UOB dan BKPM Dorong Investasi China ke Indonesia

PT Bank UOB Indonesia, UOB China, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia bekerja sama untuk menggaet investasi asing dari Negeri Tirai Bambu melalui penyelenggaraan seminar dan pertemuan dengan para investor.
Ilman A. Sudarwan | 09 November 2018 15:20 WIB
Aktivitas di UOB cabang Yangoon. - UOB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Bank UOB Indonesia, UOB China, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia bekerja sama untuk menggaet investasi asing dari Negeri Tirai Bambu melalui penyelenggaraan seminar dan pertemuan dengan para investor.

Lebih dari 120 investor Tiongkok hadir dalam seminar yang diadakan di Guangzhou, China tersebut.Para investor yang hadir diberikan memperoleh informasi mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia serta berbagai kesempatan investasi dari tim ahli UOB Indonesia dan perwakilan BKPM.

Tonny Timor Basry Head of Commercial Banking Bank UOB Indonesia mengatakan bahwa demografi penduduk Indonesia yang relatif muda, serta jumlah angkatan kerja dan kelas menengah yang terus meningkat menjadi salah satu daya tarik utama bagi para investor China.

“Seminar ini kami selenggarakan dengan berkolaborasi bersama BKPM dengan tujuan untuk memberikan berbagai pandangan dan keahlian yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan asal Tiongkok dalam mengendalikan kesempatan dan kompleksitas berbisnis di Indonesia,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Jumat (9/11).

UOB Indonesia, lanjutnya, telah membuat Foreign Direct Investment Advisory Unit sejak 2013 untuk menjembatani potensi investasi China ke Indonesia. Dia menuturkan, unit tersebut menawarkan akses layanan bisnis untuk menghungkan mitra ekosistem investasi di Indonesia,

“FDI Advisory Unit UOB Indonesia menawarkan akses layanan bisnis yang mencakup penghubung dengan mitra ekosistem yang terdiri dari institusi pemerintahan yang terkait, asosiasi industri dan kamar dagang, serta juga dengan insitusi profesional lainnya. Pelayanan FDI kami juga bermitra strategis dengan BKPM sejak tahun 2015,” tuturnya.

Nurul Ichwan, Direktur Fasilitasi Promosi Daerah BKPM, mengatakan bahwa melalui pertemuan tersebut diharapkan para calin investor dapat memperoleh informasi akurat mengenai beberapa sektor industri potensial di Indonesia, seperti manufaktur, infrastruktur, pariwisata, dan ekonomi digital. Selain itu, dia menyatakan bahwa pemerintah juga berkomitmen untuk menyederhanakan dan mempecepat proses bisnis untuk menarik lebih banyak investasi asing.

“Melalui acara ini, kami juga menginformasikan bagaimana kondisi iklim bisnis di Indonesia yang kini bergerak ke arah yang tepat setelah berbagai reformasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia,” ujarnya.

Tiongkok Suan Teck Kin, Chief Economist UOB Group mengatakan bahwa seiring dengan berjalannya inisiatif Belt Road Initiative (BRI) dari Tiongkok, negara-negara ASEAN akan mendapatkan manfaat berupa meningkatnya investasi asing.

“ASEAN akan mendapatkan manfaat dari BRI karena kedekatan geografis antara Tiongkok dengan ASEAN serta sejarah hubungan dagang yang telah terjalin sebelumnya. Populasi ASEAN yang besar, yaitu lebih dari 640 juta penduduk di tahun 2017 atau ketiga terbesar di dunia, dengan lebih dari 50 persen adalah penduduk muda di bawah usia 30 tahun,” jelasnya.

Kondisi demografi tersebut, lanjutnya, menawarkan pasar tenaga kerja yang kompetitif dan potensi pertumbuhan pasar konsumen yang besar. Menuruntya, pasar konsumen muda ASEAN diproyeksikan akan meningkat menjadi 160 juta pada 2030, dari 81 juta di tahun 2013.

Peningkatan ini, menurut dia, sebagian besar didorong oleh meningkatnya pasar konsumen Indonesia yang diperkirakan akan menjadi dua kali lipat atau sebesar 74 juta di tahun 20130 dari 34 juta di tahun 2013.

Selain itu, dia memprediksi ekonomi ASEAN diperkirakan akan tumbuh pesat. Hal itu didasarkan pada pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut pada 10 tahun terakhir. Dia meambahkan, Indonesia memiliki peranan yang cukup vital dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi ASEAN.

“Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN, berkontribusi Produk Domestik Bruto [PDB] sebesar 37 persen terhadap PDB ASEAN di tahun 2017 dan diproyeksikan akan sama dalam beberapa tahun ke depan. Perekonomian Indonesia diproyeksikan akan terus tumbuh stabil dengan angka PDB antara 5,2 hingga 5,4 persen di tahun 2019,” katanya.

Dia menyatakan, potensi serta pertumbuhan ekonomi Indonesia dan komitmen pemerintah untuk meningkatkan proses dan iklim investasi akan terus membuat Indonesia sebagai negara yang menarik bagi investor China yang akan masuk ke ASEAN.

Tag : ekonomi makro
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top