Gara-Gara Impor Minyak, Defisit Transaksi Berjalan Kuartal III Melebar ke 3,37 Persen

Defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III/2018 tercatat meningkat hingga 3,37% terhadap PDB atau senilai US$8,8 miliar, karena terjadi defisit untuk transaksi minyak.
Hadijah Alaydrus | 09 November 2018 17:42 WIB
Sepanjang JanuariAgustus 2018, defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai US4,08 miliar. Pemerintah optimistis hingga akhir tahun ini, kinerja perdagangan bakal membaik. Namun, mungkinkah surplus kembali ditorehkan? Masih adakah peluang itu?

Bisnis.com, JAKARTA – Defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III/2018 tercatat meningkat hingga 3,37% terhadap PDB atau senilai US$8,8 miliar, karena terjadi defisit untuk transaksi minyak.

Defisit ini melebar dari defisit kuartal II/2018 sebelumnya sebesar US$8,0 miliar atau 3,02% terhadap PDB. 

Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia mencatat secara kumulatif defisit neraca transaksi berjalan hingga kuartal III/2018 tercatat 2,86% PDB atau masih berada dalam batas aman.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Agusman menuturkan peningkatan defisit neraca transaksi berjalan dipengaruhi oleh penurunan kinerja neraca perdagangan barang dan meningkatnya defisit neraca jasa. 

"Penurunan kinerja neraca perdagangan barang terutama dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas,"ujar Agusman Jumat (9/11/2018). 

Kondisi ini diikuti oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang nonmigas relatif terbatas akibat tingginya impor karena kuatnya permintaan domestik. 

Dia menambahkan peningkatan defisit neraca perdagangan migas terjadi seiring dengan meningkatnya impor minyak di tengah naiknya harga minyak dunia. 

BI mengakui defisit neraca transaksi berjalan yang meningkat juga bersumber dari naiknya defisit neraca jasa, khususnya jasa transportasi, sejalan dengan peningkatan impor barang dan pelaksanaan kegiatan ibadah haji. 

Meskipun demikian, defisit neraca transaksi berjalan yang lebih besar tertahan oleh meningkatnya pertumbuhan ekspor produk manufaktur dan kenaikan surplus jasa perjalanan seiring naiknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, antara lain terkait penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang.

Posisi defisit transaksi berjalan sebesar 3,37% atau US$8,8 miliar sesuai dengan proyeksi awal BI. 

Dari data yang diperoleh Bisnis, BI memperkirakan defisit transaks berjalan pada kuartal ketiga akan mencapai 3,34% terhadap PDB atau sebesar US$8,8 miliar. 

Proyeksi ini juga sejalan dengan paparan Gubernur BI Perry Warjiyo yang meyakini defisit transaksi berjalan pada kuartal ketiga akan melebar, tetapi tidak melebihi 3,5%. 

Dia meyakini defisit transaksi berjalan akan terus membaik pada kuartal selanjutnya. 

"Kami sudah komunikasikan pada triwulan IV/2018 itu akan menurun sehingga secara keseluruhan pada 2018, perkiraan kami defisit transaksi berjalan akan tetap di bawah 3% terhadap PDB dan 2019 itu di bawah 2,5%," ujar Perry di Gedung BI, Jumat (9/11/2018). 

Tag : defisit transaksi berjalan
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top