Pasar Tunggu Xi Jinping Realisasikan Janji Buka Ekonomi Domestik China

Pada pekan ini, China akan menggelar pameran perdagangan yakni China International Import Expo 2018.
Dwi Nicken Tari | 04 November 2018 21:18 WIB
Presiden China Xi Jinping - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pada pekan ini, China akan menggelar pameran perdagangan yakni China International Import Expo 2018.

Acara yang dimulai pada Senin (5/11) di Shanghai itu akan mengumpulkan sekitar 3.000 perusahaan dari 100 negara.

Pasar pun berharap melalui acara tersebut Xi dapat mengambil momentum untuk mempercepat realisasi janjinya membuka ekonomi domestik.

Namun demikian, antusiasme peserta tampaknya kurang tinggi menjelang perhelatan ekspo tersebut. Hal itu terlihat dari sedikitnya perwakilan atau kepala negara yang mengonfirmasi kehadiran hingga H-1.

Bloomberg memberitakan, hanya ada 18 kepala negara atau pemerintahan yang dijadwalkan hadir, yang sebagian besar dari negara-negara kecil. Negara-negara dari kelompok 20 (G20) bahkan hanya Rusia yang akan mengirim kepala negara atau pemerintahan ke sana.

Selain itu, dari kalangan pebisnis juga terpantau sepi. Padahal, ajang tersebut dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi perusahaan asing untuk mencuri minat konsumen China.

Sejumlah brand global, mulai dari Adidas hingga Walmart serta Procter&Gamble hingga Uniqlo hanya mengirimkan kepala perwakilannya. Dengan kata lain, tidak ada eksekutif senior yang akan hadir di event besar tersebut.

Sementara itu, CEO Starbucks Corp. Kevin Johnson, yang tengah berada di kota yang sama, juga dikabarkan tidak akan hadir.

Sejatinya, China telah mendapat tekanan tidak hanya dari Trump, tetapi juga dari berbagai negara yang ingin Negeri Panda mengurangi surplus perdagangannya senilai US$423 miliar.

Merespons keluhan tersebut, Presiden Xi mengumumkan bahwa negaranya bakal mengimpor hingga US$24 triliun produk dari luar negeri selama 15 tahun ke depan.

Adapun, mengenai hubungan dagang dengan AS, Trump telah memberikan optimisme kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam pertemuan dengan Xi di sela-sela KTT G20 di Buenor Aires, Argentina, pada akhir bulan ini.

Namun demikian, keduanya masih jauh dari pembicaraan akses pasar dan dukungan Pemerintah China terhadap badan usaha milik negara (BUMN).

“Menurut saya, dia [Xi] tidak akan berkomitmen untuk hal baru sebelum mengadakan negosiasi yang serius. [Agenda] ini hanya seperti simpulan dari langkah-langkah membuka diri yang diambil China,” kata Ding Shuang, Kepala Ekonom China di Standard Chartered Bank Ltd., Hong Kong, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (4/11).

Sementara itu, dalam pidatonya selama beberapa tahun terakhir, Xi cenderung mengulang-ulang komitmen bahwa China akan membuka ekonominya, mendukung sistem perdagangan global, dan melindungi multilateralisme.

Namun, kata-kata itu justru memperbesar kekecewaan investor asing yang mencari celah untuk dapat ‘bermain’ di ladang ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Selain itu, China saat ini menempati peringkat ke-59 dari 62 negara yang dievaluasi oleh Organisasi Kerjama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) terkait keterbukaan suatu negara terhadap investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI).

Hampir setengah dari perusahaan yang disurvei oleh Kamar Dagang Eropa pada Juni pun menyampaikan bahwa mereka telah kehilangan kesempatan untuk mengembangkan bisnis di China karena tertahan oleh hambatan regulasi atau pembatasan akses pasar.

Kadin Eropa bahkan memperkirakan hambatan tersebut justru berpotensi bertambah dalam 5 tahun ke depan. Oleh karena itu, China pun semakin terpojokkan karena dinilai hanya membentuk ekspektasi tinggi pada awal tahun ini.

Tag : ekonomi china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top