KSSK Klaim Sistem Keuangan Stabil di Tengah Tekanan Global

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengklaim sektor keuangan dalam kondisi terjaga dan stabil sampai kuartal III/2018.
Rinaldi Mohammad Azka | 01 November 2018 16:18 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri) bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kanan) dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya memberikan keterangan pers, Kamis (1/11). KSSK mengklaim perekonomian dan sektor keuangan dalam kondisi stabil dan terjaga baik, dibuktikan dengan pertumbuhan pinjaman perbankan yang mencapai 22%. - Bisnis/Rinaldi Mohammad Azka

Bisnis.com, JAKARTA -- Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengklaim sektor keuangan dalam kondisi terjaga dan stabil sampai kuartal III/2018.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) diproyeksi melebihi 3% pada kuartal III/2018.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada kuartal III/2018, stabilitas sistem keuangan relatif terjaga atau aman.

"KSSK memandang dinamika perekonomian masih cukup tinggi, tapi terlihat sebagai hal yang baik. Indikator yang menopang KSSK yaitu pertumbuhan ekonomi masih terjaga di atas 5%, inflasi rendah pada level yang stabil rendah, cadangan devisa memadai, volatilitas rupiah stabil, defisit APBN mengecil, bahkan keseimbangan primer lebih baik dari periode-periode sebelumnya," paparnya ketika membuka Konferensi Pers KSSK di Jakarta, Kamis (1/11/2018).

Namun, meskipun terjaga, tapi Menkeu menyatakan sektor keuangan masih akan menghadapi tekanan global dari naiknya suku bunga The Fed yang menyebabkan likuiditas kembali ke AS serta proteksionisme perdagangan yang diterapkan AS, yang memicu perang dagang AS-China, yang masih berlanjut.

Ke depannya, KSSK akan mengkaji dan mencermati perkembangan dan risiko perekonomian dari faktor eksternal tersebut.

"Kami juga perhatikan dinamika negara Eropa dan China. Kami akan terus melihat berbagai macam risiko CAD, neraca pembayaran, nilai tukar," imbuhnya.

Dari dalam negeri, faktor CAD memperparah capital outflow yang tengah terjadi akibat pengetatan likuiditas. Bank Indonesia (BI) sudah memproyeksi CAD kuartal III/2018 akan kembali berada di atas 3% dari PDB.

Sri Mulyani menerangkan upaya yang saat ini dilakukan adalah tidak lagi berfokus pada pengetatan impor tetapi bagaimana mendorong ekspor terjadi, baik ekspor tradisional maupun non tradisional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kssk, ekonomi indonesia

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top