Presiden Xi Ulangi Janji Membuka Ekonomi China

Presiden China Xi Jinping berjanji akan mengurangi tarif impor, memperluas akses pasar, dan mengimpor lebih banyak produk dari luar negeri ketika membuka pameran perdagangan China International Import Expo 2018 di Shanghai, China, pada Senin (5/11/2018).
Dwi Nicken Tari | 05 November 2018 20:47 WIB
Presiden China Xi Jinping

 Bisnis.com, JAKARTA—Presiden China Xi Jinping berjanji akan mengurangi tarif impor, memperluas akses pasar, dan mengimpor lebih banyak produk dari luar negeri ketika membuka pameran perdagangan China International Import Expo 2018 di Shanghai, China, pada Senin (5/11/2018).

Lewat pidato yang kembali mengulang janji-janji lama, Xi menyampaikan bahwa China akan mempercepat keterbukaan sektor pendidikan, telekomunikasi, dan budaya sambil melindungi kepentingan perusahaan asing dan menindak serius pelanggaran hak kekayaan intelekktual.

Selain itu, Xi mengungkapkan, China akan mengimpor US$30 triliun dalam bentuk produk, naik dari janji sebelumnya sebesar US$24 triliun, dan US$10 triliun dalam bentuk jasa dari luar negeri dalam 15 tahun ke depan.

“CIIE adalah inisiasi terbesar dari China untuk secara proaktif membuka pasarnya kepada dunia,” ujar Xi, seperti dikutip Reuters, Senin (5/11/2018).

Kata sambutan dan janji Xi tersebut pun terdengar menjemukan dan tidak menyajikan gambaran optimisme untuk tercapainya kesepakatan dagang dengan AS dalam pertemuan bersama Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, pada akhir bulan ini.

Padahal, sebelumnya, Trump sempat menyuarakan kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam pertemuan dengan Xi dan bahkan telah meminta pejabatnya menyusun proposal yang potensial kendati keduanya masih jauh dari pembicaraan mengenai keterbukaan akses pasar.

“Tampaknya yang dilakukan [Xi] adalah menyelamatkan seluruh barang-barangnya dari Trump dan menolak segala sesuatu yang bersifat unilateral. Sekarang fokus semuanya tertuju pada G20,” kata Scott Kennedy, pengamat ekonomi China di Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Adapun Xi sempat menyinggung kebijakan “America First” yang diusung oleh Trump sebagai bentuk “hukum rimba” dan praktik perdagangan mengemis-dengan tetangganya (beggar-thy-neighbor).

“Seluruh negara harus meningkatkan lingkungan bisnis dan menyelesaikan masalah sendiri-sendiri. Mereka seharusnya tidak menutupi kesalahan sendiri dan menuduh orang lain,” ujar Xi di dalam pameran yang menghadirkan 3.600 perusahaan dari 172 negara, seperti dikutip Bloomberg.

Dia juga mengingatkan bahwa proteksionisme dapat merugikan pertumbuhan global dan berjanji bahwa China akan meningkatkan konsumsi domestik, memperkuat perlindungan kekayaan intelektual, dan mengefisienkan perundingan dagang dengan Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.

Namun demikian, investor menilai pidato Xi kurang mengesankan terkait keseriusan China untuk mempercepat keterbukaan akses pasar domestik maupun keinginan Negeri Panda mencapai resolusi perang dagang.

"Dia [Xi[ mengulang rencana kebijakan sebelumnya yang telah kami dengar beberapa bulan terakhir. Pasar tampaknya suka headline "memangkas tarif impor" tapi rencana itu sudah pernah diumumkan pada September," kata Sue Trinh, Head of Asia FX Strategy di RBC Capital Markets, Hong Kong.

Adapun sebelumnya, Uni Eropa yang sependapat dengan AS yang mengeluhkan praktik perdagangan China juga telah mendesak agar China segera mengambil langkah konkrit untuk membuka akses pasarnya untuk perusahaan asing dan menyediakan lingkungan yang kondusif.

Sementara itu, Trump juga telah memperingatkan bahwa pengumuman tarif untuk produk impor asal China senilai US$267 miliar sudah tersedia jika tidak tercapai kesepakatan dalam pertemuan bersama Xi di Argentina.

Adapun ajang perdagangan China tersebut dikabarkan tidak banyak menarik pejabat level tinggi maupun eksekutif dari perusahaan di barat. Sebelumnya, beberapa diplomat dari negara-negara barat mengkritik acara tersebut hanya sebagai “pemanis” dari pelanggaran praktik perdagangan yang dilakukan China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
xi jinping

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top