Tembus Pasar Global, Daya Saing BUMN Harus Ditingkatkan

Perusahaan pelat merah perlu terus mengukur kapasitas daya saing perusahaan milik negara di kawasan Asean agar bisa memasuki persaingan di pasar global.
Stefanus Arief Setiaji | 08 November 2018 21:43 WIB
ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan pelat merah perlu terus mengukur kapasitas daya saing perusahaan milik negara di kawasan Asean agar bisa memasuki persaingan di pasar global.

Direktur Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan bahwa perusahaan BUMN perlu terus meningkatkan pengetahuan dari sisi tata kelola risiko yang melekat pada pemain regional atau global.

“Prasyarat apa saja yang dianggap sebagai DNI [Daftar Negatif Investasi] pemain global dibedah secara tuntas dengan mengedepankan beberapa contoh perusahaan yang relevan. Demikian pula aspek strategis dari pengelolaan risiko yang melekat pada pemain regional atau global dibahas tuntas,” ujarnya saat menggelar program executive education dengan tema Global Business Savvy, yang digelar pada 7-9 November 2018.

Dalam keterangan resminya, Toto menuturkan salah satu perusahaan yang dijadikan tolok ukur atau benchmarking dalam executive education adalah Khazanah, Malaysia.

Menurutnya, kegiatan itu merupakan ‘refreshing global strategy updates’.

“Kegiatan dilakukan semi workshop dengan fasilitator dari Crowe Malaysia, sebuah firma accounting, keuangan & business strategy papan atas,” tuturnya.

Sementara itu, lanjut Toto, benchmarking strategy dilakukan dengan kunjungan dan diskusi dengan Khazanah Nasional Bhd. yang merupakan holding company milik Pemerintah Malaysia.

Aspek penting yang dibahas dalam workshop di antaranya berkenaan dengan strategi memposisikan BUMN sebagai pemain di skala regional dan kemudian naik menjadi pemain global.

Pada kunjungan ke Khazanah Nasional Bhd. para eksekutif BUMN yang mengikuti benchmarking ini diterima oleh Executive Director Investment Khazanah, Amran Hafiz.

Dalam sambutannya, Amran mempresentasikan proses transformasi agar mampu merubah kinerja menjadi lebih baik.

“Aspek utama yang menjadi penekanan adalah aspek kelembagaan dimana Chairman Khazanah dipimpin langsung oleh PM dengan tujuan meminimalisir ‘intervensi’ dari pihak manapun,” kata Amran.

Dia juga menjelaskan bahwa misi utama Khazanah adalah mengelola BUMN dengan prinsip komersial dan tugas lainnya yang bersifat strategis yaitu mengelola BUMN yang bersifat rintisan. Misalnya saat ini portfolio Khazanah juga meliputi bisnis start up dan bisnis agrifood yang bersifat pionir.

Dalam kesempatan ini, Toto Pranoto menekankan pentingnya strategi manajemen holding yang dilakukan oleh Khazanah dapat diadaptasi oleh BUMN yang berorientasi global.

Hal itu ditekankan terutama pada proses penilaian kinerja portfolio dan direksi pengelola perusahaan yang dilakukan secara reguler.

“Proses akuisisi dan divestasi portfolio dilakukan sesuai kinerja perusahaan. Untuk direksi dengan kinerja buruk segera dilakukan pergantian. Rotasi pimpinan anak perusahaan dilakukan minimal 3 tahun sekali. Sedangkan untuk pengembangan perusahaan perlu dilakukan dengan mengelola ‘retained earning’ secara konservatif, dimana dividen yang disetorkan ke negara relatif tidak dipatok tinggi,” jelasnya.

Sebagai catatan, sepak terjang bisnis BUMN Khazanah Nasional selama ini dapat dilihat di Indonesia. Bahkan, Indonesia telah menjadi salah satu pasar penting bagi portfolio produk Khazanah Nasional Bhd.

Selain masuk melalui CIMB (bank), Axiata (telekomunikaasi), jalan tol, Malaysia juga mulai masuk melalui penempatan langsung di group Bluebird.

Total investasi Khazanah di Indonesia sekitar 5% dari total investasi di luar negeri. Posisi itu menempatkan Indonesia di urutan kedua tujuan investasi amalaysia setelah China. Adapun total investasi Malaysia di China sebesar 7% dari total investasi di luar negeri.

Total portfolio Khazanah di seluruh dunia sekitar 45 % dan selebihnya 55% investasi dilakukan di domestik. Total aset Khazanah saat ini mencapai US$37,7 miliar, sementara itu ekuitasnya mencapai US$27,7 miliar.

Tag : bumn
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top