Pembentukan Dua Holding BUMN Rampung Akhir Tahun

Pembentukan Holding BUMN Infrastruktur dan Konstruksi serta Holding BUMN Perumahan dan Kawasan tengah memasuki tahap finalisasi yang diharapkan rampung pada Desember 2018. 
M. Nurhadi Pratomo | 08 November 2018 08:20 WIB
Menteri BUMN Rini Soemarno menyampaikan sambutannya pada acara penandatanganan Kerja sama Kesepakatan Investasi untuk Pembiayaan Infrastruktur di Hotel Inaya, Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). - ANTARA/Jefri Tarigan

Bisnis.com, JAKARTA—Pembentukan Holding BUMN Infrastruktur dan Konstruksi serta Holding BUMN Perumahan dan Kawasan tengah memasuki tahap finalisasi yang diharapkan rampung pada Desember 2018. 

Tumiyana, Ketua Tim Pembentukan Holding BUMN Perumahan dan Kawasan Tumiyana, yang juga Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., Peraturan Pemerintah (PP), yang akan menjadi payung hukum pembentukan holding tersebut, akan selesai dalam waktu dekat.

“[PP] insya Allah Desember 2018 selesai,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (7/11).

Tumiyana menjelaskan bahwa Wijaya Karya yang sebelumnya direncanakan akan menjadi bagian dari Holding Infrastruktur dan Konstruksi berubah menjadi anggota Holding Perumahan dan Kawasan. Dengan demikian, rencana anggota grup usaha tersebut yakni Wijaya Karya, PT PP (Persero) Tbk., PT Amarta Karya (Persero), dan PT Indah Karya (Persero) dengan Perum Perumnas sebagai induk.

Seperti diketahui, dalam rancangan awal pemerintah, Holding Infrastruktur dan Konstruksi akan beranggotakan Wijaya Karya, PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT Indra Karya (Persero), dan PT Yodya Karya (Persero) dengan PT Hutama Karya (Persero) sebagai induk.

Namun, berdasarkan perkembangan terakhir yang dihimpun Bisnis dari berbagai sumber, dilakukan perubahan dengan Adhi Karya, yang sebelumnya menjadi bagian dari Holding Perumahan dan Kawasan, kini akan menjadi bagian dari Holding Infrastruktur dan Konstruksi.

Saat dikonfirmasi, Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto membenarkan hal tersebut. Namun, pihaknya tidak membeberkan lebih lanjut perubahan susunan anggota holding.

“Betul posisi terakhir di Holding BUMN Infrastruktur dan Konstruksi. Kalau penempatan holding itu sesuai kebijakan pemerintah,” tuturnya.

Kendati demikian, sampai berita ini diturunkan, Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ahmad Bambang belum menjawab pertanyaan yang diajukan Bisnis mengenai susunan akhir dan rancangan PP dari dua holding tersebut.

Namun, awal pekan ini, Ahmad menyebut pembentukan dua holding tersebut saat ini masih dalam proses finalisasi di Kementerian Keuangan. Pemerintah akan melakukan sosialisasi dan pembentukan diharapkan rampung pada Desember 2018.

Secara terpisah, Managing Director Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LM FE UI) Toto Pranoto menilai secara umum holding perusahaan dibuat agar proses value creation dapat tercipta. Artinya, nilai holding harus menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan perseroan berdiri sendiri.

Dalam kasus Holding BUMN Infrastruktur dan Konstruksi misalnya, Toto menyebut tujuan utama yakni menciptakan sinergi sehingga nilai tercipta dan mampu berperan lebih besar dalam pembangunan di dalam negeri. Namun, pihaknya menggaris bahwa kondisi arus kas sejumlah BUMN karya.

“Restrukturisasi aset atau portofolio harus diprioritaskan sehingga mereka bisa dalam kondisi lebih saat holding didirikan,” paparnya.

Dia mengatakan value creation di Holding BUMN Infrastruktur dan Konstruksi dapat diciptakan dari sisi pengelolaan biaya yang makin efisien. Dalam jangka panjang, kemampuan mengintegrasikan produk sehingga bisa menawarkan jasa dengan harga yang lebih kompetitif.

Toto menilai kondisi hampir mirip juga berlaku untuk Holding Perumahan dan Kawasan terutama dari sisi kelembagaan dan aspek pembentukan nilai dari sisi operasional.

“Merger di antara anak usaha sejenis diyakini bisa meningkatkan nilai perusahaan. Saya kira ini sinyal bagus buat market untuk konsolidasi anak usaha sejenis ini,” jelasnya.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan memproyesikan pembentukan dua Holding BUMN tersebut akan memberikan keuntungan bagi emiten BUMN karya. Pasalnya, kemampuan mereka untuk menjalankan proyek dengan nilai besar akan meningkat.

“Jadi ketika ada tender proyek yang maju Holding BUMN, secara buku kan jelas lebih kuat,” ujarnya.

Tag : bumn, holding bumn
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top