Pemilu Paruh Waktu AS Dinilai Tidak Menaikkan Minat Aset Berisiko

Setelah Pemilu Paruh Waktu di AS, reli kampanye akan memasuki masa hiatus. Namun berbeda dari Pemilu Paruh Waktu sebelumnya, reli aset berisiko diperkirakan sulit terjadi kali ini.
Dwi Nicken Tari | 04 November 2018 14:15 WIB
Ilustrasi - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Setelah Pemilu Paruh Waktu di AS, reli kampanye akan memasuki masa hiatus. Namun berbeda dari Pemilu Paruh Waktu sebelumnya, reli aset berisiko diperkirakan sulit terjadi kali ini.

Investor memperkirakan bahwa hasil yang memungkinkan adalah Kongres AS akan terpecah, tidak akan mendukung harga-harga aset ke depannya. Namun, tentu saja pandangan tersebut berbeda sesuai dari posisi investor yang menilai situasinya.

Bagi investor yang berada di luar AS, perdagangan merupakan yang terdepan dan terutama. Yuan China pun menjadi komoditas menarik, didukung oleh lonjakan baru-baru ini karena muncul  optimisme tercapainya resolusi perang dagang dengan AS.

Sementara itu, investor di AS cenderung mencermati peluang meningkatnya pengeluaran pemerintah, yang dapat mendorong perekonomian, menaikkan yield Treasury yang di sisi lain menenggelamkan harga-harga saham.

Akan tetapi, di manapun posisi investor, kali ini hanya sedikit yang memperkirakan terjadi pemulihan selera risiko yang biasanya terjadi setelah Pemilu Paruh Waktu.

Adapun, pandangan konsensus sejauh ini, yang mana Partai Demokrat bakal memenangkan kursi DPR sementara Partai Republik akan mendapatkan kursi di Senat, dipandang sebagai “hambatan” politik dan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi AS.

Kendati beberapa pihak menilai hasil Pemilu Paruh Waktu akan menguntungkan aset berisiko, yaitu kemenangan Partai Republik di Senat, investor seperti Rich Weiss di American Century Investment justru memperkirakan tidak ada gebrakan nilai aset seperti yang terjadi pada Pemilu AS 2016 nantinya.

“Saya tidak yakin kita akan melihat kenaikan harga saham. Kita berada dalam lingkungan yang sangat berbeda daripada dua tahun lalu, seperti lingkungan moneter, pengeluaran dari pemangkasan pajak, dan dampak potensial dari tarif, hingga kenaikan inflasi,” kata Weiss, Chief Investment Officer of Multi-Asset Strategies, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (4/11/2018).

Adapun risiko dari inflasi yang terjadi di tengah-tengah banyaknya penawaran kali ini juga merupakan alasan bagi para pengamat aset tetap bahwa yield jangka panjang AS dapat terus meningkat. Pasalnya investor menyukai aset yang terhubung dengan inflasi dan pasar utang internasional.

Hal itu pun membuat Weiss mengalihkan perhatian ke nilai saham dari pertumbuhan saham pada awal tahun ini, dengan alasan bahwa stimulus fiskal telah terlalu fokus terhadap pemangkasan pajak korporasi dan tidak akan mampu melanjutkan reli saham.

Sementara itu, investor internasional kini lebih mencermati dampak Pemilu Paruh Waktu dengan perdagangan seiring dengan fokus Presiden Trump yang ingin merenegosiasikan kesepakatan dagang dengan China. 

Adapun, beberapa kebijakan tarif yang diberlakukan Washington terhadap Beijing sejauh ini telah mulai memberatkan negara-negara yang bergantung dengan ekspor.

“Ada pelajaran yang dijelaskan bahwa jika Demokrat memenangkan Pemilu Paruh Waktu, maka pasar akan mengatur ulang harga risiko di China dan pasar negara berkembang (emerging market),” kata Ilan Dekell, Head of Macro for Global Fixed Income di AMP Capital Investors Ltd., Sydney.

Adapun pekan lalu, yuan onshore berhasil reli setelah pemberitaan bahwa Presiden Trump ingin mencapai kesepakatan dagang dengan China pada akhir bulan ini. Namun demikian, beberapa strategis valas masih pesimistis untuk menyebutnya sebagai titik balik.

Di sisi lain, berdasarkan survei dari Standard Chartered, perpecahan di Kongres AS akan menguntungkan yuan kendati beberapa pelaku pasar di Asia masih yakin skenario tersebut tidak menjamin proteksionisme Trump dapat dikurangi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi as

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top