Keyakinan untuk Kenaikan Suku Bunga ECB Berkurang

Pelaku pasar keuangan di Zona Euro tidak lagi satu suara mengenai kenaikan suku bunga acuan dari Bank Sentral Eropa (ECB) pada tahun depan.Hal itu memperlihatkan bahwa investor mulai khawatir terkait outlook ekonomi di kawasan mata uang tunggal tersebut.
Dwi Nicken Tari | 20 November 2018 17:29 WIB
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku pasar keuangan di Zona Euro tidak lagi satu suara mengenai kenaikan suku bunga acuan dari Bank Sentral Eropa (ECB) pada tahun depan. Hal itu memperlihatkan bahwa investor mulai khawatir terkait outlook ekonomi di kawasan mata uang tunggal tersebut. 

Reuters melaporkan, konsensus pasar untuk kenaikan suku bunga ECB sebesar 10% pada Desember 2019 telah turun menjadi 95% pada Selasa (20/11/2018), dari sebelumnya 100%.

Perubahan ini pun menjadi substansial dibandingkan sebulan lalu, ketika pasar sepenuhnya memperkirakan ECB menaikkan suku bunga pertamanya pada September 2019. 

Adapun yang menyebabkan ekspektasi kenaikan suku bunga berkurang itu adalah volatilitas pasar saham dan tensi antara Italia dengan UE.

Terbaru, Wakil PM Italia Luigi Di Maio menyampaikan bahwa solusi untuk ketegangan antara Italia dengan Komisi Eropa terkait proposal anggaran Italia dapat ditemukan, tapi beberapa isu penting di dalam perselisihan (target defisit dan pertumbuhan ekonomi Italia) tersebut tidak boleh disentuh.

Saat ini, Italia masih berada di jalan buntu karena tidak mau merevisi proposal anggaran untuk tahun depan yang ditolak oleh Komisi Eropa.

Brussels menyebut paket yang ditawarkan Italia itu tidak akan dapat menekan laju pertumbuhan utang, seperti yang disarankan oleh UE. Akan tetapi, Roma justru tetap teguh dengan rencana anggarannya walau mendapat tekanan dari Komisi Eropa dan beberapa negara lain di Zona Euro.

“Saya tidak tahu apa yang akan diputuskan Komisi [Eropa], tapi jika mereka terbuka untuk perundingan, sebuah solusi—yang tidak boleh mengganggu isi utama proposal anggaran—dapat ditemukan,” ujar Di Maio kepada Radio Rai1 seperti dikutip Reuters, Selasa (20/11/2018).

Adapun spread antara obligasi Italia bertenor 10 tahun dengan obligasi Jerman (bund) menguat hampir 335 bps pada Selasa (20/11/2018) setelah pernyataan Di Maio tersebut, atau tidak jauh dari level tertinggi yang dapat dicapainya bulan lalu sebesar 340 bps.

“Italia tentu akan membayar konsekuensi dari [melanggar aturan] UE, yang menjadi penghalang,” imbuh Di Maio ketika ditanya apakah pemerintah khawatir dengan menempatkan tabungan masyarakat Italia menjadi berisiko.

Adapun, dalam proposal anggarannya, Pemerintah Italia menargetkan defisit anggaran tumbuh 2,4% terhadap PDB pada tahun depan, atau tetap berada di bawah syarat atas yang ditetapkan UE sebesar 3%. Tapi Italia menolak untuk mengurangi pinjamannya.

Menilai hal itu, Kepala Menteri Keuangan Zona Euro Mario Centeno mengungkapkan bahwa Italia dapat memacu pertumbuhan ekonominya yang lambat tanpa mempertaruhkan konsolidasi pembiayaan publik.

“Saya mengerti dan paham mengenai kekhawatiran Italia mengenai pertumbuhan yang lambat dan isu sosial yang kompleks. Tapi semuanya bisa dicapai tanpa melewati jalan menempatkan konsolidasi fiskal ke dalam risiko,” ujar Centeno di hadapan komite ekonomi Parlemen Eropa.

Dia mengingatkan, masa krisis telah membuat Zona Euro belajar bahwa setiap negara yang berbagi aturan ekonomi dan moneter memiliki kewajiban untuk membuat kebijakan yang bertanggung jawab dan tidak melangkah sendiri-sendiri.

“[Aturan fiskal] bukan hanya kepentingan negara secara individual, tapi juga kepentingan bersama [Zona Euro],” ujarnya.

Tag : ecb
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top