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika menyatakan pemerintah akan terus berupaya agar realisasi investasi kembali meningkat hingga akhir tahun.

Untuk mencapai hal itu, menurutnya, pemerintah akan memantau implementasi kemudahan berusaha, seperti program Online Single Submission (OSS). Selain itu, pemerintah akan memperkuat promosi investasi ke negara-negara baru.

Seperti diketahui, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi mencapai Rp173,8 triliun pada kuartal III/2018 atau lebih rendah 1,6% dibandingkan dengan Rp176,6 triliun pada periode yang sama 2017. Realisasi investasi sendiri dalam periode Januari-September 2018 naik 4,3%.

Erani mengatakan penyebab koreksi pertumbuhan realisasi investasi dapat dipahami lewat dua hal, baik dari sisi domestik maupun global.

Menurutnya, dari sisi domestik, beberapa hal yang terkait dengan perlambatan tersebut adalah depresiasi Rupiah yang menyebabkan biaya usaha semakin mahal karena sebagian besar pasokan bahan baku masih dari impor, lonjakan harga minyak dunia yang menyebabkan biaya produksi perusahaan cenderung meningkat.

"Kondisi ini berpengaruh terhadap pemenuhan kapasitas produksi perusahaan," kata Erani melalui pesan singkat, Rabu (31/10/2018).

Sementara itu, sambungnya, pengaruh global dapat dilihat dari beberapa kondisi yaitu perlambatan ekonomi global sehingga memengaruhi lalu lintas perdagangan dunia termasuk permintaan barang dari negara-negara emerging market.

Selain itu, pengaruh kenaikan suku bunga the Fed bertransmisi ke sejumlah variabel ekonomi makro seperti nilai tukar, suku bunga, hingga biaya berusaha, dan perang dagang Amerika Serikat dengan negara-negara penyumbang defisit neraca perdagangannya.

"Meski menghadapi tantangan, secara umum potensi Indonesia untuk menyerap investasi hingga akhir tahun sangat baik. Ekonomi masih tumbuh di atas 5% yang dimaknai oleh pengusaha sebagai cerminan kekuatan ekonomi. Inflasi pun bergerak di bawah 3%, sehingga daya beli terjaga. Dengan ukuran pasar yang sangat luas, Indonesia menjadi salah satu tujuan utama investasi global," ungkapnya.

Menurutnya, investasi menjadi bagian penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dalam struktur ekonomi Indonesia, komponen ini menyumbang sekitar 30%.

Selain menentukan realisasi pertumbuhan ekonomi, investasi juga berperan melalui penyerapan tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja membantu perekonomian dari sisi konsumsi. Investasi juga menjadi sumber penting dalam memasok valuta asing ke ekonomi domestik.

Tag : investasi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top