Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,17% pada Kuartal III/2018

Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,17% secara year-on-year (yoy) pada kuartal III/2018, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal yang sama tahun lalu yang sebesar 5,06% yoy.
Rinaldi Mohammad Azka | 05 November 2018 12:57 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memberikan paparan dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Indonesia kuartal II/2018, di Jakarta, Senin (6/8/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,17% secara year-on-year (yoy) pada kuartal III/2018, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal yang sama tahun lalu yang sebesar 5,06% yoy.

Sementara itu, produk domestik bruto (PDB) total sebesar Rp3.835,6 triliun.

Secara kuartalan, pertumbuhan yang terjadi sebesar 3,09% pada kuartal III/2018 atau lebih rendah dari pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang sekitar 5,27%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan ini merupakan capaian yang baik mengingat lompatan pada kuartal sebelumnya lebih karena faktor Lebaran dan Tunjangan Hari Raya (THR). Tetapi, angka tersebut masih di bawah target pertumbuhan ekonomi 2018 yang sebesar 5,4% dan outlook 2018 di level 5,2%.

"Perekonomian global cenderung melambat kecuali di AS. Di beberapa negara maju mengalami perlambatan, termasuk di beberapa negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (5/11/2018).

Suhariyanto pun menuturkan faktor persiapan Pemilu legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) turut serta mendorong pertumbuhan konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT).

Dari sisi lapangan usaha secara kuartalan, seluruhnya tumbuh positif dengan pertumbuhan tahunan paling bagus disumbang oleh sektor informasi dan komunikasi sebesar 8,98% dan jasa perusahaan 8,67%. Namun, pertumbuhan tersebut tidak berdampak signifikan karena struktur PDB masih didominasi industri olahan dan pertanian.

Sementara itu, industri masih berperan besar dengan pertumbuhan 4,33% secara yoy, sektor pertanian 3,62%, sektor perdagangan 5,26%, konstruksi 5,79%, dan pertambangan 2,68%. Dengan demikian, PDB secara lapangan usaha terutama disumbangkan oleh industri pengolahan, pertanian dan perdagangan.

Adapun PDB secara pengeluaran menunjukkan konsumsi rumah tangga naik 5,01% secara yoy dengan bobot kontribusi 55,26%. Capaian ini lebih rendah dari pertumbuhan konsumsi kuartal II/2018 yang sebesar 5,14%.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini ditopang oleh penjualan eceran yang naik 4,21%, wholesale mobil tumbuh 8,7% atau meningkat signifikan dibandingkan kuartal III/2018 yang berada di level 1,17%.

Selain itu, total transaksi kartu debit, kredit dan uang elektronik tumbuh 11,94% atau lebih baik dari kuartal III/2017 yang naik 11,05%.

Namun, pertumbuhan ekspor masih kalah dari pertumbuhan impor. Dengan demikian, perdagangan internasional masih menjadi pemberat bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Per kuartal III/2018, impor tumbuh 14,06% sedangkan ekspor hanya 7,52%. Dengan demikian, terjadi perlambatan 0,67% akibat dari tingginya tekanan impor.

Di sisi lain, konsumsi pemerintah tumbuh 6,28% secara yoy pada kuartal III/2018.

"Realisasi belanja barang dan jasa tumbuh 24,88%, belanja pegawai tumbuh 16,54%. Terjadi kenaikan juga pada kontribusi sosial berupa uang pensiun serta peningkatan belanja honorarium, uang lembur, dan tunjangan khusus," ungkap Suhariyanto.

Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh melambat 6,96%  secara yoy pada kuartal III/2018 dibandingkan dengan 7,08% pada kuartal yang sama tahun lalu.

PMTB, terangnya, didorong oleh seluruh jenis barang modal terutama barang modal jenis mesin yang dipengaruhi oleh produksi domestik dan impor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bps, Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top