Ini Alasan Nasabah Berminat Investasi Saham Lewat Unit Link

Besarnya minat nasabah untuk tetap berinvestasi di saham lewat produk asuransi unit link disebabkan sifat unit link yang memberi investasi jangka panjang dan hasrat untuk dolar cost averaging.
Leo Dwi Jatmiko | 08 November 2018 08:10 WIB
Chief Marketing Officer PT Sun Life Financial Indonesia Shierly Ge (tengah) bersama Chief Agency Officer Wirasto Koesdiantoro (kiri) Ketua 1 Yayasan Jantung Indonesia dan Dokter Spesialis Jantung RS Harapan Kita Budhi Setianto meluncurkan produk Asuransi Sun Critical Medicare, di Jakarta, Kamis (28/9). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Besarnya minat nasabah untuk tetap berinvestasi  saham lewat produk asuransi unit link disebabkan sifat unit link yang memberi investasi jangka panjang dan hasrat untuk dolar cost averaging.

Data AAJI menyebut portofolio asuransi jiwa produk unit link untuk saham pada kuartal II 2018 masih besar secara nilai dan porsi yakni Rp140,93 triliun, tumbuh 11,59% yoy. Padahal saat ini kondisi pasar sedang bergejolak.

Shierly Ge, Chief Marketing Officer PT Sun Life Financial Indonesia mengatakan, tingginya porsi saham dalam portofolio investasi asuransi jiwa disebabkan keinginan masyarakat untuk dollar cost averaging, melakukan investasi yang rutin dalam jumlah yang sama tanpa memperdulikan berapa nilai ambang batas saat itu.

Selain alasan itu, kata Shierly, produk unit link juga memberikan proteksi untuk jangka panjang dengan konsistensi stabil di kondisi market apapun.

"Dalam kondisi market turun, baik untuk nasabah melakukan dollar cost averaging, [lewat unit link]" kata Shierly kepada Bisnis, Kamis (8/11/2018).

Shierly menuturkan produk unit link Sun Life hingga kuartal III 2018 tercatat sebesar Rp 1,9 triliun, tumbuh sebesar 7% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Unit link juga memberi kontribusi 80% dari total pendapatan premi.

Untuk mencapai angka itu, Sun Life memaksimalkan semua jalur pemasaran seperti keagenan, keagenan syariah dan kemitraan.

"Sehingga bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat yg tersebar di kota besar dan kota lapis kedua," ujarnya.

Dikatakan, perlambatan ekonomi, sehingga mempengaruhi pasar keuangan, ditambah dengan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap asuransi masih menjadi tantangan tahun ini.

"Perlu edukasi yang berkesinambungan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap literasi keuangan," kata Shierly.

Tag : asuransi, unit linked
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top