Kritik Trump, Pidato Xi Jinping Singgung Praktik Hukum Rimba

Presiden China Xi Jinping tersirat mengecam praktik perdagangan proteksionis yang diadvokasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidatonya di Shanghai pada hari ini.
Renat Sofie Andriani | 05 November 2018 12:07 WIB
Presiden China Xi Jinping - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden China Xi Jinping tersirat mengecam praktik perdagangan proteksionis yang diadvokasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidatonya di Shanghai pada hari ini.

Di depan para hadirin China International Import Expo, Xi menyatakan bahwa praktik beggar-thy-neighbor akan menyebabkan stagnasi global. Mengutip laman investopedia, praktik ini seringkali mengacu pada kebijakan perdagangan internasional yang menguntungkan bagi negara yang memberlakukannya, tetapi merugikan mitra-mitra dagangnya.

Xi pun menyatakan China akan terus menggalakkan globalisasi, dengan berjanji untuk memangkas tarif-tarif impor dan meningkatkan konsumsi domestik.

“Ketika globalisasi semakin dalam, praktik hukum rimba dan winner take all [pemenang mendapatkan semuanya] tidak mengarah pada apa pun,” tegas Xi, seperti dikutip Bloomberg.

Di sisi lain, lanjutnya, tindakan inklusi dan timbal balik, kerja sama dengan porsi keuntungan yang sama dan saling menguntungkan memiliki jalan yang lebih lebar.

Pidato Xi disampaikan di tengah perang dagang dengan Presiden AS Donald Trump dan keraguan yang berkepanjangan mengenai keseriusan China tentang laju pembukaan akses ekonominya. Namun dalam pidatonya, Xi berjanji untuk semakin membuka akses pasar negaranya kepada dunia.

“Perekonomian dan perdagangan internasional akan berhasil jika setiap negara membuka diri,” kata Xi. “Perdagangan dan ekonomi internasional akan stagnan dan ekonomi dunia akan menghadapi kesulitan dalam pembangunannya yang sehat, jika masing-masing negara mengikuti praktik beggars-thy-neighbor.”

China menempati urutan ke-59 dari 62 negara yang dievaluasi oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam hal keterbukaan terhadap investasi asing langsung (Foreign Direct Investment).

Hampir separuh dari perusahaan yang disurvei pada bulan Juni oleh Kamar Dagang Eropa di China mengatakan kehilangan peluang bisnis karena hambatan peraturan atau pembatasan akses pasar. Mereka memperkirakan hambatan ini akan meningkat selama lima tahun ke depan.

Sementara itu, pameran dagang yang digelar pada 5-10 November ini menampilkan sekitar 3.600 perusahaan dari 172 negara, wilayah, dan organisasi. Meski demikian, gereget antusiasme tampak tidak tinggi menjelang acara tersebut.

Sebanyak 18 kepala negara atau pemerintah memang dijadwalkan untuk hadir, tetapi hampir semuanya berasal dari negara-negara kecil. Dari negara-negara G-20, hanya Rusia yang mengirimkan kepala negara atau pemerintahannya.

Tak banyak pula sosok pemimpin bisnis terkemuka. Meski acara ini dimaksudkan untuk mengumpulkan perusahaan-perusahaan asing untuk mendekati konsumen China, merek global mulai dari Adidas hingga Walmart, Procter & Gamble dan Uniqlo, hanya mengirimkan utusannya di negara itu.

CEO Starbucks Corp. Kevin Johnson, yang perusahaannya membuka gerai baru di China setiap 15 jam, bahkan dikabarkan tidak akan menghadirinya walaupun dia akan berada di kota yang sama.

Sekitar 180 perusahaan asal AS mengirimkan perwakilannya, termasuk nama-nama besar seperti Google Alphabet Inc., Boeing Co., Caterpillar Inc., Facebook Inc., General Motors Co., Honeywell International Inc., Microsoft Corp, Tesla Inc. dan Qualcomm Inc.

Meskipun China mengatakan Trump menyuarakan dukungannya untuk pameran ini dalam pembicaraannya melalui telepon dengan Xi pekan lalu, pemerintah AS sepertinya enggan banyak melibatkan diri.

Juru bicara Kedutaan Besar AS mengungkapkan pemerintahan Trump tidak memiliki rencana untuk mengirimkan pejabat eksekutifnya. China disebut perlu melakukan reformasi yang dibutuhkan untuk mengakhiri praktik perdagangan tidak adil yang merugikan ekonomi dunia.

Negeri Panda diketahui menerima tekanan untuk mengurangi surplus perdagangan barang-barangnya senilai US$423 miliar dengan dunia. Xi sendiri telah berjanji China akan mengimpor barang senilai US$24 triliun dari luar negeri selama satu setengah dekade ke depan.

Meski Trump telah mengangkat kemungkinan tercapainya kesepakatan perdagangan dalam pertemuannya dengan Xi yang direncanakan akan berlangsung beberapa pekan mendatang, kedua negara ini tetap memiliki perbedaan terkait sejumlah isu perdagangan.

Tag : xi jinping, Donald Trump
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top