Partai Koalisi Italia Harus Tetap Bersinergi

Tensi di tubuh Pemerintahan Italia meningkat pada akhir pekan ini. Pasalnya, Partai Liga berhasil mendapatkan tambahan dukungan publik yang lebih besar daripada Partai Five-Star Movement yang menjadi koalisinya.
Dwi Nicken Tari | 04 November 2018 21:11 WIB
ilustrasi - reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Tensi di tubuh Pemerintahan Italia meningkat pada akhir pekan ini. Pasalnya, Partai Liga berhasil mendapatkan tambahan dukungan publik yang lebih besar daripada Partai Five-Star Movement yang menjadi koalisinya.

Adapun, Giancarlo Giorgetti dari Partai Liga yang menjadi ajudan utama Ketua Partai Liga Matteo Salvini memperingatkan bahwa Pemerintahan Italia dapat berisiko terpecah-belah jika kedua partai koalisi terlalu fokus dengan hasil polling.

“Salvini tidak berniat memperlebar popularitas Liga dengan menjadi PM,” kata Giorgetti dalam wawancara yang dipublikasikan oleh surat kabar La Repubblica, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (4/11/2018).

Adapun hasil perhitungan suara baru-baru ini yang dirilis oleh Corriere della Sera pada Sabtu (3/11/2018) memperllihatkan dukungan untuk Partai Liga meningkat menjadi 34,7%, atau naik hampir dua kali lipat dari perolehan pada Pemilu Maret.

Sementara itu, dukungan untuk Partai Five-Star Movement turun 4% di bawah hasil Pemilu Maret menjadi 28,7%. 

Ketua Partai Five-Star Movement Luigi Di Maio pun mengeluh bahwa beberapa anggota Pemerintah Italia terlalu menyepelekan upayanya untuk membangun negara.

“Saya melihat beberapa risiko dari masyarakat jika beberapa anggota pemerintah tidak mendukung apa yang kami lakukan. Kami memiliki kontrak pemerinah yang harus dihormati oleh kedua partai,” kata Di Maio dalam wawancara dengan Corriere della Sera.

Adapun upaya koalisi Pemerintah Italia untuk merealisasikan janji Di Maio untuk memberikan pembayaran kepada penduduk miskin Italia sambil mewujudkan janji Partai Liga untuk memangkas pajak telah menimbulkan “perselisihan” dengan Komisi Eropa. Pasalnya, kebijakan tersebut dapat melambungkan biaya pinjaman Italia ke level tertingginya dalam 4 tahun.

Pemerintah Italia pun memiliki waktu hingga 13 November 2018 untuk merevisi anggaran pemerintah untuk 2019, yang mana proposal sebelumnya telah ditolak oleh UE karena tidak sesuai dengan aturan pengeluaran yang ditetapkan Benua Biru.

Menjelang tenggat waktu revisi tersebut, beberapa pejabat Italia pun berusaha membuat beberapa pengukuran yang dapat memenangkan dukungan UE terhadap anggaran Italia.

Giorgetti yang berperan sebagai Wakil Menteri Kabinet menegaskan bahwa saat ini masih rumit untuk mengimplementasikan pemberian uang kepada masyarakat miskin dan pemerintah membutuhkan waktu untuk mewujudkannya.

Sementara itu, Salvini yang juga bertindak sebagai Menteri Dalam Negeri berusaha menenangkan suasanya dengan menyampaikan bahwa pemerintah masih berusaha mewujudkan janji-janjinya. 

Salvini juga khawatir dengan munculnya spekulator dapat memengaruhi biaya pinjaman Italia dan aset aman Eropa, yang implikasinya dapat mempengrauhi utang perbankan di Itallia.

“Kami akan segeral menyelesaikan isu tersebut,” kata Salvini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
italia

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top