The Fed Berpeluang Tahan Penaikan Suku Bunga

Bank Sentral AS (Federal Reserve) dinilai akan berhati-hati untuk terus menaikkan suku bunga pada tahun depan Pasalnya, prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global, berkurangnya manfaat stimulus fiskal di AS, dan volatlitas pasar keuangan akan menjadi tantangan bagi para pembuat kebijakan setelah menaikkan suku bunga pada bulan depan ke wilayah netral, atau mendekati netral.
Dwi Nicken Tari | 22 November 2018 07:41 WIB
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Bank Sentral AS (Federal Reserve) dinilai akan berhati-hati untuk terus menaikkan suku bunga pada tahun depan Pasalnya, prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global, berkurangnya manfaat stimulus fiskal di AS, dan volatlitas pasar keuangan akan menjadi tantangan bagi para pembuat kebijakan setelah menaikkan suku bunga pada bulan depan ke wilayah netral, atau mendekati netral.

Adapun investor telah mengurangi suaranya mengenai seberapa banyak The Fed akan mengerek suku bunga pada tahun depan. Hal itu dilakukan setelah The Fed memperdengarkan nada-nada dovish dalam beberapa pekan terakhir. 

Sementara itu, konsensus untuk kenaikan suku bunga pada Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Desember masih kuat di atas level 70%.

Gene Tannuzzo, Fund Manager dan Global Head of Fixed Income di Columbia Threadneedle Investments menilai, Desember mungkin terlalu dini bagi The Fed untuk berhenti sementara dari kenaikan suku bunga.

“Tapi kami yakin hal itu akan terjadi pada paruh pertama tahun depan. Pasar perlu menyesuaikan dengan pertumbuhan yang lebih rendah dan kenaikan suku bunga yang lebih lambat,” katanya, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (22/11/2018).

Hal itu pun kemungkinan akan menjadi berita baik bagi pasar saham yang telah terguncang setelah aksi jual. Indeks S&P 500 telah anjlok sekitar 10% dari puncaknya pada September karena berbagai pemicu, mulai dari kekhawatiran perang dagang AS—China hingga keraguan akan valuasi saham teknologi.

Spread obligasi korporasi pun melebar karena investor menghindari aset-aset berisiko.

Sebelumnya, The Fed dalam FOMC September telah memperkirakan bakal menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun depan. Adapun perkiraan itu nantinya dijadwalkan untuk diperbarui pada FOMC 18—19 Desember 2018.

“[Dengan penurunan harga saham dan kontraksi pertumbuhan di Jerman dan Jepang pada kuartal III/2018], saya tidak akan heran jika The Fed mundur dari kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2019,” ujar Donald Ellenberger, Senior Portofolio Manager di Federated Investors Inc.

Senada, Senior Fund Manager di Insight Investment Gautam Khanna memaparkan, meningkatnya volatilitas pasar keuangan dapat menahan The Fed untuk melanjutkan kenaikan suku bunga pada 2019. 

Adapun secara kolektif, pedagang di pasar kontrak derivatif mata uang memperkirakan hanya ada satu kenaikan suku bunga pada tahun depan dan probabilitas pengetatan sebesar 0,33%, atau turun dari 0,50% pada awal bulan ini.

Sementara beberapa pengamat The Fed lainnya,termasuk Michael Feroli dari JPMorgan Chase&Co, Jan Hatzius dari Goldman Sachs Group Inc., dan Ethan Harris dari BofA Merrill Lynch tetap memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada 2019 sebanyak empat kali ditopang oleh kuatnya ekonomi domestik AS dan rendahnya tingkat pengangguran di sana.

Adapun Gubernur Fed Jerome Powell pekan lalu menyampaikan bahwa para pembuat kebijakan akan mencermati kondisi pasar keuangan, bisnis, dan ekonomi dalam merespon kredit seiring dengan FOMC menilai kembali seberapa jauh dan seberapa cepat kenaikan suku bunga.

“Perdebatannya kali ini bukanlah mengenai kenaikan pada Desember, tapi mengenai kapan mereka [The Fed] akan berhenti pada tahun depan. Ini semua akan bertopang pada data dan akan menentukan karena tahun depan semakin dekat,” ujar Harris dari Bank of America Merrill Lynch.

 
 
 
Tag : the fed
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top