Zona Euro Kehilangan Momentum, ECB Tetap Ketatkan Moneter

Hilangnya momentum pertumbuhan ekonomi di Zona Euro dianggap normal dan tidak cukup kuat untuk menghentikan langkah pengetatan moneter dari Bank Sentral Eropa (ECB).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 27 November 2018  |  14:43 WIB
Zona Euro Kehilangan Momentum, ECB Tetap Ketatkan Moneter
Mario Draghi - Reuters/Francois Lenoir

Bisnis.com, JAKARTA—Hilangnya momentum pertumbuhan ekonomi di Zona Euro dianggap normal dan tidak cukup kuat untuk menghentikan langkah pengetatan moneter dari Bank Sentral Eropa (ECB).

Hal itu disampaikan oleh Gubernur ECB, Mario Draghi kepada Komite Hubungan Ekonomi di Parlemen Eropa, bahwa perlambatan yang terjadi belakangan ini hanyalah untuk sementara.

“Perlambatan gradual itu normal karena ekspansi mulai matang dan pertumbuhan bergerak menyentuh level potensial jangka panjangnya,” kata Draghi di Brussels, Belgia, seperti dikutip Reuters, Selasa (27/11/2018).

Adapun, indikator ekonomi Zona Euro memang tampil mengecewakan sejak musim panas tahun ini. Bahkan, pertumbuhan Jerman selaku ekonomi terbesar di Benua Biru sempat berkontraksi pada kuartal III/2018.

Hal itu pun menimbulkan kekhawatiran mengenai langkah pengetatan yang akan diambil oleh bank sentral, yaitu kemungkinan untuk tetap memangkas stimulus di tengah kondisi yang memburuk.

“Beberapa perlambatan mungkin hanya sementara. Faktanya, data terbaru menunjukkan normalisasi untuk produksi industri mobil, yang sebelumnya terkena hambatan faktor one-off,” imbuh Draghi.

Namun demikian, data keyakinan bisnis di Jerman yang dirilis pada Senin (26/11/2018) masih menunjukkan pelemahan, yang artinya ekonomi Zona Euro dapat kian melemah pada kuartal ini kendati potensi rebound masih ada.

Data German Ifo Business Climate tercatat turun menjadi 102,0, dari bulan sebelumnya, atau lebih rendah daripada yang diperkirakan di level 102,3. 

Di sisi lain, Draghi bersama Kepala Ekonom ECB Peter Praet dan anggota Dewan Gubernur ECB Sabine Lautenschlaeger kompak menyampaikan bahwa keputusan untuk menghentikan pembelian obligasi senilai 2,6 triliun euro tetap tidak berubah ditopang oleh tekanan inflasi dan kekuatan pasar pekerja.

Adapun ECB akan memutuskan untuk menghentikan program pembelian obligasi tersebut dalam rapat kebijakan pada 13 Desember 2018.

Selain itu, Kepala Ekonom ECB Peter Praet menambahkan, ECB juga akan menyediakan panduan lanjutan mengenai bingkai waktu pelaksanaan investasi ulang (reinvestasi) obligasi yang telah jatuh tempo.

Adapun dengan berhentinya program pembelian obligasi pada Desember, reinvestasi akan menjadi perangkat kunci bagi bank sentral untuk menggerakkan harga pasar.

Saat ini, panduan ECB kepada pasar untuk reinvestasi adalah dengan “periode yang diperpanjang” (extended period) yang mana diartikan oleh pasar sebagai jangka 2—3 tahun.

“Di pertemuan Dewan Gubenur berikutnya, kami akan menjelaskan sedikit tentang yang kami maksud sebagai “periode yang diperpanjang”,” ujar Praet.

Lebih lanjut, ketika ditanya oleh politisi di Parlemen Eropa mengenai dampak “merusak” yang dapat disebabkan oleh kebijakan moneter ECB, Draghi memberikan jawaban yang sedikit tegas.

“Kebijakan kami memiliki konsekuensi yang merusak? Ya, [kebijakan ECB] telah menciptakan 9,5 juta lapangan kerja dalam beberapa tahun terakhir. Pemulihan ekonomi Zona Euro berutang kepada kebijakan moneter ECB,” ujar Draghi merespons komentar dari Gerolf Annemans.

Annermans yang merupakan anggota partai sayap-kanan di Belgia, Vlaams Belang, menilai bahwa kebijakan ECB hanya mendukung beberapa sektor tertentu dan dapat menyebabkan “kerusakan signifikan” untuk sektor peternakan dan properti. Dia juga menuding bahwa keputusan ECB untuk menghentikan pembelian obligasi terlalu mendadak.

“Di dalam mendesain kebijakan moneter untuk seluruh Zona Euro, artinya seluruh negara tanpa terkecuali dan seluruh sektor. Ini bukan kebijakan moneter yang menargetkan untuk sektor spesifik, di mana tingkat suku bunga disesuaikan untuk sektor tertentu. Itu seperti Uni Soviet bukan kebijakan ekonomi pasar terbuka yang normal,” ujar Draghi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ecb

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top